9 Jumadil-Awwal 1444  |  Sabtu 03 Desember 2022

basmalah.png

Umar Bin Khattab Menegur Orang yang tak Mau Bekerja

Umar Bin Khattab Menegur Orang yang tak Mau Bekerja

Fiqhislam.com - Khalifah Umar bin Khattab dikenal sebagai pemimpin yang zuhud. Meski demikian, dia  juga seorang pemimpin yang pekerja keras.

Bahkan, dia akan menegur jika ada umat Islam yang tidak bekerja untuk mencari rezeki. Sebagai salah satu contohnya, Umar pernah menegur salah seorang sahabat bernama Abu Hurairah yang juga dikenal sebagai sahabat yang zuhud karena tidak bekerja.

Dalam buku Umar bin Khattab Sang Legenda karya Yahya bin Yazid Al-Hukmi Al-Faifi terbitan Medhatama Resfyan (2012), dituliskan suatu ketika, Umar bin Kahttab bertemu dengan Abu Hurairah dan bertanya kepadanya, "Apakah engkau tidak bekerja?" Abu Hurairah menjawab, "Saya tidak mau bekerja."

Umar lalu berkata, "Ada yang melamar pekerjaan, orangnya lebih baik darimu, namanya Nabi Yusuf AS."

Lalu, Umar membacakan salah satu ayat dalam Alquran yang menguatkan perkataannya itu, "Berkata Yusuf, "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (QS: Yusuf (12):55).

 

Umar Bin Khattab Menegur Orang yang tak Mau Bekerja

Fiqhislam.com - Khalifah Umar bin Khattab dikenal sebagai pemimpin yang zuhud. Meski demikian, dia  juga seorang pemimpin yang pekerja keras.

Bahkan, dia akan menegur jika ada umat Islam yang tidak bekerja untuk mencari rezeki. Sebagai salah satu contohnya, Umar pernah menegur salah seorang sahabat bernama Abu Hurairah yang juga dikenal sebagai sahabat yang zuhud karena tidak bekerja.

Dalam buku Umar bin Khattab Sang Legenda karya Yahya bin Yazid Al-Hukmi Al-Faifi terbitan Medhatama Resfyan (2012), dituliskan suatu ketika, Umar bin Kahttab bertemu dengan Abu Hurairah dan bertanya kepadanya, "Apakah engkau tidak bekerja?" Abu Hurairah menjawab, "Saya tidak mau bekerja."

Umar lalu berkata, "Ada yang melamar pekerjaan, orangnya lebih baik darimu, namanya Nabi Yusuf AS."

Lalu, Umar membacakan salah satu ayat dalam Alquran yang menguatkan perkataannya itu, "Berkata Yusuf, "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (QS: Yusuf (12):55).

 

Kisah Umar dengan Para Pejabatnya

Kisah Umar dengan Para Pejabatnya


Fiqhislam.com - Semasa menjadi khalifah, Umar bin Khattab selalu memerintahkan para pejabatnya berlaku lebih bijaksana dan adil. Mereka dituntut memberikan pengabdian dan kasih sayang kepada rakyat.

Dikutip dari buku karya Muhammad Husain Haikal, Umar sang Amirul Mukminin pernah mengirimkan pejabatnya ke orang-orang Arab pedalaman. Kepada mereka Umar berkata, "Perlakukanlah semua orang di tempat kalian itu sama. Yang dekat seperti yang jauh dan yang jauh seperti yang dekat. Hati-hatilah terhadap suap dan menjalankan hukum karena hawa nafsu dan bertindak di waktu marah. Tegakkan dengan benar walaupun sehari hanya sesaat."

Sebagai pemegang pucuk kepemimpinan kaum Muslimin, Umar merasa bertanggung jawab kepada hati nuraninya dan kepada Allah SWT. Dia memiliki beban untuk menegakkan keadilan di segala tempat. Umar merasa jika ada pejabatnya di ujung dunia mana pun yang merugikan seseorang maka dialah yang berbuat zalim.

Umar pernah berkata, "Bagaimana kalau saya menempatkan orang yang terbaik yang saya ketahui atas kalian lalu saya perintahkan dia berlaku adil. Sudahkah saya menjalankan tugas saya?" Mereka menjawab: "Ya." Umar segera merespons jawaban mereka, "Tidak. Sebelum saya melihat sendiri pekerjaannya, dia melaksanakan sendiri pekerjaannya, dia melaksanakan apa yang saya perintahkan atau tidak."

Tidak mengherankan jika Umar mengawasi pejabatnya begitu ketat. Kita bisa lihat bagaimana Umar memecat Khalid bin Walid dan upayanya menyelidiki Amr bin Ash. Ketika berada di Syam, Abu Ubaidah dikisahkan sempat memberi kelapangan kepada keluarganya. Setelah Umar mengetahui, penghasilannya di kurangi sehingga raut wajah Abu Ubaidah berubah pucat.

Setiap musim haji, Umar mengumpulkan para pejabatnya di Makkah. Amirul Mukminin bertanya tentang tugas-tugas mereka. Umar pun menginginkan para pejabatnya untuk jeli dalam menjalankan kewajiban.

Tidak hanya itu, Umar menginginkan agar mereka berintegritas. Umar menanyakan bagaimana mereka menggunakan penghasilan untuk diri sendiri dan keluarganya. Umar pun menghitung kekayaan semua pejabat sebelum dan setelah memangku jabatan. Adakalanya kekayaan itu dirampas sambil mengatakan kepada mereka: "Kami mengirim kalian sebagai pejabat, bukan sebagai pedagang!"

Meski demikian, ketatnya pengawasan Umar tak dimaksudkan untuk merendahkan dan melemahkan kewibawaan mereka. Para gubernur diberi kekuasaan penuh. Keputusan-keputusan mereka bahkan berlaku sama dengan kekuasaan Umar. Dengan catatan, sepanjang mereka menjalankan keadilan dan berpegang teguh terhadap nilai-nilai Alquran dan Sunnah.

Penduduk Irak pernah me lem pari pemimpin mereka dengan batu-batu kerikil sebagai simbol penghinaan. Umar pun amat marah. Ia mengingatkan kepada mereka: "Bersiap-siaplah untuk penduduk Irak karena setan sudah bertelur dan sudah menetas di tengah-tengah mereka."

Umar juga menerima argumen para pejabatnya manakala sesuai dengan akal sehat. Dia pernah datang dengan keledai ke Syam untuk mengunjungi Muawiyyah bin Abi Sufyan yang menyambutnya dalam sebuah pawai besar-besaran. Mu'awiyyah turun dan memberi salam kepada Umar sebagai khalifah. Namun, Umar terus berlalu tanpa membalas salamnya.

Abdurrahman bin Auf pun menegur Umar. "Amirul Mukminin, Anda membuatnya tersinggung. Coba ajak dia bicara! Umar menoleh kepada Mu'awiyyah sambil bertanya, "Anda yang memimpin pawai yang saya lihat itu?" "Ya," jawab Mu'awiyyah. "Anda suka menyembunyikan diri padahal banyak orang yang memerlukan bantuan menunggu anda!" "Ya," jawab Mu'awiyyah. "Mengapa begitu?"

"Karena di negeri ini banyak mata-mata musuh. Kalau kami tidak mengadakan persiapan dan perlengkapan, mereka akan menganggap kami sepele dan akan menyerang kami. Perihal kami tidak menampakkan diri, sebenarnya kami khawatir, dengan berpakaian lusuh, rakyat akan bersikap kurang ajar, padahal saya pejabat tinggi Anda. Kalau Anda meminta saya mengurangi, akan saya kurangi. Kalau Anda menyuruh saya menambah, akan saya tambah. Dan kalau Anda minta hentikan, saya akan hentikan."

Setelah diam sejenak, Umar berkata, "Setiap saya menanyakan sesuatu kepada Anda, anda selalu mendapat jalan keluarnya. Kalau Anda jujur, pendapat itu memang dapat diterima akal. Tetapi, kalau Anda berdusta, maka itu tipu muslihat yang cerdik sekali. Saya tidak memerintahkan dan tidak pula melarang Anda." Umar pun senang ketika melihat para pejabatnya mencurahkan perhatian demi kepentingan dan kebaikan rakyat. Saat mengangkat Umair bin Sa'd menjadi gubernur Homs, dia menulis: "Datanglah bersama rampasan perang yang Anda peroleh untuk pasukan Muslimin."

Setelah orang itu datang, ia ditanya apa yang sudah dilakukannya. "Anda mengirim saya sampai di kota itu. Saya mengum pulkan penduduk yang baik-baik dan saya serahkan pengumpulan rampasan itu kepada mereka. Sesudah terkumpul, semua saya letakkan di tempatnya. Kalau masih ada yang dapat di bagi untuk di sini, tentu saya bawa kemari."

Umar pun berkata, "Umair telah membuat era baru." Di dalam buku Khutbah Na sihat 4 Sahabat Rasulullah SAW karya Thaha Abdullah al-'Afifi, Umar kerap berdoa agar para pejabatnya agar berlaku adil.

Dalam salah satu khutbah Jumat, Umar berkata, "Ya Allah, jadilah saksi atas amir-amirku yang aku tugaskan di berbagai tempat. Sesungguhnya aku mengutus mereka supaya mereka mengajari orang-orang tentang agama dan sunah Nabi mereka. Supaya mereka membagikan harta rampasan fa'i dengan benar, berlaku adil. Dan apabila ada masalah mengenai amir-amirku tersebut, hendaknya orang-orang melaporkannya kepadaku."

"Wahai manusia. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengutus para utusan untuk memukul dan melukai kulit kalian atau mengambil harta kalian. Tetapi, aku mengutus mereka kepada kalian supaya mereka mengajari kalian tentang agama kalian dan sunah-sunah Nabi kalian. Siapa saja yang menyalahi tugasnya tersebut, hendaknya ada yang melaporkannya kepadaku. Demi Zat yang diri Umar berada dalam kekuasaan-Nya, aku akan menghukumnya dengan hukuman yang sepadan." [yy/republika]