<
pustaka.png
basmalah.png

Benarkah Pahala Bacaan Al-Quran Tidak Sampai kepada Mayit?

Benarkah Pahala Bacaan Al Quran Tidak Sampai kepada Mayit?

Fiqhislam.com - Salah satu khilafiyah yang sering dibicarakan masyarakat adalah masalah mengirim pahala bacaan Al Quran untuk mayit. Sebagian kalangan menolak hal itu bahkan menghukuminya sebagai perbuatan bid'ah. Dan sebagian kalangan lainnya menganggap hal itu termasuk sesuatu yang dibolehkan dalam agama.

Hal ini wajar saja terjadi di masyarakat kita, sebab masalah mengirim pahala untuk mayit ini memang termasuk permasalahan khilafiyah yang dari dulu para ulama-ulama kita sudah berbeda pendapat.

Sebenarnya yang didebatkan para ulama salaf bukan masalah boleh atau tidaknya mengirim pahala bacaan Al Quran untuk mayit. Tetapi lebih kepada apakah bacaan Al Quran yang dihadiahkan pahalanya untuk mayit itu sampai atau tidak pahalanya.

Nah, para ulama salaf kita berbeda pendapat dalam masalah ini. Dan perlu kita ketahui bahwa masalah ini sudah dibahas oleh ulama kita secara detail di dalam kitab-kitab turost mereka masing-masing. Bahkan para ulama kita juga telah menjelaskannya secara rapi beserta dalil-dalilnya.

Kita sebagai orang awam akan ilmu agama dan bahkan sangat awam sekali akan dalil-dalil, maka cukup bagi kita untuk merujuk kepada aqwal para ulama salaf saja. Kita tidak usah capek-capek mencari dalil-dalil yang kita gunakan untuk memperkuat pendapat kita. Karena memang para ulama kita ketika membahas suatu permasalahan ya yang mereka pakai adalah dalil-dalil dari Al Quran dan hadits.

Jika kita mau membaca kitab-kitab turost yang ditulis oleh para ulama-ulama kita maka akan ditemukan pembahasan menarik mengenai hal ini. Mungkin penyakit kita selama ini belajar agama hanya mendengar orang bilang katanya katanya saja. Tanpa menyebut sumber aslinya dari kitab apa dan ulama siapa yang mengatakannya.

Maka dari itu mari kita budayakan semangat untuk membaca dan mempelajari kitab-kitab turots para ulama kita. Dengan demikian berarti kita telah mengikuti ajaran para ulama salaf yang mana mereka ini adalah para ahli waris Nabi.

Di dalam tulisan ini akan saya paparkan beberapa pendapat para ulama-ulama salaf dan sebagian fatwa ulama kontemporer mengenai apakah pahala bacaan Al Quran itu sampai kepada mayit jika kita niatkan pahalanya untuk si mayit.

Ulama yang Mengatakan Pahala Bacaan Al Quran Sampai kepada Mayit:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di dalam kitab Majmu' Al-Fatawa juz 24 halaman 367:

وأما القراءة والصدقة وغيرهما من أعمال البر فلا نزاع بين علماء السنة والجماعة في وصول ثواب العبادات المالية كالصدقة والعتق كما يصل إليه أيضا الدعاء والاستغفار والصلاة عليه صلاة الجنازة والدعاء عند قبره. وتنازعوا في وصول الأعمال البدنية: كالصوم والصلاة والقراءة. والصواب أن الجميع يصل إليه

Artinya:
Adapun bacaan Al Quran, sedekah dan ibadah lainnya termasuk perbuatan baik dan tidak ada pertentangan di kalangan ulama ahli sunnah wal jamaah bahwa sampainya pahala ibadah maliyah seperti sedekah dan membebaskan budak. Begitu juga dengan doa, istighfar, shalat dan doa di kuburan. Akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang sampai atau tidaknya pahala ibadah badaniyah seperti puasa, shalat dan bacaan. Pendapat yang benar adalah semua amal ibadah itu sampai kepada mayit.

Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menyebutkan bahwa pendapat yang mengatakan bahwa pahala bacaan Al Quran itu sampai kepada mayit adalah pendapat dari Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Ahmad Bin Hanbal. Berikut ini adalah perkataan beliau dalam kitab Majmu' Al-Fatawa :

وتنازعوا في وصول الأعمال البدنية: كالصوم والصلاة والقراءة. والصواب أن الجميع يصل إليه فقد ثبت في الصحيحين عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: {من مات وعليه صيام صام عنه وليه} وثبت أيضا: {أنه أمر امرأة ماتت أمها وعليها صوم أن تصوم عن أمها} . وفي المسند عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لعمرو بن العاص: {لو أن أباك أسلم فتصدقت عنه أو صمت أو أعتقت عنه نفعه ذلك} وهذا مذهب أحمد وأبي حنيفة وطائفة من أصحاب مالك والشافعي

Artinya:
Para ulama berbeda pendapat tentang sampai atau tidaknya pahala ibadah badaniyah seperti puasa, shalat dan bacaan. Pendapat yang benar adalah semua amal ibadah itu sampai kepada mayit. Karena diriwayatkan bahwa Nabi pernah bersabda: "Barang siapa yang meninggal dan dia punya utang puasa maka boleh bagi walinya untuk berpuasa atas si mayit". Dan ini adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Hanifah dan beberapa ulama Malikiyah dan Syafi'iyah.

Salah satu khilafiyah yang sering dibicarakan masyarakat adalah masalah mengirim pahala bacaan Al Quran untuk mayit. Sebagian kalangan menolaknya dan menghukuminya sebagai perbuatan bid'ah. Sebagian lainnya menganggapnya sesuatu yang dibolehkan dalam agama.

Berikut Ulama yang Mengatakan Pahala Bacaan Al Quran Sampai kepada Mayit:

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa pahala bacaan Al Quran itu sampai kepada mayit. Hal ini beliau jelaskan di dalam kitab Ar-Ruh halaman 122:

هذه النصوص متظاهرة على وصول ثواب الأعمال إلى الميت إذا فعلها الحي عنه وهذا محض للقياس فإن الثواب حق للعامل فإذا وهبه لأخيه المسلم لم يمنع من ذلك كما لم يمنع من هبة ماله في حياته وإبرائه له من بعد موته وقد نبه النبي بوصول ثواب الصوم الذي هو مجرد ترك ونية تقوم بالقلب لا يطلع عليه إلا الله وليس بعمل الجوارح على وصول ثواب القراءة التي هي عمل باللسان تسمعه الأذن وتراه العين بطريق الأولى. ويوضحه أن الصوم نية محضة وكف النفس عن المفطرات وقد أوصل الله ثوابه إلى الميت فكيف بالقراءة التي هي عمل ونية بل لا تفتقر إلى النية فوصول ثواب الصوم إلى الميت فيه تنبيه على وصول سائر الأعمال. والعبادات قسمان مالية وبدنية وقد نبه الشارع بوصول ثواب الصدقة قال على وصول ثواب سائر العبادات المالية ونبه بوصول ثواب الصوم على وصول ثواب سائر العبادات البدنية وأخبر بوصول ثواب الحج المركب من المالية والبدنية فالأنواع الثلاثة ثابتة بالنص والاعتبار. وبالله التوفيق ( كتاب الروح لابن القيم الجوزية, ص : 122

Artinya:
Dalil-dalil ini sangat jelas sekali bahwa amal ibadah itu sampai kepada mayit jika yang melakukan adalah orang yang masih hidup. Jika orang itu menghadiahkan pahalanya buat saudaranya maka pahalanya sampai seperti sampainya pahala puasa sebagaimana yang dijelaskan oleh nabi. Allah telah menyampaikan pahala puasa bagi mayit maka begitu juga dengan pahala bacaan. Ibadah itu dibagi menjadi dua. Yaitu ibadah amaliyah dan ibadah badaniyah. Sungguh Allah telah menjelaskan tetang sampainya pahala ibadah maliyah seperti sedekah dan pahala badaniyah seperti puasa dan begitu juga pahala haji yang merupakan ibadah badaniyah sekaligus ibadah maliyah. Dan Hal ini berdasarkan nash nash yang ada.

Syaikh Al-Utsaimin

Syaikh Al-Utsaimin mengatakan bahwa pahala bacaan Al Quran itu sampai kepada mayit. Hal ini beliau jelaskan di dalam majmu fatawa dan wa rosail beliau sebagai berikut:

الناس على قولين معروفين: أحدهما: أن ثواب العبادات البدنية من الصلاة والقراءة ونحوهما يصل إلى الميت كما يصل إليه ثواب العبادات المالية بالإجماع وهذا مذهب أبي حنيفة وأحمد وغيرهما وقول طائفة من أصحاب مالك والشافعي وهو الصواب لأدلة كثيرة ذكرناها في غير هذا الوضع. والثاني: أن ثواب العبادة البدنية لا يصل إليه بحال وهو المشهور عند أصحاب الشافعي ومالك. ( مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين .ج 7 / ص 159

Artinya:
Ada dua pendapat di antara ulama, yang pertama bahwa pahala ibadah badaniyah seperti shalat dan bacaan Al Quran itu sampai kepada mayit sebgaimana sampainya pahala ibadah maliyah. Dan ini adalah madzhab Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal dan sebagian ulama Syafiiyah dan Malikiyah. Dan ini adalah pendapat yang benar berdasarkan dalil-dalil. Pendapat yang kedua mengatakan tidak sampainya ibadah badaniyah. Dan ini pendapat masyhur Imam Syafi'iy dan Imam Malik.

Syaikh Nashiruddin Al-Albani

Syaikh Nashiruddin Al-Albani mengatakan bahwa pahala bacaan Al Quran itu sampai kepada mayit jika yang membacanya adalah seorang anak yang menghadiahkan pahalanya untuk orangtuanya. Adapun bacaan Al Quran yang dibaca oleh orang lain maka tidak sampai pahalanya. Berikut perkataan beliau dalam salah satu sesi tanya jawab:

قال الشيخ الألباني : إذا كان الذي يقرأ القران هو الولد للموتى سواء كان أبا او اما فهذه القراءة تنفع وأما من سوى الأولاد فلا تنفع قراءتهم

Artinya:
Berkata Syaikh Nashiruddin Al-Albani "Jika yang membaca Al Quran itu adalah seorang anak untuk bapak dan ibunya maka bacaannya bermanfaat bagi si mayit. Adapun jika orang lain yang membacanya maka tidak bermanfaat bacaan mereka itu bagi si mayit.

Al-Allaamah Ibnu Abi Al-Izz Al-Hanafi

Al-Allaamah Ibnu Abi Al-Izz Al-Hanafi telah menjelaskan di dalam kitab Syarh Al-Akidah At-Thohawiyah halaman 452 bahwa para ulama salaf berbeda pendapat mengenai hal ini. Beliau menyebutkan bahwa Al-Imam Abu Hanifah dan Al-Imam Ahmad Bin Hanbal berpendapat bahwa pahala bacaan Al Quran itu sampai kepada mayit. Dan ini adalah pendapat jumhur ulama salaf. Adapun yang Masyhur dari Al-Imam Syafi'i dan Al-Imam Malik adalah tidak sampai bacaan Al Quran yang dihadiahkan ke mayit.

Al-Imam An-Nawawi

Al-Imam An-Nawawi di dalam kitab Al-Adzkar halaman 278 menjelaskan perbedaan ulama mengenai hal ini. Adapun pendapat beliau sendiri adalah bahwa pahala bacaan Al Quran itu sampai kepada mayit.

واختلف العلماء في وصول ثواب قراءة القرآن، فالمشهور من مذهب الشافعي وجماعة أنه لا يصل. وذهب أحمد بن حنبل وجماعة من العلماء وجماعة من أصحاب الشافعي إلى أنه يصل، والاختيار أن يقول القارىء بعد فراغه: "اللهم أوصل ثواب ما قرأته إلى فلان، والله أعلم. ( الأذكار, ص : 278

Artinya:
Para ulama berbeda pendapat mengenai sampainya pahala bacaan Al Quran. Yang masyhur dari Imam Syafi'i adalah tidak sampai. Adapun Imam Ahmad bin Hanbal dan beberapa ulama Syafiiyah mengatakan sampai pahalanya. Maka pendapat yang terpilih sebaiknya seorang yang membaca Al Quran hendaknya membaca doa "Ya Allah sampaikanlah pahala bacaan ini kepada fulan".

Di dalam kitab Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab juga beliau jelaskan sebagai berikut:

والمختار الوصول إذا سأل الله أيصال ثواب قراءته، وينبغى الجزم به لانه دعاء، فإذا جاز الدعاء للميت بما ليس للداعى، فلان يجوز بما هو له أولى، ويبقى الامر فيه موقوفا على استجابة الدعاء، وهذا المعنى لا يخص بالقراء بل يجرى في سائر الاعمال، والظاهر أن الدعاء متفق عليه انه ينفع الميت والحى القريب والبعيد بوصية وغيرها. ( المجموع, ج : 15, ص : 522

Artinya:
Pendapat pilihan kami adalah sampainya pahala bacaan jika seseorang meminta kepada Allah untuk menyampaikan pahalanya. Karena ini termasuk doa. Dan doa itu termasuk perkara yang disepakati kebolehannya dan si mayit mendapatkan manfaat dari doa tersebut.

Al-Imam Ibnu Qudamah

Al-Imam Ibnu Qudamah mengatakan di dalam kitab Al-Mughni juz 2 halaman 423 bahwa bacaan Al Quran itu sampai kepada mayit. Berikut perkataan beliau:

وهذه أحاديث صحاح، وفيها دلالة على انتفاع الميت بسائر القرب؛ لأن الصوم والحج والدعاء والاستغفار عبادات بدنية، وقد أوصل الله نفعها إلى الميت، فكذلك ما سواها

Artinya:
Ini adalah dalil-dalil yang sahih yang menunjukkan bahwa mayit dapat menerima manfaat pahala semua ibadah. Karena puasa, haji, doa, istighfar adalah ibadah badaniyah. Sungguh Allah telah menyampaikan pahalanya kepada si mayit. Begitu juga pahala ibadah lainnya.

Salah satu khilafiyah yang sering dibicarakan masyarakat adalah masalah mengirim pahala bacaan Al Quran untuk mayit. Sebagian kalangan menolaknya dan menghukuminya sebagai perbuatan bid'ah. Sebagian lainnya menganggapnya sesuatu yang dibolehkan dalam agama.

Sebelumnya telah dipaparkan ulama-ulama yang menyatakan bahwa pahala bacaan Al Quran sampai kepada mayit.


Adapun ulama yang mengatakan bahwa pahala bacaan Al Quran itu tidak sampai kepada mayit:

1. Al-Imam Ibnu Katsir

Al-Imam Ibnu Katsir berpendapat bahwa pahala bacaan Al Quran itu tidak sampai kepada mayit. Hal ini beliau jelaskan di dalam kitab beliau yaitu kitab Tafsirul Quranil Adzim atau yang lebih dikenal dengan tafsir ibnu katsir. Ini kutipan perkataan beliau dalam kitab tafsir juz 7 halaman 465 :

"Allah berfirman: 'Dan tidaklah manusia itu mendapatkan sesuatu kecuali dari apa yang dia kerjakan". Maka Imam Syafi'i menyimpulkan bahwa bacaan Al Quran itu tidak sampai. Karena Rasulullah SAW tidak pernah menganjurkannya. Bahkan para sahabat pun tidak melakukannya. Seandainya itu adalah perkara yang baik pastilah mereka segera melakukannya."

2. Syeikh Bin Bazz

Syeikh bin Bazz mengatakan bahwa pahala bacaan Al Quran itu tidak sampai kepada mayit karena memang tidak ada dalil yang menjelaskan hal itu. Berikut ini perkataan beliau:

"Adapun bacaan Al Quran maka para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang rojih adalah bahwa bacaan itu tidak sampai kepada mayit. Sebab Nabi tidak pernah melakukannya dan para sahabat pun juga tidak melakukannya."

Pahala Al Quran tidak sampai, Apakah benar pendapat Imam Asy-Syafi'i?

Jika kita perhatikan redaksi dari Al-Allamah Ibnu Abi Al-Izz Al-Hanafi dan redaksi Al-Imam An-Nawawi ketika menyebutkan pendapat Al-Imam Asy-Syafi'i maka akan kita temukan kalimat "Al-Masyhur min Madzhabi Asy-Syafii". Ternyata jika kita pahami lebih dalam lagi bahwa kalimat 'Al-Masyhur' ini menunjukkan bahwa disana ada qoul Al-Imam Asy-syafii yang tidak masyhur. Nah, qoul yang tidak masyhur inilah nanti dipahami oleh sebagian kalangan ulama syafiiyah bahwa maksud dari qoul nya Al-Imam Asy-Syafii adalah tidak sampai jika tidak diniatkan bacaannya atau tidak dibaca di hadapan si mayit.

Karena begini, justru di kitab yang lain disebutkan bahwa Al-Imam Asy-Syafi'i menganjurkan seseorang untuk membaca Al Quran di sisi mayit. Hal ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi di dalam kitab Riyadhus Sholihin halaman 295:

باب الدعاء للميت بعد دفنه والقعود عند قبره ساعة للدعاء له والاستغفار والقراءة
قال الشافعي رحمه الله: ويستحب أن يقرأ عنده شيء من القرآن، وإن ختموا القرآن عنده كان حسنا. رياض الصالحين, ص : 295

Artinya:
Bab doa untuk si mayit dan duduk di kuburan untuk berdoa dan memohonkan ampun dan bacaan. Imam Syafi'i berkata "dan dianjurkan untuk membacakan Al Quran di sisi mayit, jika sampai khatam maka itu lebih baik".

Maka dari itu Syaikhul Islam Zakaria Al-Anshori dan Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan bahwa maksud dari kalam nya Al-Imam Asy-Syafii bahwa bacaan Al Quran itu tidak sampai adalah jika tidak diniatkan atau tidak dibacakan di hadapan si mayit.

Berikut ini penjelasan Syaikhul Islam Zakaria Al-Anshori di dalam kitab Fathul Wahhab juz 2 halaman 23:

أما القراءة فقال النووي في شرح مسلم المشهور من مذهب الشافعي أنه لا يصل ثوابها إلى الميت وقال بعض أصحابنا يصل وذهب جماعات من العلماء إلى أنه يصل إليه ثواب جميع العبادات من صلاة وصوم وقراءة وغيرها وما قاله من مشهور المذهب محمول على ما إذا قرأ لا بحضرة الميت ولم ينو ثواب قراءته له أو نواه ولم يدع بل قال السبكي الذي دل عليه الخبر بالاستنباط أن بعض القرآن إذا قصد به نفع الميت نفعه وبين ذلك وقد ذكرته في شرح الروض. ( فتح الوهاب, ج : 2, ص : 23

Artinya:
Adapun pahala bacaan maka menurut Imam Nawawi sampai pahalanya. Adapun yang masyhur dari Imam Syafi'i tidak sampai pahalanya. Maksudnya adalah jika tidak dibacakan di dekat si mayit atau tidak diniatkan pahalanya. Tapi jika diniatkan maka pahalanya sampai.

Begitu juga Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan di dalam kitab Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubra juz 2 halaman 27:

وكلام الشافعي – رضي الله عنه – هذا تأييد للمتأخرين في حملهم مشهور المذهب على ما إذا لم يكن بحضرة الميت أو لم يدع عقيبه. ( الفتاوى الفقهية الكبرى لابن حجر الهيتمي, ج : 2, ص : 27

Artinya:
Perkataan Imam Syafi'i maksudnya adalah jika Al Quran itu tidak dibaca di hadapan si mayit dan tidak berdoa setelahnya.

Ini adalah penjelasan sebagian ulama Syafiiyah yang menjelaskan qoul nya Al-Imam Asy-Syafi’i. Dalam hal ini Al-Imam An-Nawawi lebih memilih pendapat bahwa bacaan Al Quran itu sampai kepada mayit dengan cara berdoa kepada Allah untuk menyampaikan pahalanya kepada si mayit.

Berikut ini perkataan Al-Imam An-Nawawi di dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab:

والمختار الوصول إذا سأل الله أيصال ثواب قراءته، وينبغى الجزم به لانه دعاء، فإذا جاز الدعاء للميت بما ليس للداعى، فلان يجوز بما هو له أولى، ويبقى الامر فيه موقوفا على استجابة الدعاء، وهذا المعنى لا يخص بالقراء بل يجرى في سائر الاعمال، والظاهر أن الدعاء متفق عليه انه ينفع الميت والحى القريب والبعيد بوصية وغيرها. ( المجموع, ج : 15, ص : 522

Artinya:
Pendapat pilihan kami adalah sampainya pahala bacaan jika seseorang meminta kepada Allah untuk menyampaikan pahalanya. Karena ini termasuk doa. Dan doa itu termasuk perkara yang disepakati kebolehannya dan si mayit mendapatkan manfaat dari doa tersebut.

Intinya memang para ulama salaf dan ulama kontemporerpun berbeda pendapat dalam masalah ini. Silakan anda pilih dari salah satu pendapat ulama tersebut. Wallahu A'lam. [yy/sindonews]

Ustaz Muhammad Ajib, Pengajar Rumah Fiqih Indonesia (RFI)
Lulusan Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta Konsentrasi Ilmu Syariah

 

 

top