fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


25 Ramadhan 1442  |  Jumat 07 Mei 2021

Terasa Keluar Air Kencing saat Sujud, Lanjut Shalat atau Tidak?

Terasa Keluar Air Kencing saat Sujud, Lanjut Shalat atau Tidak?Fiqhislam.com - Salah satu syarat sahnya salat adalah bebas dari hadats dan najis. Hanya saja dalam pelaksanaannya seorang Muslim kerap mengalami masalah berupa saja tak sengaja keluar air kencing dari kemaluannya, tak terkontrol ketika sujud atau ruku.

Padahal sehabis buang air kecil, orang tersebut sudah berusaha mengeluarkan kotorannya dan membasuhnya, dilanjutkan dengan bersuci. Orang yang mengidap beser juga kerap mengalami hal ini ketika salat.

Lalu bagaimana pandangan Islam terhadap Muslim yang mengalami problem seperti di atas? Pertanyaan ini berkaitan dengan istibra, yaitu upaya penirisan atau penyucian alat kelamin setelah membuang air kecil. Istibra dianjurkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim berikut ini:

ودليل طلب الاستبراء: حديث ابن عباس: أن النبي صلّى الله عليه وسلم مرّ بقبرين، فقال: «إنهما ليعذبان، وما يعذبان في كبير: أماأحدهما فكان لا يستبرئ من بوله، وأما الآخر فكان يمشي بالنميمة»

Artinya, “Dalil istibra adalah hadits riwayat Sayyidina Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW ketika melewati dua makam bersabda, ‘Kedua ahli kubur ini disiksa. Keduanya disiksa bukan karena hal besar. Satu tidak istibra sesudah kencing. Satu lagi berjalan untuk mengadu domba,’” (HR Bukhari dan Muslim).



Ulama fiqih memasukkan istibra dalam bab thaharah. Ulama hampir jarang memisahkan pembahasan istinja dan istibra. Berikut ini kami kutip penjelasan istibra dari Syekh Wahbah Az-Zuhayli.

والاستبراء: طلب البراءة من الخارج، حتى يتيقن من زوال الأثر أو هو طلب براءة المخرج عن أثر الرشح من البول.

Artinya, “Istibra adalah upaya menyucikan dari najis kotoran yang keluar sehingga seseorang yakin atas hilangnya sisa kotoran atau upaya menyucikan kemaluan tempat keluar kotoran dari sisa tetesan air kencing,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], , cetakan kedua, juz I, halaman 192).

Artinya, “Semua jalan itu dapat ditempuh untuk bersuci dari najis. Seseorang tidak boleh mulai berwudhu sehingga ia yakin atas hilangnya sisa tetesan air kencing,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz I, halaman 193).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, sebelum salat, orang yang mengalami masalah seperti ini dianjurkan untuk melakukan istibra terlebih dahulu untuk memastikan tidak adanya sisa air kencing yang kemungkinan keluar dari kelamin.

Sementara itu, perlu diketahui bahwa beser termasuk hadats (da`im al-hadats). Dan dalam konteks ini adalah hadats kecil, berupa air kencing. Maka pengidap ini disebut salis al-baul (orang yang tidak bisa menahan air kencing), sedangkan air kencingnya yang tidak bisa ditahan disebut dengan istilah salas al-baul.

Salas al-baul jika itu sedikit dan keluarnya terasa dan tidak terkontrol karena ada masalah pada saluran kencing, termasuk najis yang dima’fu atau dimaafkan. Hal ini berdasarkan keterangan dari Ibnu ‘Imad sebagimana dikemukakan oleh Ibnu Hajar al-Haitsami dalam kitab al-Fatawi al-Kubra.

قَالَ ابْنُ الْعِمَادِ وَيُعْفَى عَنْ قَلِيلِ سَلَسِ الْبَوْلِ فِي الثَّوْبِ وَالْعِصَابَةِ بِالنِّسْبَةِ لِتِلْكَ الصَّلَاةِ خَاصَّةً .وَأَمَّا بِالنِّسْبَةِ لِلصَّلَاةِ الْآتِيَةِ فَيَجِبُ غَسْلُهُ أَوْ تَجْفِيفُهُ وَغَسْلُ الْعِصَابَةِ أَوْ تَجْدِيدُهَا بِحَسَبِ الْإِمْكَانِ.

“Ibn al-‘Imad berkata, dan dima’fu sedikitnya air kencing yang tidak bisa ditahan keluarnya (beser) yang menimpa pakaian dan pembalut dengan disinbatkan khusus kepada salat yang yang sedang dijalani, adapun untuk salat selanjutnya maka wajib dibasuh atau dikeringkan, dan membasuh pembalut atau menggantinya dengan yang baru sesuai dengan kemampuan” (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 1, h. 166).

Ini artinya, ketika seseorang sedang menjalankan salat kemudian keluar salas al-baul sedikit, tidak membatalkan shalat. Namun untuk salat yang berikutnya wajib dibasuh atau dikeringkan. Dan membasuh pembalut atau mengganti pembalu sebisa mungkin.

Jika melihat kondisi yang ada, dimana salas al-baul itu keluar dan tak bisa ditahan ketika sujud dan mau berdiri, maka solusinya adalah dengan melakukan salat sambil duduk untuk menjaga agar tetap suci dan tidak perlu mengulang salatnya. Ini adalah pendapat yang paling sahih menurut al-Baghawi penulis kitab at-Tahdzib sebagaimana dikemukan an-Nawawi dalam Raudlah ath-Thalibin.

وَقَالَ صَاحِبُ التَّهْذِيبِ لَوْ كَانَ سَلَسُ الْبَوْلِ بِحَيْثُ لَوْ صَلَّي قَائِمًا سَالَ بَوْلُهُ وَلَوْ صَلَّي قَاعِدًا اِسْتَمْسَكَ فَهَلْ يُصَلِّي قَائِمًا أَمْ قَاعِدًا وَجْهَانِ اَلْأَصَحُّ قَاعِدًا حِفْظًا لِلطَّهَارَةِ وَلَا إِعَادَةَ عَلَيْهِ عَلَي الْوَجْهَيْنِ

“Penulis kitab at-Tahdzib (al-Baghawi) berkata, seandainya air kencing yang tak bisa ditahan (salas al-baul) sekiranya apabila seseorang salat dengan berdiri maka akan mengalir salas al-baul-nya, dan jika duduk dapat tertahan, lantas apakah ia salat dengan berdiri atau duduk? Dalam hal ini ada dua pendapat (wajh). Pendapat yang paling sahih adalah ia salat dengan cara duduk karena menjaga kesucian. Dan ia tidak perlu mengulangi salatnya menurut dua pendapat tersebut” (Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, Raudlah ath-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin, Bairut-al-Maktab al-Islami, 1405 H, juz, 1, h. 139). [yy/okezone]

Dikutip dari laman Nahdatul Ulama (NU Online)

 

Tags: Shalat | Wudhu | Najis | Khusyu