11 Muharram 1444  |  Selasa 09 Agustus 2022

basmalah.png

Shalat yang tidak Khusyu, Apakah Sah dan Diterima?

Shalat yang tidak Khusyu, Apakah Sah dan Diterima?

Fiqhislam.com - Pengertian khusyu secara bahasa berasal dari kata khasya’a yang memiliki arti diam, tenang dan merendahkan diri. Di kalangan para ulama terdapat beberapa pengertian tentang khusyu. Menurut Ibnu Katsir ketika menafsirkan Qs Al-Mukminun ayat 2, khusyu berarti ketenangan dan menghadirkan rasa takut kepada Allah.

Dalam kitab Subulussalam karya ash-Shan’aniy, kata khusyu bermakna al-khudlu’ (memasrahkan diri kepada Allah) dan al-khudlu’ merupakan amalan hati, bisa juga berupa amalan badan seperti diam, baik dalam suara maupun gerakangerakan lain di luar shalat. Jadi, secara garis besar khusyu berarti al-khudlu’ yang bermakna kepasrahan jiwa dan raga kepada Allah yang disertai dengan kerendahan hati.

khusyu merupakan salah satu hal yang sangat didambakan oleh setiap Muslim dalam shalatnya, sehingga kekhusyuan merupakan sesuatu yang harus diupayakan dalam shalat. Banyak penjelasan yang mengingatkan umat Islam tentang keharusan melakukan shalat dengan khusyu.

Orang yang dapat menjalankan shalat secara khusyu akan termasuk dalam golongan orang yang berbahagia, seperti firman Allah SWT,

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyu dalam shalatnya” (Qs AlMukminun [23]: 1-2).

Kata aflaha dalam ayat tersebut memiliki makna beruntung, berbahagia, dan memperoleh keberhasilan bagi mereka yang beriman serta mempunyai ciri khas, di antaranya adalah kekhusyuan dalam shalat.

Di samping bahagia, orang yang khusyu dalam shalatnya juga akan mendapat kemudahan dan keringanan dalam menunaikan shalat, sebagaimana firman Allah SWT,

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (Qs Al-Baqarah [2]: 45).

Selain itu perlu ditanamkan dalam diri bahwa khusyu merupakan ruhnya shalat, yakni ketika shalat yang dilaksanakan khusyu, maka akan mendapatkan nilai yang sempurna di mata Allah SWT, begitu pula sebaliknya. Juga ketika seseorang mampu menghadirkan ruhnya shalat yaitu khusyu, maka dalam kehidupannya akan mampu menghindari diri dari perbuatan keji dan munkar, sebagaimana firman Allah SWT,

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Qs Al-Ankabut [29]: 45).

Sejauh pengkajian kami terhadap Al-Qur’an dan Al-Sunnah, tidak ada yang menyebutkan secara langsung bahwa khusyu merupakan syarat sahnya shalat. Adapun shalat seseorang akan dipandang sah secara hukum apabila terpenuhi syarat dan rukunnya. Di antara syarat shalat tersebut ialah, menghadap kiblat, menutup aurat, dan suci dari hadats. Adapun rukun yang harus terpenuhi ketika shalat adalah niat, takbiratul ihram, membaca surah Al-Fatihah pada tiap rakaatnya, rukuk dengan tuma’ninah (tenang dan tentram), i’tidal dengan tuma’ninah, sujud dengan tuma’ninah, duduk di antara dua sujud, duduk tasyahud sekaligus membaca doa tasyahud, membaca shalawat kepada Nabi saw dan mengucap salam.

Oleh karenanya jika syarat dan rukun tersebut telah terpenuhi maka shalat yang saudara lakukan adalah sah dan tidak perlu adanya pengulangan. Namun dengan adanya tuma’ninah dalam menjalankan shalat mengandung maksud bahwa shalat dapat dilakukan dengan sebaikbaiknya, sebagai salah satu upaya untuk memperoleh kekhusyuan.

Jika dalam shalat sering kali memikirkan hal-hal lain di luar shalat karena tidak adanya kekhusyuan, maka ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh kekhusyuan tersebut, di antaranya;

Mengenal dengan baik siapa Allah (ma’rifatullah), mengikhlaskan shalat semata-mata karena Allah, membaca bacaan shalat secara tartil, benar, perlahan serta penuh penjiwaan, menganggap bahwa shalat yang dilakukan adalah shalat terakhir, jika pikiran terganggu segera kembali dan menyadari betul bahwa sedang menghadap Allah, kemudian perlu juga diperhatikan kondisi tubuh dan juga lingkungan yang akan dijadikan sebagai tempat shalat, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat mengganggu dan memecah konsentrasi ketika shalat, seperti menyantap makanan terlebih dahulu yang telah dihidangkan sebagaimana disabdakan oleh Nabi saw,

“Dari Anas bin Malik ra (diriwayatkan) dari Nabi saw bersabda: Apabila makan malam sudah dihidangkan sedangkan shalat jamaah sudah dikumandangkan iqamatnya, maka dahulukanlah makan” [HR. Al-Bukhari no 5042].

Perihal diterima atau tidaknya shalat, tentu semua diserahkan sepenuhnya kepada Allah SwT, karena Allah Maha Mengetahui lagi Maha Menghukumi. Hal terpenting adalah umat Islam harus terus berusaha meningkatkan kualitas kekhusyuan shalatnya. Oleh karena itu hendaknya selalu memiliki semangat, kemauan, dan usaha serta berdoa kepada Allah SwT agar mampu memperoleh kekhusyuan dalam shalat. [yy/republika]

Wallahu a’lam bish-shawab

Rubrik Tanya Jawab Agama Diasuh Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah