27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Kapan Perintah Shalat Jumat Turun?

Kapan Perintah Shalat Jumat Turun?

Fiqhislam.com - "Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah ..." (QS  al-Jumu’ah [62]: 9).

Bagi umat Islam, Jumat adalah hari yang sangat istimewa, berbeda dengan hari lainnya dalam seminggu. Jika nama-nama hari yang lain menunjukkan urutan angka;  Ahad berarti hari pertama, Itsnain atau Senin adalah hari kedua, Tsulatsa atau Selasa adalah hari ketiga, Arbi’a atau Rabu adalah hari keempat, dan Khamis atau Kamis adalah hari kelima, maka Jumat adalah jumlah dari semuanya. 

Menurut sebagian riwayat, kata Jumat diambil dari kata jama’a yang artinya berkumpul. Yaitu, hari perjumpaan atau hari bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa di Jabal Rahmah. Kata Jumat juga bisa diartikan sebagai waktu berkumpulnya umat Islam untuk melaksanakan kebaikan sehingga tak aneh bila kemudian Allah memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan shalat Jumat untuk merayakan hari istimewa tersebut.

Perintah shalat Jumat turun seiring dengan turunnya perintah shalat lima waktu. Ketika itu, Rasulullah masih berada di Makkah. Akibatnya, Rasulullah tidak langsung melaksanakan perintah tersebut karena kondisi yang tidak memungkinkan di kota itu. Shalat Jumat perdana baru dilakukan ketika Rasulullah hijrah ke Madinah.

Ketika itu, Senin, 12 Rabiul Awal 1 Hijriah atau 23 September 622 M, Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq menapakkan kaki memasuki Desa Quba’ yang tak jauh dari Madinah. Kedatangan mereka telah ditunggu oleh warga di seluruh kampung. Semua orang berhambur keluar dari rumah masing-masing ketika mengetahui Rasulullah dan Abu Bakar telah tiba di desa tersebut. 

Di desa Quba’ itu, Rasulullah kemudian beristirahat di rumah seorang lelaki lanjut usia yang  senantiasa dijadikan pangkalan oleh kaum Muslimin Makkah yang baru tiba di Madinah. Rumah itu adalah milik Kultsum bin Hadm. Sedangkan, Abu Bakar As-Shiddiq menuju rumah Khubaib bin Yasaf atau Kharijah bin Zaid di Sunh, sebuah desa yang tak jauh pula dari Madinah. 

Satu atau dua hari kemudian, Ali bin Abi Thalib tiba dari Makkah dan tinggal di rumah yang sama dengan Rasulullah. Rasulullah berdiam di Desa Quba’ selama empat hari, sejak Senin hingga Kamis. Lalu, atas saran ‘Ammar bin Yasir, beliau membangun Masjid Quba’. Inilah masjid pertama dalam sejarah Islam. Rasulullah sendiri yang meletakkan batu pertama di kiblat masjid tersebut dan kemudian diikuti oleh Abu Bakar As-Shiddiq, lalu diselesaikan beramai-ramai oleh para sahabat lainnya.

 

Kapan Perintah Shalat Jumat Turun?

Fiqhislam.com - "Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah ..." (QS  al-Jumu’ah [62]: 9).

Bagi umat Islam, Jumat adalah hari yang sangat istimewa, berbeda dengan hari lainnya dalam seminggu. Jika nama-nama hari yang lain menunjukkan urutan angka;  Ahad berarti hari pertama, Itsnain atau Senin adalah hari kedua, Tsulatsa atau Selasa adalah hari ketiga, Arbi’a atau Rabu adalah hari keempat, dan Khamis atau Kamis adalah hari kelima, maka Jumat adalah jumlah dari semuanya. 

Menurut sebagian riwayat, kata Jumat diambil dari kata jama’a yang artinya berkumpul. Yaitu, hari perjumpaan atau hari bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa di Jabal Rahmah. Kata Jumat juga bisa diartikan sebagai waktu berkumpulnya umat Islam untuk melaksanakan kebaikan sehingga tak aneh bila kemudian Allah memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan shalat Jumat untuk merayakan hari istimewa tersebut.

Perintah shalat Jumat turun seiring dengan turunnya perintah shalat lima waktu. Ketika itu, Rasulullah masih berada di Makkah. Akibatnya, Rasulullah tidak langsung melaksanakan perintah tersebut karena kondisi yang tidak memungkinkan di kota itu. Shalat Jumat perdana baru dilakukan ketika Rasulullah hijrah ke Madinah.

Ketika itu, Senin, 12 Rabiul Awal 1 Hijriah atau 23 September 622 M, Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq menapakkan kaki memasuki Desa Quba’ yang tak jauh dari Madinah. Kedatangan mereka telah ditunggu oleh warga di seluruh kampung. Semua orang berhambur keluar dari rumah masing-masing ketika mengetahui Rasulullah dan Abu Bakar telah tiba di desa tersebut. 

Di desa Quba’ itu, Rasulullah kemudian beristirahat di rumah seorang lelaki lanjut usia yang  senantiasa dijadikan pangkalan oleh kaum Muslimin Makkah yang baru tiba di Madinah. Rumah itu adalah milik Kultsum bin Hadm. Sedangkan, Abu Bakar As-Shiddiq menuju rumah Khubaib bin Yasaf atau Kharijah bin Zaid di Sunh, sebuah desa yang tak jauh pula dari Madinah. 

Satu atau dua hari kemudian, Ali bin Abi Thalib tiba dari Makkah dan tinggal di rumah yang sama dengan Rasulullah. Rasulullah berdiam di Desa Quba’ selama empat hari, sejak Senin hingga Kamis. Lalu, atas saran ‘Ammar bin Yasir, beliau membangun Masjid Quba’. Inilah masjid pertama dalam sejarah Islam. Rasulullah sendiri yang meletakkan batu pertama di kiblat masjid tersebut dan kemudian diikuti oleh Abu Bakar As-Shiddiq, lalu diselesaikan beramai-ramai oleh para sahabat lainnya.

 

Khutbah Jumat Pertama Rasulullah, Apa Isinya?

Khutbah Jumat Pertama Rasulullah, Apa Isinya?


Fiqhislam.com - Khotbah Jumat merupakan nasihat dan tuntunan ibadah yang disampaikan khatib kepada jamaah shalat Jumat untuk tetap bertakwa kepada Allah SWT. Dalam berkhotbah, khatib disunahkan berdiri di atas mimbar dan bersuara dengan fasih dan lantang.

Pada shalat Jumat pertama yang dilaksanakan 16 Rabiul  Awal 1 Hijriah di sebuah kampung di dekat desa Quba’,  Rasulullah pun menyampaikan khotbah yang cukup sederhana. Seperti apa khotbah beliau saat itu? 

Berikut adalah khotbah Jumat pertama Rasulullah sebagaimana yang terdapat dalam Sirah Ibnu Hisyam. “Amma ba’du. Wahai segenap manusia, hendaklah kamu menyediakan amal kebajikan untuk dirimu sendiri karena kamu sungguh akan mengetahui. Demi Allah, sesungguhnya salah seorang dari kamu akan dikejutkan oleh suara yang gemuruh, kemudian ia pasti meninggalkan kambingnya, tidak ada yang menggembalanya. 

Kemudian, Tuhan akan berfirman kepadanya, padahal tidak ada pula orang yang menerjemahkan firman itu dan tidak ada seorang pun penghalang yang akan menghalangi-halangi pada sisi-Nya. Firman-Nya, ‘Tidakkah seorang Rasul datang kepadamu lalu ia menyampaikan kepadamu. Aku telah memberi harta benda kepadamu dan Aku telah mengaruniai pula atas kamu, maka apa yang telah kamu sediakan untuk dirimu sendiri?’ Oleh sebab itu, ia tentu akan melihat ke kanan dan ke kiri, lalu ia tidak akan melihat sesuatu. Kemudian, ia tentu melihat mukanya, maka tidaklah ia melihat selain neraka jahanam. Barang siapa yang dapat memelihara mukanya dari bahaya api neraka, walaupun dengan separuh buah kurma, maka hendaklah ia mengerjakan. 

Barang siapa yang tidak mendapatinya, hendaklah dengan kalimat thayyibah. Karena dengan kalimah thayyibah itu, satu kebagusan akan memberi balasan sepuluh yang semisalnya sampai tujuh ratus kali lipat. Keselamatan dan rahmat Allah serta berkah-Nya semoga dilimpahkan atas kamu dan atas Rasulullah.”

 

Alasan Mengapa Jumat Disebut Tuan Semua Hari

Alasan Mengapa Jumat Disebut Tuan Semua Hari


Fiqhislam.com - Hari Jumat memiliki makna penting dalam Islam. Dalam Islam, hari Jumat juga disebut sebagai 'sayyidul ayyam' atau bermakna tuannya semua hari. Dengan demikian, hari Jumat adalah hari yang istimewa dalam Islam.

Pakar Alquran Indonesia, Dr KH Ahsin Sakho Muhammad, mengatakan bahwa makna sayyid (tuan) pada hari Jumat berarti hari tersebut adalah hari paling utama dari semua hari dalam perspektif Islam. 

Hal demikian seperti dikatakan Rasulullah SAW, "Sungguh hari Jumat adalah tuannya hari-hari dan yang paling agung di sisi Allah" (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Pernyataan demikian juga diriwayatkan dalam beberapa hadits lainnya.

Kiai Ahsin mengatakan, Jumat adalah hari rayanya umat Islam. Sebagaimana dikatakan Rasulullah, "Ini (hari Jumat) adalah hari yang dijadikan Allah sebagai hari raya bagi kaum Muslimin" (HR Ibnu Majah dan ath-Thabrani).

"Dalam hadis disebutkan, sebaik-baiknya hari di mana matahari terbit adalah hari Jumat. Sebab di hari Jumat, Nabi Adam diciptakan dan dimasukkan ke dalam surga, Nabi Adam juga diturunkan ke bumi dari Surga pada Jumat, diterima taubatnya juga pada Jumat. Dan hari kiamat terjadi pada Jumat," kata Kiai Ahsin, saat dihubungi Republika.co.id. 

Di dalam Alquran, Jumat secara khusus menjadi nama sebuah surah, yakni AlJumuah. Pada Jumat juga, Allah SWT selesai menyelesaikan pekerjaan dalam menciptakan langit dan bumi. Penciptaan langit dan bumi tersebut dimulai pada Ahad.  

Hari Jumat adalah hari beribadah. Imam Ibnu Qayyim berkata, "Allah menjadikan bagi setiap penganut agama suatu hari di mana mereka meluangkan pada hari itu untuk beribadah dan mereka mengosongkan dari berbagai kesibukan dunia.”

Kiai Ahsin menuturkan, disunahkan untuk memperbanyak zikir, shalawat, membaca Alquran dan ibadah di hari Jumat. Kegiatan do'a dan ibadah tersebut, menurutnya, dimulai dari malam Jumat. Saat itulah, para malaikat akan mencatat shalawat yang dilantunkan dan melaporkannya kepada Nabi Muhammad saw.

Selain itu, disunahkan untuk membaca surah al-Kahfi pada Jumat. Sebab, menurutnya, barang siapa yang membaca surah tersebut pada malam atau hari Jumat, Allah akan memberikan cahaya dan pahala kepadanya.

Imam Nawawi mengatakan, bahwa hari Jumat adalah hari berdoa, zikir dan ibadah. Dalam hal ini, umat Muslim biasanya mandi untuk berangkat shalat Jumat di masjid. Kemudian, mereka akan mendengarkan khutbah dari khatib saat shalat Jumat.

Bahkan, pada Jumat terdapat waktu yang mustajab untuk berdoa. Kiai Ahsin mengatakan, ada satu waktu yang sedikit di hari Jumat yang doanya mustajab. JIka Muslim berdoa pada waktu itu, maka doanya akan diijabah Allah SWT.

Namun demikian, para ulama berbeda pendapat akan kapan waktu tersebut. Sebagian ulama berpendapat waktu itu adalah saat khatib berada di mimbar hingga selesai. Sementara sebagian lagi ulama berpendapat waktu tersebut adalah di waktu setelah ashar hingga Maghrib pada Jumat.

Sesuai asal katanya, Jumat dari kata Jama'a bermakna 'berkumpul'. Karena itulah, Kiai Ahsin mengatakan bahwa Jumat adalah hari berkumpulnya umat Islam untuk melaksanakan ibadah shalat Jumat secara berjamaah. Di dalam surah al-Jumuah disebutkan secara khusus tentang hari Jumat.

"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS al-Jumuah:9). [yy/republika]