12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Tiga Cara Allah Mendidik Rasulullah Saw

Tiga Cara Allah Mendidik Rasulullah SawFiqhislam.com - Tuhanku telah mendidikku, maka Dia menjadikan pendidikanku yang terbaik." Demikian salah satu hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban.

Nabi Muhammad SAW adalah hamba terbaik yang diutus Allah SWT di sepanjang sejarah kehidupan manusia hingga akhir masa. Itu keyakinan setiap Muslim. Oleh karena itu, ia menjadi teladan bagi umat manusia (QS al-Ahzab [33]: 21).

Setidaknya ada tiga cara Allah mendidik Nabi. Pertama, pendidikan by design. Pendidikan Nabi SAW sudah direncanakan dan didesain Allah SWT. Perhatikanlah silsilah Nabi Muhammad. Ayahnya bernama Abdullah, berarti hamba Allah. Ibunya bernama Aminah, artinya dapat di percaya. Lalu kakeknya, Abdul Muthalib, memberi nama Muhammad yang artinya orang yang terpuji. Silsilahnya sampai kepada Nabi Ismail bin Ibrahim AS.



Dalam kandungan, ayahnya wafat. Masih usia anak-anak, bunda tercinta juga dipanggil Allah. Muhammad menjadi yatim piatu. Meski yatim piatu, ia dididik di lingkungan yang baik sehingga mendukung pertumbuhan mental dan fisiknya. Ia diasuh kakek, lalu berpindah pada pamannya, Abu Thalib. Ketika ditanya soal perjalanan hidupnya yang berpindah-pindah pengasuhan ini, Nabi Muhammad menjawab, "Begitulah cara Allah mendidikku sehingga tak ada satu orang pun yang sangat berpengaruh dalam hidupku, termasuk orang tuaku sendiri."

Kedua, pendidikan berbasis prophetic atau kenabian. Di usia 40 tahun, Muhammad diangkat menjadi rasul. Penetapannya sebagai nabi dan rasul menunjukkan bahwa Allah SWT mendidik Muhammad mengandung pendekatan profan atau bermuatan "kelangitan".

Sebagai Nabi, Allah mendidiknya dengan tuntunan wahyu melalui Ma laikat Jibril. Perkataan dan perbuatannya mengandung ajaran mulia karena didasari oleh wahyu, bukan hawa nafsu. Ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Nabi, ia berkata, "Dan akhlak Nabi itu adalah Alquran."

Ketiga, pendidikan dalam pemeliharaan dan pengawasan Allah. Di antara bentuk pengawasan Allah adalah memeliharanya dari perbuatan maksiat. Di saat remaja, misalnya, Muhammad ingin melihat pesta yang dipenuhi oleh hiburan sarat maksiat.

Tiba-tiba saja ia letih dan mengantuk berat sehingga ia tertidur. Saat terbangun, hari sudah siang sehingga ia tidak melihat hiburan bermaksiat tersebut. Hal itu juga terjadi keesokan harinya. Demikian Allah menjaga nabi dari lingkungan buruk.

Sebagai umat Muhammad, kita perlu merancang pendidikan berbasis Islam, mengandung misi prophetic, dengan tauhid sebagai poros utama. Wallahu a'lam. [yy/republika]

Oleh Muhammad Kosim