27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Menjalankan Hal yang Disukai Allah

Menjalankan Hal yang Disukai Allah

Fiqhislam.com - Allah menciptakan seluruh manusia di bumi, sekaligus mengurusnya setiap saat. Maka, sudah sepantasnya setiap Muslim mencintai Allah kapan pun dan di ma na pun.

KH Abdullah Gymnastiar mengatakan, Allah pun lebih menyayangi kita dibandingkan lainnya. "Orang tua sayang pada kita, tapi tidak sebanding dengan sayangnya Allah pada ciptaan-Nya," ujar Aa Gym dalam Kajian al-Hikam.

Ia menjelaskan, kasih sayang manusia ibarat seratus dibagi seluruh makhluk di Bumi. Sedangkan, kasih sayang Allah tidak ternilai serta mulia. Dia yang menginginkan semua ciptaan-Nya mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat sehingga memberikan risalah Islam agar manusia senantiasa selamat dan bisa kembali ke surga.

Seperti diketahui, nenek moyang manusia, yaitu Nabi Adam AS dan Siti Hawa merupakan ahli surga. "Hanya saja, di akhirat ada dua tempat, surga dan neraka. Maka, kalau mendengar perintah Allah jangan ragu, yakinlah itu jalan kemuliaan, jalan kebahagiaan, serta keselamatan dunia akhirat," kata Aa Gym.

Jika Allah melarang sesuatu dan tetap kita lakukan, niscaya hidup kita tidak bahagia dan celaka. Itulah kenapa, kata dia, penting belajar agama lebih dalam, supaya tahu mana yang Allah sukai dan tidak sukai. Bila Allah menyukai sebuah perkara, maka Dia memerintahkannya. Sebaliknya, Allah melarang hal yang tidak disukai-Nya.

"Yang Allah suka, tapi nafsu tidak suka. Sebaliknya juga yang Allah tidak suka nafsu suka. Celakanya, kita lebih nurut pada nafsu, jadilah kita sengsara dan hina. Kita harus paham betul pola ini. Cari tahu apa yang Allah suka, lalu lakukan dengan ikhlas, insya Allah bahagia," tutur Aa Gym.

Namun, lanjut dia, terkadang manusia enggan mencari tahu apa yang Allah sukai dengan alasan memiliki banyak persoalan hidup. Padahal, persoalan merupakan bagian dari karunia manusia. Tanpa masalah, kehidupan manusia tidak bernilai. "Jadi, bukan persoalan hidupnya yang berbahaya, tapi salah menyikapi persoalan itu yang berbahaya. Ibaratnya, tidak ada soal ujian yang bahaya karena orang tidak lulus ujian bukan karena soalnya, tapi karena salah jawabannya," tutur dia.

Pendiri Pesantren Darut Tauhid ini menegaskan, jangan terpedaya oleh nafsu. Lawan nafsu lewat ibadah yang tidak pernah putus. Misalnya pada suatu malam, hawa nafsu menginginkan kita tidur, sementara Allah suka bila kita bangun untuk shalat Tahajud. Maka niatkan, Allah tahu kalau hati kita mau shalat Tahajud sehingga kita bisa bangun di sepertiga malam terakhir. "Contoh, saat shalat Tahajud kita inginnya membaca surat-surat pendek. Jadi, saat ingin membaca surah al-Ashr ganti ke luarin dengan surah al-A'la. Nggak bisa kita selalu mengikuti nafsu," kata Aa Gym.

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah bersabda, "Maukah kalian aku tunjukkan orang yang haram baginya tersentuh api neraka? Para sahabat berkata 'Mau wahai Rasulullah!' Beliau menjawab: Yaitu orang yang Hayyin, Layyin, Qarib, Sahl."

Aa Gym menjelaskan, Hayyin adalah orang yang memiliki ketenangan juga keteduhan lahir maupun batin. "Orangnya ajeg, tidak labil, tidak gampang marah, tidak temperamental, tidak celetak-celetuk. Semua tindakannya terkendali dan penuh pertimbangan sehingga lahir keteduhan," ujar dia.

Sikap orang Hayyin, lanjutnya, membuat kita ingat pada Allah. Meski tidak banyak bicara, setiap yang keluar dari mulutnya benar, tidak berdusta, tidak zalim, tidak kotor, serta tidak sia-sia.

Berikutnya, Layyin adalah orang yang lembut dan santun. Lalu, Qarib, yakni ramah sekaligus menyenangkan diajak bicara. Terakhir Sahl, yaitu orang yang tidak mempersulit sesuatu. "Harus punya empat ini karena dijamin haram disentuh api neraka. Yakinlah semua terjamin sama Allah," kata Aa Gym. [yy/republika]