fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


27 Ramadhan 1442  |  Minggu 09 Mei 2021

Saat Seorang Kekasih tidak Mengenal Kekasihnya

Saat Seorang Kekasih tidak Mengenal Kekasihnya


Fiqhislam.com - Sehebat apa pun cinta seseorang kepada pasangannya atau kekasihnya, ada suatu waktu ia tidak mengenal orang yang dicintainya tersebut. “Kapankah itu? Pada saat terjadi hari kiamat,” kata Habib Abdul Rahman Al Habsy.

Ia mengutip salah satu hadis Rasulullah SAW. Pernah Aisyah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang  kondisi hari kiamat:  "Apakah seorang kekasih akan ingat kepada  kekasihnya?”   “Ya,” kata Nabi, “Tapi  dalam tiga  keadaan, mereka  tidak saling kenal. Ketiganya adalah:  mizan (saat ditimbang amal kebaikan dan keburukan hamba),  saat dibagikan shuhuf (lembaran-lembaran amal), dan saat sedang lewat di atas shirath (jembatan).”

“Ketika ditimbang di mizan, orang yang berat timbangan amalnya, tidak akan memberikan kepada yang lainnya. Bahkan,  istrinya sekalipun,” ujar Abdul Rahman seperti dikutip dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Jumat (23/8). 

Ia menambahkan, saat dibagikan  shuhuf  (lembaran timbangan mahal), manusia berbeda-beda keadaannya. “Ada yang lembarannya tebal,  ada pula yang tipis,” tuturnya.

Demikian pula saat melewati jembatan (shirath). “Ada melintas di atas jembatan dengan sangat cepat, ada pula yang lambat sekali,” ujarnya.

Abdul Rahman menjelaskan, manakala sangkalala pertama (hari kiamat)  ditiup,  tarkejutlah seluruh penduduk bumi kecuali yang Allah kehendaki tidak kaget, yaitu Malaikat Jibril,  Izrail, dan  Israfil. Setelah itu matilah seluruh penduduk bumi,” ujarnya.

Ia menyebutkan, sangkakala itu bentuknya seperti tanduk hewan.  Diameternya seluas langit dan bumi, dan terbuat dari cahaya.

Ia lalu mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari mengenai kedahsyatan hari kiamat.  “Karena terkejut,  anak-anak rambutnya jadi putih, ibu yang mengandung langsung melahirkan. Hal itu terjadi ketika mereka mendengar suara terompet yang terbuat dari cahaya,” tuturnya.

Kemudian ditiupkanlah sangkakala yang kedua  setelah 40 tahun ditiupkannya sangkakala yang pertama.  “Saat itu manusia bangkit seperti tumbuhan yang baru keluar tumbuh,” ujarnya.

Kemudian, kata Abdul Rahman,  datanglah pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: umurmu digunakan untuk apa?; masa mudamu digunakan untuk apa?;  dari mana dapatnya harta dan dikeluarkan untuk apa?; dan ilmu yang didapat dipergunakan untuk apa?. [yy/republika]

 

Tags: Kiamat | Mizan | Sirath