27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Amalan Ringan

Amalan Ringan

Fiqhislam.com - Salah satu ciri masyarakat Islami adalah sikap saling menghormati; saling pengertian, bahkan saling mengalah untuk memberi orang lain kebahagiaan.

Karena itu, Rasulullah SAW berkata, "Allah merahmati orang yang penuh pengertian saat menjual, saat membeli, dan saat mengambil kebijakan."

Sebab, kehidupan dunia ini sangat cepat dan banyak keinginan dunia kita yang belum tentu tercapai, maka mari kita renungi ungkapan bijak Ibnul Qayyim. Katanya, "Tak ada tidur yang lebih lelap dari kelalaian. Tak ada perbudakan yang lebih menguasai manusia melebihi nafsu birahi. Tak ada musibah yang lebih mengkhawatirkan dari matinya hati, dan tak ada peringatan yang lebih sempurna dari uban yang menyala (di kepala)."

Karena itulah, orang bijak mengatakan, seburuk-buruk harta ialah yang tidak diinfakkan. Seburuk-buruk teman ialah yang lari ketika dibutuhkan. Seburuk-buruk pemimpin ialah yang membuat orang-orang baik takut. Seburuk-buruk negeri ialah negeri yang tidak ada kemakmuran dan keamanan. Suatu hari Rasulullah SAW bertanya, "Siapa yang puasa hari ini?" Semua terdiam, Abu Bakar kemudian berkata, "Aku."

Rasulullah SAW bertanya lagi, "Siapa yang mengantar jenazah hari ini?" Semua terdiam. Abu Bakar berkata, "Aku." Rasulullah bertanya lagi, "Siapa yang menjenguk orang sakit hari ini?" Semua terdiam. Abu Bakar berkata lagi, "Aku." Rasulullah pun berkata, "Bila terkumpul itu pada diri seorang (seperti pada Abu Bakar), tak ada balasan yang pantas kecuali surga."

Karena itu, menurut Ibnul Qayyim, setiap kali engkau merasa perbuatan baikmu adalah sesuatu yang kecil saja, niscaya ia menjadi besar di sisi Allah; dan setiap kali engkau merasa telah berbuat baik yang besar, niscaya ia menjadi sedikit dan kecil di sisi Allah. Maka, amalah-amalan yang kita kira kecil atau sepele, sesungguhnya besar nilainya di sisi Allah SWT, bahkan sekadar berkata "baik" sekalipun.

Ketika kita ditanya, "Apa kabar?" Jawaban kita biasanya, "Baik." Tapi, tahukah Anda dari mana asal kata "baik" itu? Ia berasal dari bahasa Arab, "labbaik". Seperti saat kita menunaikan ibadah haji, "labbaik allahuma labbaik...." Jadi, kata "baik" atau "labbaik" adalah respons atas suatu panggilan atau pertanyaan tentang hal kita.

Lebih jauh, ucapan itu adalah sunah Rasulullah SAW. Aisyah meriwayatkan, "Tidaklah aku dapati seseorang yang akhlaknya lebih bagus dari Rasulullah SAW. Apabila dipanggil oleh sahabat atau keluarganya, dia selalu menjawab (labaik)."

Atas perilaku Rasulullah SAW yang mulia itu, Allah SWT memujinya dan menurunkan firman-Nya, "Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur." (QS al-Qolam: 4).

Demikianlah, kata Ibnul Qayyim, boleh jadi saat kau tertidur lelap; pintu-pintu langit tengah diketuk oleh puluhan doa; dari orang miskin yang telah kau tolong; dari orang lapar yang telah kau beri makan; dari yang bersedih dan telah kau hibur; dari orang yang berjumpa denganmu dan kau berikan senyuman; dari orang yang galau dan berbagi denganmu; karena itu jangan pernah meremehkan amalan-amalan kebaikan sekecil apa pun ia.

Menurut Ibnul Qayyim, manusia paling cerdas adalah dia yang berbuat baik, namun selalu dibarengi rasa takut pada Allah dan manusia paling bodoh adalah dia yang berbuat maksiat dan tenang-tenang saja tanpa merasa takut sedikit pun.

Semua amalan ringan harus dibarengi dengan niat yang lurus dan keikhlasan yang sempurna. Mengapa? Sebab, penyakit syirik ashgar atau riya dapat menjangkit pada siapa saja, bahkan seorang yang alim sekalipun. Rasulullah SAW berkata, "Sesuatu yang aku khawatrikan menimpa kalian adalah perbuatan syirik asghar." Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang maksudnya, beliau SAW menjawab, "Contohnya adalah riya".

Maka, Rasulullah SAW mengajarkan sebuah doa untuk me lindungi diri dari syirik ashgar atau riya. Rasulullah SAW bersabda, "Wahai sekalian manusia, jauhilah dosa syirik, karena syirik itu lebih samar daripada rayapan seekor semut." Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimana kami dapat menjauhi dosa syirik, sementara ia lebih samar daripada rayapan seekor semut?"

Rasulullah SAW menjawab, "Ucapkanlah Allahumma inni a'u dzubika an usyrika bika wa ana a'lam wa astaghfiruka lima laa a'lam" (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan, aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui). Wallahua'lam bisshawab. [yy/republika]

Oleh Inayatullah Hasyim