12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Sikap Umar Bin Khattab Ketika Dimarahi Istri

Sikap Umar Bin Khattab Ketika Dimarahi Istri


Fiqhislam.com - Suatu ketika, Umar bin Khattab, tidak langsung menuju rumahnya usai menunaikan shalat Subuh. Seperti kebiasaannya, Umar tak pernah absen blusukan ke kampung-kampung memantau keadaan rakyatnya hingga siang hari.

Ketika Sang Khalifah bergelar amirul mukminin ini ditemani Jarud yang diajaknya secara spontan. Selama menjabat sebagai pemimpin umat Islam, Umar memang tidak memiliki pengawal seperti halnya pemimpin saat ini.

Di tengah perjalanan, langkah Umar terhenti ketika mendengar suara seorang perempuan paruh baya berkata, Assalamualaikum, wahai amirul mukminin Umar bin Khattab, tunggu sebentar. Aku ingin berbicara denganmu.

Tanpa merasa tersinggung Umar berhenti dan mendekat terhadap sumber suara itu dan berkata. Ada  yang bisa saya bantu wahai saudariku sesama Muslim, kata Umar. Begitulah Umar ketika ditanya oleh rakyatnya, tanpa prosedur tetap Umar langsung menemuinya.

Perempuan yang tidak berpenampilan menarik itu pun langsung melanjutkan keinginan yang ingin disampaikannya. Aku masih ingat, dahulu engkau dipanggil dengan nama Umair.

Iya betul, kata Umar singkat.

Perempuan yang menghentikan langkah Umar nan gesit itu berkata lagi, Aku sering melihatmu di Pasar Ukadz, bermain dan bergulat bersama anak-anak sebayamu. Sekarang, engkau berganti nama menjadi Umar. Bahkan lebih dari itu, engkau kini sudah digelari amirul mukminin.

Itu (amirul mukminin) bukan kehendakku, kata Umar.

Sungguh indah sebutan nama itu, tetapi apakah engkau tahu makna dibalik gelar tersebut? Ketahuilah, wahai Umar, orang yang takut mati tentu tidak akan menyia-nyiakan usianya untuk beramal kebaikan, ujar perempuan itu.

Mendengar kata-kata terakhirnya, Umar menunduk. Sorot matanya yang tajam mulai sembap menahan air mata. Dengan menghela nafas Umar bekata, Doakan agar Tuhan selalu membimbing saya menjadi pemimpin yang amanah, pinta Umar.

Melihat Umar yang hampir menangis dengan kata-kata perempuan itu, Jarud yang menemai Umar dalam perjalanan ketika itu berkata, Anda sungguh tidak sopan berbicara dengan orang yang dihormati oleh kawan dan lawan. Apakah Anda tidak tahu bahwa beliau adalah amirul mukminin?

Mendengar perkataan orang yang menyertai perjalanan Umar itu hanya tersenyum tanpa menoleh dan pergi. Ketika Jarud ingin mengejar dan menghardik si perempuan.

Namun, Umar mencegahnya. Janganlah engkau berkata kasar terhadap perempuan itu. Tahukah engkau, siapakah dia? kata Umar seperti dikisahkan dalam buku Kisah-Kisah Teladan Wanita Muslim.

Tanpa kata-kata, Jarud menggelengkan kepala. Dia adalah Khaulah binti Hakim. Seorang perempuan yang pengaduannya telah didengar oleh Allah SWT, seperti diabadikan dalam surah al-Mujadilah ayat 1.

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Singkat cerita, setelah bertemu dengan Khaulah binti Hakim, Umar pergi menuju tempatnya yang sederhana. Beberapa hari setelah itu, Umar didatangi seorang laki-laki asing yang tidak dia kenal.

Namun, tentu, laki-laki itu sangat mengenal Umar sebagai seorang pemimpin. Laki-laki itu datang keesokan harinya dengan tujuan ingin mengadukan istrinya karena sering marah-marah.

Setelah beberapa kali mendatangi kediaman Umar, laki-laki itu tidak pernah menjumpai Sang Khalifah. Si laki-laki hanya bertemu dengan istrinya yang menyampaikan pesan, Umar belum pulang. Beliau masih sibuk dengan urusan rakyatnya.

Kali ini, laki-laki itu tidak putus asa. Dia ingin sekali bertemu Umar dan yakin Sang Khalifah akan berada di tempat tinggalnya. Ini setelah jarak beberapa meter sampai ke rumah Umar, lelaki itu melihat sosok Sang Khalifah. Dia yakin itu adalah orang yang dia tuju.

Sampai di depan rumah, laki-laki itu tidak langsung mengetuk pintu karena mendengar suara keras yang ditujukan kepada Umar. Meski beberapa kali suara perempuan itu meninggi, tidak ada sepatah kata pun balasan dari suara lain. Suara lain yang dimaksud adalah suara Umar yang enggan membantah masalah-masalah sepele. Dia beranggapan masalah kecil tidak perlu diperbesar.

Setelah melihat dan mendengar keadaan Umar yang pasif ketika dimarahi istrinya, laki-laki yang ingin menceritakan keadaan istrinya yang sering marah-marah itu juga menjadi ragu, jika keluhannya akan didengar. Karena jika seorang amirul mukminin saja seperti itu, bagaimana denganku? gumamnya dalam hati.

Laki-laki itu pun pergi meninggalkan rumah umar. Namun, berjalan beberapa langkah, tiba-tiba dia mendengar suara umar memanggilnya. Apa keperluanmu? kata Umar.

Tanpa basa-basi, laki-laki yang telah menguping Umar dimarahi istrinya langsung berkata, Wahai, amirul mukminin, aku datang untuk mengadukan perangai buruk istriku dan sikapnya kepadaku. Tapi, aku mendengar hal yang sama pada istrimu, ujarnya.

Umar bin Khattab kemudian tersenyum. Dia pun mengisahkan kepada lelaki itu mengapa Umar yang keras begitu sabar menghadapi istrinya. Wahai, saudaraku, aku tetap sabar menghadapi perbuatannya karena itu memang kewajibanku.

Alih-alih menghardik istrinya, Umar malah menceritakan betapa besar jasa istrinya dalam kehidupannya di dunia. Bagaimana aku bisa marah kepada istriku karena dialah yang mencuci bajuku, dialah yang memasak roti dan makananku, ia juga yang mengasuh anak-anakku, padahal semua itu bukanlah kewajibannya, katanya.

Umar bin Khattab kemudian menasihati lelaki itu bersikap sabar kepada istrinya karena istrinyalah yang membuat dia tenteram di sampingnya. Karena istriku, aku merasa tenteram (untuk tidak berbuat dosa). Maka, aku harus mampu menahan diri terhadap perangainya, katanya.

Wahai, amirul mukminin, istriku juga demikian, kata lelaki itu. Amirul mukminin pun menjawab, Maka, hendaknya engkau mampu menahan diri karena yakinlah hal tersebut hanya sebentar saja.

Laki-laki itu pun akhirnya pergi dan menjalankan apa yang diperintahkan Umar, yakni bersabar. Setelah ia menjalankan perintah Umar agar selalu sabar ketika mendapati istrinya yang sedang marah-marah, kini istrinya tidak marah lagi. Ternyata benar apa yang disampaikan Umar, marahnya seorang istri hanya sebentar, ujarnya dalam hati. [yy/republika]