<
pustaka.png
basmalah.png

Shalat dan Disiplin

Shalat dan Disiplin

Fiqhislam.com - Ibadah ritual dalam Islam sangat berpengaruh dalam membentuk karakter dan kepribadian Muslimin. Shalat adalah salah satunya.

Banyak efek positif shalat yang berguna untuk pengembangan kepribadian, salah satunya adalah kedisiplinan atau keteraturan.

Hikmah kedisiplinan dalam konsep shalat telah banyak dikemukakan oleh para pemikir dan ulama Islam. Shalat fardhu yang wajib dilaksanakan oleh seorang Muslim dalam sehari semalam ada lima kali. Waktunya pun sudah terjadwal dengan rapi.

''Sesungguhnya shalat bagi orang-orang Mukmin adalah kewajiban yang waktunya ditentukan (terjadwal).'' (QS An-Nisaa': 103). Penentuan waktu shalat ini jelas menunjukkan ajaran kedisiplinan yang berperan penting dalam kesuksesan seseorang.

Kita bisa melihat dan membaca kisah kesuksesan orang karena aktivitas yang mereka lakukan setiap harinya terjadwal dengan baik. Orang yang jarang membuat jadwal kegiatan cenderung melalaikan suatu kegiatan yang seharusnya dikerjakan pada waktu itu.

Ternyata konsep shalat sejak jauh hari telah mengenalkan konsep penjadwalan sebelum kemunculan konsep-konsep manajeman dan self development modern. Kita juga bisa mengambil pelajaran disiplin dari tata cara shalat. Mulai dari bersuci sampai pelaksanaan shalat, dan bahkan setelah shalat.

Konsep tertib dalam aktivitas shalat mengajarkan kedisiplinan dan keteraturan. Seseorang tidak dibenarkan mendahulukan suatu rukun shalat yang seharusnya diakhirkan. Kalau dia tetap melakukannya, jelas shalatnya tidak sah secara syariah.

Tahapan-tahapan yang dilalui secara berurutan dalam shalat akan membentuk karakter seseorang untuk bertindak cermat dan tidak terburu-buru dalam menentukan dan melakukan sesuatu dalam kehidupannya. Rasulullah SAW menekankan kepada kita agar melakukan shalat berjamaah.

Beliau menyatakan bahwa orang yang shalat berjamaah akan memperoleh derajat yang berlipat ganda dibandingkan dengan orang yang shalat sendirian. ''Shalat jamaah itu lebih afdhal (unggul/memiliki nilai lebih) sebanyak 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendirian.'' (hadits syarif).

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa dalam aktivitas jamaah terdapat unsur-unsur disiplin yang tidak terdapat dalam shalat sendirian. Shalat berjamaah minimal mengandung nilai tepat waktu, keteraturan dalam kelompok. Ajaran tepat waktu bisa dipahami mengingat shalat jamaah biasanya dilakukan di masjid dan ketika waktu shalat baru masuk.

Sedangkan keteraturan dalam kelompok tecermin lewat hubungan imam-makmum. Seorang makmum tidak dibenarkan mendahului aktivitas imamnya dalam setiap rukun shalat. Dia baru bisa berpindah dari satu rukun ke rukun yang lain setelah adanya komando dari imam. [yy/republika]

Oleh Abdul Gafur

 

Shalat dan Disiplin

Fiqhislam.com - Ibadah ritual dalam Islam sangat berpengaruh dalam membentuk karakter dan kepribadian Muslimin. Shalat adalah salah satunya.

Banyak efek positif shalat yang berguna untuk pengembangan kepribadian, salah satunya adalah kedisiplinan atau keteraturan.

Hikmah kedisiplinan dalam konsep shalat telah banyak dikemukakan oleh para pemikir dan ulama Islam. Shalat fardhu yang wajib dilaksanakan oleh seorang Muslim dalam sehari semalam ada lima kali. Waktunya pun sudah terjadwal dengan rapi.

''Sesungguhnya shalat bagi orang-orang Mukmin adalah kewajiban yang waktunya ditentukan (terjadwal).'' (QS An-Nisaa': 103). Penentuan waktu shalat ini jelas menunjukkan ajaran kedisiplinan yang berperan penting dalam kesuksesan seseorang.

Kita bisa melihat dan membaca kisah kesuksesan orang karena aktivitas yang mereka lakukan setiap harinya terjadwal dengan baik. Orang yang jarang membuat jadwal kegiatan cenderung melalaikan suatu kegiatan yang seharusnya dikerjakan pada waktu itu.

Ternyata konsep shalat sejak jauh hari telah mengenalkan konsep penjadwalan sebelum kemunculan konsep-konsep manajeman dan self development modern. Kita juga bisa mengambil pelajaran disiplin dari tata cara shalat. Mulai dari bersuci sampai pelaksanaan shalat, dan bahkan setelah shalat.

Konsep tertib dalam aktivitas shalat mengajarkan kedisiplinan dan keteraturan. Seseorang tidak dibenarkan mendahulukan suatu rukun shalat yang seharusnya diakhirkan. Kalau dia tetap melakukannya, jelas shalatnya tidak sah secara syariah.

Tahapan-tahapan yang dilalui secara berurutan dalam shalat akan membentuk karakter seseorang untuk bertindak cermat dan tidak terburu-buru dalam menentukan dan melakukan sesuatu dalam kehidupannya. Rasulullah SAW menekankan kepada kita agar melakukan shalat berjamaah.

Beliau menyatakan bahwa orang yang shalat berjamaah akan memperoleh derajat yang berlipat ganda dibandingkan dengan orang yang shalat sendirian. ''Shalat jamaah itu lebih afdhal (unggul/memiliki nilai lebih) sebanyak 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendirian.'' (hadits syarif).

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa dalam aktivitas jamaah terdapat unsur-unsur disiplin yang tidak terdapat dalam shalat sendirian. Shalat berjamaah minimal mengandung nilai tepat waktu, keteraturan dalam kelompok. Ajaran tepat waktu bisa dipahami mengingat shalat jamaah biasanya dilakukan di masjid dan ketika waktu shalat baru masuk.

Sedangkan keteraturan dalam kelompok tecermin lewat hubungan imam-makmum. Seorang makmum tidak dibenarkan mendahului aktivitas imamnya dalam setiap rukun shalat. Dia baru bisa berpindah dari satu rukun ke rukun yang lain setelah adanya komando dari imam. [yy/republika]

Oleh Abdul Gafur

 

Melalaikan Shalat, Merugikan Diri Sendiri

Melalaikan Shalat, Merugikan Diri Sendiri


Fiqhislam.com - "Tegakkanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar" (QS 29: 45)

Melalaikan shalat tidak hanya bermakna tidak menjalankannya. Bagi orang yang sudah menjalankannya pun apabila luput dari substansi shalat juga bisa dimaknai melalaikannya.

Mengenai hal ini konon Sunan Kalijaga, dai di Tanah Jawa pada abad ke-16, punya penilaian yang menarik: uwis shalat ananging durung shalat. Artinya, 'sudah shalat tetapi belum shalat.'

Dengan demikian melalaikan shalat bisa bermakna formal tetapi juga bisa substansial.

Formalitas shalat yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam memang wajib dijalankan sesuai amalan Nabi SAW. Tidak bisa ditambah-tambahi apalagi dikurangi baik syarat, rukun, wajib, maupun cara dan urutannya. Oleh karena itu, siapa pun yang menjalankan shalat wajib belajar dan memahami seluk-beluknya.

Sebab, jangan-jangan secara tidak sadar shalat kita belum benar dan itu berarti lalai. Para ahli hukum menegaskan bahwa shalat tergolong ibadah khusus yang punya kaidah: semua amalan shalat haram dijalankan kecuali yang diperintahkan (diamalkan) Rasulullah saw.

Adapun substansi shalat kaitannya dengan perilaku manusia sesuai dengan ayat di atas adalah mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Siapa pun yang menjalankan shalat wajib berikhtiar sekuat tenaga untuk jauh dari perbuatan yang tercela, tertolak, dan salah. Tidak ada kasus shalat jalan terus tetapi korupsinya jalan terus, menipu, menindas, mencuri juga jalan terus. Sebab segala perbuatan yang keji, jelek, dan tercela itu tidak bisa berjalan seiring dengan perbuatan shalat.

Tidak melalaikan berarti menyadari dan menjaganya. Menjaga shalat dengan demikian bisa dimaknai menjalankannya secara benar dan khusyuk, serta menjaga perilaku di luar shalat agar jauh dari perbuatan keji dan munkar.

Sebutlah untuk menjalankan shalat Subuh cukup lima menit, tapi untuk menjaga shalat Subuh berarti menjauhkan diri dari perbuatan keji dan tercela itu seusai shalat Subuh hingga masuk waktu shalat dzuhur.

Begitu juga untuk menjalankan shalat dzuhur cukup lima menit lantas diperlukan untuk menjaganya hingga masuk waktu shalat Ashar. Demikian seterusnya, sehingga lima kali kita jalankan shalat wajib dalam sehari akan 24 jam kita jauhi perbuatan keji dan munkar.

Jika kita cermati hadits Nabi yang menegaskan bahwa amalan pertama yang kelak diperhitungkan adalah amalan shalat, tentu cakupannya tidak sebatas pada shalat formal. Sebab, selain rentang waktunya amat sempit dibanding waktu di luar shalat, juga apa manfaat dan bekas shalatnya jika perilaku di luar shalat nyatanya tidak mencerminkan substansi shalat.

Formalitas dan substansi shalat harus kita jaga, sesuai dengan perintah shalat dalam Al Quran yang selalu memakai kata qawama, aqamu, aqimu yang sering diterjemahkan sebagai 'tegakkan'.

Menjaga ataupun menegakkan shalat berarti bersikap dewasa dalam shalat. Sebab, jika masih juga kita sebatas formalitas, maka seperti shalatnya anak-anak yang dikategorikan sudah shalat tetapi belum shalat. Wallahu a'lam bis shawab. [yy/republika]

Oleh Muhammad Nasiruddin

 

top