27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Harap dan Takut

Harap dan Takut

Fiqhislam.com - Syekh Jamaludin al-Qasimi dalam Saripati Ihya Ulumuddin menjelaskan, harap dan takut bak dua sayap yang membuat seseorang terbang ke tingkatan terpuji.

Keduanya pun menjadi kendaraan untuk melalui setiap rintangan menuju akhirat.

Lewat harap kita dituntun untuk mendekat dengan Sang Maha Pengasih. Sebaliknya, adanya ketakutan membuat kita terhalau dari neraka jahim. Para pemilik hati telah mengetahui jika dunia adalah la dang akhirat. Hati ibarat tanah, sedangkan iman seperti benih tanaman. Hari kiamat pun men jadi waktu panennya. Tidaklah seorang pun memanen kecuali apa yang telah ditanamnya.

Rasa harap seorang hamba akan ampunan dianalogikan dengan rasa harap pemilik tanaman. Untuk mencari tanah yang subur, setiap orang harus menebarkan benih yang baik dan tidak berpenyakit. Dia juga harus memberi benih itu semua kebutuhannya. Pemilik tanaman itu harus menyiram air pada waktunya. Dia pun mesti membersihkan duri-duri dan rumput dari tanah, termasuk segala sesuatu yang bisa menghalangi pertumbuhan dan merusak benih itu

Setelah semua upayanya maksimal, dia pun bisa duduk seraya menantikan karunia Allah berupa terhindarnya petir dan berbagai penyakit yang merusak tanaman. Sampai tanaman itu tumbuh dan mencapai puncak pertumbuhannya.

Penantian itu pun disebut dengan harapan. Pada kondisi lain, dia menyebar benih di tanah keras lagi tandus. Dia pun enggan menyirami tanaman itu dengan air dan meng abaikan perawatan. Namun, dia ikut menantikan panen dari benih tanaman itu. Penantiannya pun disebut dengan kedunguan dan ketertipuan, bukan harapan.

Terkadang, dia menaburkan benih di tanah yang subur, tetapi tidak diairi. Dia hanya menunggu air hujan tiba. Namun, ketika hujan tidak turun, benihnya mati karena tak mendapat air. Sementara, dia terus menanti. Penantiannya disebut dengan angan-angan. Sebutan harapan sejatinya untuk penantian sesuatu yang diinginkan. Namun, seluruh sebabnya termasuk ikhtiar seorang hamba telah disiapkan. Apa yang tersisa adalah karunia Allah Ta'ala.

Bukankah Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan (orang-orang) yang berhijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah." (QS Al Baqarah: 2).

Mereka pantas untuk mengharapkan rahmat Allah karena Allah juga berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah serta mendirikan shalat dan mengeluarkan infak dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi," (QS Fatir: 29).

Sebaliknya, barang siapa yang menjerumuskan diri ke dalam hal yang dibenci Allah SWT, dia pun tidak bertekad untuk bertobat kembali atas kezalimannya itu. Harapannya itu tak ubah seperti orang yang menyebarkan benih di tanah tandus. Dia pun tak mau merawat benihnya dengan pengairan dan pembersihan. [yy/republika]