5 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 29 Nopember 2022

basmalah.png

Hati-hati dengan Hutang

Hati-hati dengan Hutang

Fiqhislam.com - Realitas hidup di zaman sekarang mempermudah orang untuk berutang. Lihat saja, penawaran kredit ada di hampir setiap mal atau pusat perbelanjaan, misalnya toko-toko barang elektronik atau kendaraan pribadi. Bahkan, tak sedikit yang menerapkan mekanisme bunga alias riba.

Tidak seperti riba yang hukumnya haram, utang pada dasarnya dibolehkan (jaaiz) menurut hukum Islam. Dalam surah al-Baqarah ayat 282, Allah SWT telah menjelaskan secara detail bagaimana seharusnya seorang Muslim ketika mengambil utang. Misalnya, perjanjian utang-piutang harus dicatat. Kemudian, kriteria saksi-saksi yang dihadirkan untuk menyaksikan perjanjian itu.

Rasulullah SAW sendiri pernah berutang di masa hidupnya. Akan tetapi, Nabi Muhammad SAW melakukan itu hanya untuk memenuhi kebutuhan mendasar yang memang ketika beliau hendak berutang tak memilikinya. Umpamanya, makanan.

Nabi SAW juga selalu memiliki barang untuk menjamin utangnya itu. Bila pada waktu yang ditentukan beliau tak dapat membayar utang, peminjamnya dapat mengambil barang tersebut.

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, dari Aisyah RA, dikatakan bahwa Nabi SAW membeli makanan dari seorang Yahudi dengan cara tidak tunai (utang), lalu beliau menggadaikan baju zirahnya.

Kemudahan pada masa kini jangan sampai melalaikan kita. Bila Rasulullah SAW saja berutang hanya untuk keperluan primer, mengapa kita melakukannya untuk kebutuhan yang tidak terlalu penting (tersier)?. Bahkan, di antara kita berutang untuk sekadar pamer di tengah kawan-kawannya?.

Nabi SAW mengajarkan umatnya untuk hati-hati berutang. Orang yang punya kebiasaan berutang disinggung dalam sebuah hadis. Beliau shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya orang yang (punya kebiasaan) berutang jika berbicara, suka berdusta, dan jika berjanji, dia suka mengingkari" (HR Bukhari-Muslim).

Karena itu, jika hendak mengambil utang, tanyalah secara jujur pada diri sendiri, apakah barang yang hendak dimiliki benar-benar suatu kebutuhan? Sebab, begitu menjadi debitur, seseorang tak akan leluasa, sebagaimana sebelumnya dia tanpa utang. Dia akan ditagih dan harus bisa menunaikan janjinya untuk melunasi utang.

Rasulullah SAW bersabda, segala amal itu bergantung pada niatnya. Kalau seorang debitur memang betul-betul serius ingin melunasi utang (yang tanpa riba), insya Allah kemudahan akan ditemukan.

Sebaliknya, bila terus-menerus mengelak, maka kerugian justru akan menimpa dirinya. "Memperlambat (dengan sengaja) pembayaran utang, padahal mampu membayarnya, adalah suatu kezaliman," sabda Rasulullah SAW (HR Bukhari-Muslim).

Dalam hadis riwayat yang sahih, beliau juga berpesan, "Barangsiapa yang meminjam harta orang lain dan dia ada keinginan membayarnya, maka Allah akan membayarkannya. Namun, barangsiapa yang meminjam dan tidak ingin membayarnya (melunasi), maka Allah akan menghilangkan harta itu darinya."

Sementara, masa hidup ada batasnya. Tiap jiwa pasti akan merasakan ajal. Seorang yang beramal saleh tetap akan menemui kesulitan di alam akhirat ketika masih membawa utang. Nabi SAW bersabda, "Gugur di jalan Allah itu menebus segala (dosa-dosa) selain utang” (HR. Muslim).

Dalam hadis riwayat Bukhari, diceritakan bahwa ketika Nabi SAW akan menjadi imam shalat jenazah, beliau terlebih dahulu bertanya apakah almarhum memiliki utang. Dijawab oleh para sahabat, benar almarhum memiliki utang. Maka Rasul SAW pun tidak mau menshalati jenazahnya, tetapi menyuruh para sahabatnya untuk melakukannya. Barulah ketika seseorang datang menjamin pelunasan utang almarhum, beliau mau menshalatinya.

Dengan cara itu, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk hati-hati berutang. Jangan sampai harta habis, sedangkan utang masih bertumpuk-tumpuk. Beliau sering berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari siksa kubur, dari fitnah al-Masiih Dajjal, dari fitnah kehidupan, dan dari fitnah kematian. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari hal-hal yang menyebabkan dosa, dan dari berutang.“ [yy/republika]