11 Muharram 1444  |  Selasa 09 Agustus 2022

basmalah.png

Akibat Buruk Kedengkian

Akibat Buruk Kedengkian

Fiqhislam.com - Pentingnya menghindari rasa iri dan dengki, sifat ini, bukan hanya berbahaya bagi diri sendiri, melainkan juga bisa berdampak buruk terhadap orang lain.

Suatu ketika, di suatu daerah ada raja yang peduli dengan nasib rakyatnya. Tiap beberapa pekan sekali, ia mengundang rakyat datang ke istana dan bertatap muka dengannya. Pertemuan ini dipergunakan sebagai wadah penyaluran aspirasi.

Benar saja, pada waktu yang sudah ditentukan, semua undangan yang kebanyakan dari rakyat jelata itu memenuhi ruang tunggu istana.

Di antara mereka yang menyampaikan keluhan, ada yang memberikan masukan, ada pula yang hanya menyampaikan kata-kata hikmah lalu pergi tanpa bicara panjang lebar setelah berjabatangan dengan raja. Beberapa pekan kemudian, raja kembali menggelar kegiatan yang sama, yakni pertemuan antara raja dan rakyat jelata.

Ketika acara belum dimulai dan rakyat sudah menunggu di ruang tunggu istana, raja teringat dengan seorang anak muda yang menyampaikan kata-kata singkat tapi penuh makna. Lalu, raja memanggilnya.

"Acara sudah dibuka, silakan kalian menyampaikan apa saja yang kalian mau sampaikan. Tapi, sebelum itu saya ingin memanggil kepada anak muda yang berada di barisan tengah itu," kata raja.

Semua rakyat jelata yang berada di ruang tunggu saling memandang dan menunjuk diri sendiri. Tapi, semua orang yang menunjuk dirinya masing-masing itu bukan yang dimaksud raja. Berkat bantuan dari pengawalnya, orang yang dimaksud raja itu akhirnya dipersilakan untuk menemui raja terlebih dahulu.

Setelah bertatap muka dengan raja, orang yang diminta lebih dulu menemui raja itu tidak banyak bicara. Dia hanya mengatakan, "Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya," kemudian berlalu pergi.

Setiap kali ada pertemuan raja dan rakyat jelata, kata-kata hikmat itu yang selalu disampaikan anak muda. Tapi, kata-kata singkat itu menjadikan anak muda itu dekat dengan raja. Ketika ada acara yang sama, ia selalu diberikan kesempat pertama untuk menemui raja. Apa yang disampaikannya masih sama yakni.

"Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya."

Melihat anak muda itu selalu dinomorsatukan, timbul rasa iri dan dengki dari setiap pengunjung kepada anak muda tersebut. Di antara sekian banyak orang yang iri dan dengki, ada satu orang anak muda yang iri dan dengki berlebihan karena melebih batas orang-orang pada umumnya.

Setelah semua rakyat selesai menyampaikan keluhan, giliran anak muda yang dengki itu terakhir menemui raja. Saat bertemu dia juga tidak panjang lebar dan hanya berkata.  "Lelaki itu (yang Anda panggil duluan) jika keluar dari sini selalu berbicara buruk tentang Anda. Ia juga berkata bahwa bau mulutmu busuk."

Karena ini mimbar bebas antara raja dan rakyatnya, mendengarkan perkataan itu raja hanya  terdiam dan langsung meminta dokter perawat pribadinya untuk memeriksa keadaanya mulutnya. Apakah benar mulutnya memang berbau busuk. Setelah diperiksa, keadaannya baik-baik saja tanpa ada masalah.

Pada pertemuan selanjutnya, anak muda yang dengki itu duduk di tepi jalan yang biasa dilalui oleh anak muda yang dianggap yang paling akrab dengan raja karena selalu dipanggil lebih dulu.

Tujuan anak muda pendengki itu mencegatnya adalah untuk mengajaknya ke rumah sebelum berangkat ke istana "Kemarilah, singgahlah ke rumahku, nanti kita sama-sama ke istana," katanya.

Mendengarkan tawaran itu anak muda yang akrab dengan raja itu mau. Dan, setelah berada di rumahnya, si pendengki itu menawarkan makanan yang bahannya banyak menggunakan bawang merah dan putih. Lelaki yang akrab dengan raja itu awalnya menolak, tapi karena tidak ingin mengecewakan pemilik rumah akhirnya dimakan juga.

Tentunya, setelah makan bawang merah dan putih baunya tidak mudah hilang. Setelah mengabiskan makan yang disediakan si pendengki, mereka berdua pergi ke istana. Seperti biasa, anak muda itu dipanggil lebih awal oleh raja dan berkata hal yang sama.

"Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya," kata anak muda itu sambil menutup mulutnya.

Melihat perilaku yang tidak biasa yang dilakukan anak muda itu, rupanya raja tersinggung. Raja mengira, apa yang didengarnya waktu itu memang benar bahwa anak muda itu telah menggunjingnya. "Rupanya, benar perkataan orang itu, ia benar-benar menganggap mulutku bau," katanya dalam hati.

Karena merasa direndahkan, sang raja kemudian memikirkan suatu rencana jahat terhadap anak muda itu. Raja lalu meminta anak muda itu menyampaikan surat hasil tulisan tangannya. "Bawalah surat ini dan serahkanlah kepada fulan."

Ternyata, surat itu berisi, "Jika sampai kepadamu pembawa surat ini maka sembelih dan kulitilah dia, kemudian isilah tubuhnya dengan jerami."

Berbalik

Setelah itu, anak muda itu keluar hendak membawa surat raja kepada si fulan. Di tengah jalan, ia bertemu dengan si pendengki. "Apa yang kamu bawa?" tanyanya. "Surat raja untuk fulan. Surat ini beliau tulis dengan tangannya sendiri," katanya.

Si pendengki itu tahu, biasanya beliau tidak pernah menulis surat sendiri kecuali dalam urusan pembagian hadiah. "Berikanlah surat itu kepadaku, aku ini sedang butuh uang," pintanya. Ia kemudian menceritakan kesulitan hidupnya. Karena kasihan, surat itu akhirnya ia serahkan kepada si pendengki.

Si pendengki menerimanya dengan senang hati. Setelah sampai di tempat tujuan, ia menyerahkan surat itu kepada teman raja. "Masuklah ke sini, raja menyuruhku membunuhmu," kata teman raja.

Si pendengki kaget, ia tidak percaya bahwa suratnya itu diperintahkan untuk membunuh si pembawa surat yang pertama. Si pedengki itu mencoba bernegoisaasi dan berkata.  "Yang dimaksud bukan aku, coba tunggulah sebentar biar kujelaskan," katanya dengan ketakutan.

Namun, si penerima surat tidak mengindahkannya. "Perintah raja tak bisa ditunda," katanya. Seketika, si pendengki itu dibunuh, kemudian langsung dikuliti dan tubuh si pendengki diisi dengan jerami.

Keesokan harinya, lelaki itu datang sebagaimana biasa dan berkata, "Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya." Raja heran melihatnya masih hidup. Setelah diselidiki, terbongkarlah keburukan si pendengki.

Raja akhirnya meminta penjelasan anak muda itu. Kata anak muda itu bahwa ia diundang oleh sorang laki-laki dan menawarkan makanan yang banyak bawang merah dan putihnya.

Kebetulan, pada saat itu, kata anak muda itu, bertepatan dengan acara pertemuan raja dan rakyat. "Agar bau mulutku tidak tercium olehmu maka aku tutup mulutku."

Anak muda itu melanjutkan, "Setelah keluar dari istana Anda, orang yang mengajak aku ke rumahnya menemuiku dan menanyakan titipanmu. Aku lalu menyerahkannya setelah dia menceritakan kesusahannya."

Mendengar jalannya cerita, tahulah raja bahwa orang itu ternyata dengki kepada sahabatnya. Raja berkata, "Benar ucapanmu. Jika orang yang berbuat baik akan mendapat balasan dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya. [yy/republika]