27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Memaafkan Dapat Melahirkan Kesabaran

Memaafkan Dapat Melahirkan Kesabaran

Fiqhislam.com - Perasaan benci mudah menyelinap ke dalam hati, terutama saat seseorang mendapat kan perlakuan tak baik atau tak adil dari orang lain. Menjadi sebuah cobaan berat bagi seseorang untuk tetap mampu bersikap baik terhadap mereka yang bersikap tak bersahabat terhadap dirinya.

Dalam hal ini, Rasulullah memberikan contoh. Di tengah perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah, Rasul dan Abu Bakar sempat bersembunyi di Gua Tsur untuk menghindari pengejaran kaum Quraisy. Para pengejar sebetulnya sudah sangat dekat dengan tempat persembunyian mereka, namun Allah SWT berkehendak lain.

Mereka tak menemukan dua orang yang saling bersahabat itu. Imam Bukhari meriwayatkan dari jalur Anas bin Malik mengenai kisah Abu Bakar bersama Muhammad SAW. Abu Bakar mengatakan, ia bersama Rasul di dalam gua. Saat mengangkat kepala, ia melihat kelompok pengejar.

Ia berkata, seandainya mereka menundukkan kepala, tentu akan melihat orang yang bersembunyi. Rasul meminta Abu Bakar diam dan menegaskan bahwa Allah SWT bersama mereka. Dalam kondisi mencekam itu, kata Sopian Muhammad dalam bukunya, Manajemen Cinta Sang Nabi, Rasul tak mendoakan hal buruk.

Rasul tak mengangkat tangan meminta kepada Allah agar mencelakakan orang-orang yang mau mencelakakannya itu. Kebencian tak menyelimuti dirinya. Ia tak mengumbar dendam kepada mereka yang telah membuatnya dalam kondisi yang sangat menyulitkan serta terusir dari tanah kelahirannya.

Perlakuan buruk pernah ia rasakan saat mengajak warga Thaif menuju kebenaran. Bukan sambutan hangat yang ia peroleh, malah siksaan hingga ia berlumur darah. Ia mengadukan kelemahannya kepada Allah. Malaikat diutus dan siap menjalankan apa yang Muhammad inginkan, termasuk menghancurkan gunung di Thaif agar warganya terazab.

Muhammad menolak tawaran itu. Ia tak memperturutkan kebencian dalam dirinya untuk menyetujui tawaran malaikat yang diutus Allah. Sebaliknya, ia meminta kepada Sang Pencipta agar memberikan hidayah kepada mereka.

Sebab, ia anggap mereka tidak tahu kebenaran yang ia tawarkan. Mengenai sikap Nabi ini, Sopian mengutip kalimat bijak, kejahatan dibalas kejahatan adalah dendam. Kebaikan dibalas kebaikan adalah perkara biasa. Sedangkan, kebaikan dibalas kejahatan merupakan kezaliman. Tapi, jika kejahatan dibalas kebaikan, itu adalah mulia dan terpuji. Kemuliaan terpancar pada diri Muhammad melalui akhlaknya.

Menurut Sopian, sikap utusan Allah itu juga menunjukkan kemampuan memaafkan orang lain. Dari temuan sejumlah peneliti, kekuatan memaafkan sangat luar biasa, khususnya bagi orang yang mampu memaafkan. “Sebab, memaafkan meredam emosi negatif, menghalau rasa dendam, meluaskan hati dan perasaan, serta mematangkan mental.’’

Dalam buku Forgive for Good, Dr Frederic Luskin menjelaskan, sifat memaafkan dapat menjadi resep bagi kesehatan dan kebahagiaan, memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran, seperti harapan, kesabaran, dan percaya diri. Sifat tak mendendam dan suka memaafkan menunjukkan Rasulullah mempunyai hati luas dan berjiwa besar.

Buku Terampil Bersahabat dengan Siapa Saja karya Imam al-Ghazali menjelaskan, Ibnu Abbas berucap bahwa setiap kali seseorang memaafkan perlakuan zalim yang diterimanya, Allah menambahkan kemuliaan pada orang itu. Rasul, jelas al-Ghazali, menekankan pada sikap memaafkan ini. Harta yang disedekahkan, ujar Rasul, tidak pernah berkurang dan Allah pasti menambah kemuliaan kepada hamba-Nya yang tidak segan memberikan maaf. [yy/republika]