pustaka.png
basmalah.png


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Nama 10 Tahun Pertama dalam Sistem Hijriah

Nama 10 Tahun Pertama dalam Sistem Hijriah


Fiqhislam.com - Tahun pertama sejak hijrah dinamakan sebagai Sanat al-Idzn, ‘Tahun Izin”. Dinamakan demikian karena saat itu umat Islam diizinkan oleh Allah berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Tahun kedua disebut sebagai Sanat al-Amr, ‘Tahun Perintah’, karena Allah mulai memerintahkan kaum Muslimin untuk berperang demi membela diri terhadap kaum musyrikin. Perang yang dimaksud terjadi di Badr pada 17 Ramadhan dan berakhir dengan kemenangan pada umat Rasulullah SAW.

Tahun ketiga digelari Sanat at-Tamhish karena berkaitan dengan turunnya surah Ali ‘Imran ayat 141, “Waliyumahhishallahulladziina aamanuu ….” Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menjelaskan, turunnya wahyu Allah itu berkenaan dengan kekalahan kaum Muslimin dalam Perang Uhud.

Ayat ini memberi gambaran tentang penyaringan (tamhiish). Allah SWT menyaring orang-orang yang beriman dari kaum kafir. Maka dari itu, kaum Muslimin kembali bangkit dari duka. Sesungguhnya, Uhud bukanlah akhir perjuangan menegakkan kalimat tauhid di muka bumi.

Tahun keempat dinamakan Sanat at-Turfiah. Pada tahun ini, umat Islam mulai menerima beberapa kelonggaran. Misalnya, hukum tayamum untuk mengganti wudhu dan shalat khauf ketika perang berlangsung.

Tahun kelima dikenang sebagai Sanat al-Zalzal karena saat itu Madinah diguncang gempa bumi (al-zalzalah) dan pelbagai ujian yang menimpa kaum Muslimin, semisal kelangkaan pangan dan Perang Parit.

Tahun keenam dinamakan Sanat al-Isti`nas, karena berkaitan dengan turunnya surah an-Nur ayat ke-27. Maknanya, orang Mu`min dilarang memasuki rumah orang lain sebelum meminta izin (tasta`nisu) dan memberi salam kepada penghuninya.

Tahun ketujuh disematkan dengan Sanat al-Istighlab, mengingat konteks Perang Khaibar yang di dalamnya kaum Muslimin berhasil mengatasi (ghalaba) kaum Yahudi.

Tahun kedelapan digelari Sanat al-Istiwa`, yang dapat dimaknai ‘Tahun Sama Rata’. Peristiwa penting yang terjadi saat itu adalah penaklukan Makkah (Fathu Makkah). Tepatnya pada 10 Ramadhan.

Di dalamnya, Rasulullah SAW tidak berperang, melainkan justru mendamaikan antara umatnya dan penduduk Makkah. Hasilnya, berbondong-bondonglah masyarakat setempat memeluk Islam, tanpa paksaan sedikit pun. Tidak ada lagi strata penindasan. Mereka sama-sama Muslimin dan kedudukannya sejajar sebagai hamba Allah.

Tahun kesembilan dinamakan Sanat al-Bara`ah yang di dalamnya turun Surah at-Taubah. Surah itu dibuka dengan pernyataan bahwa Allah dan Rasul-Nya berlepas diri (baraa`ah) dari kaum musyrikin. Makna lainnya, seperti dijelaskan Buya Hamka, mulai saat itu semua perjanjian yang pernah dibuat antara Nabi SAW dan kaum musyrikin tidak berlaku lagi.

Tahun ke-10 sejak hijrahnya Rasulullah SAW disebut sebagai Sanat al-Wadaa’, ‘Tahun Perpisahan’, karena saat itulah berlangsungnya haji perpisahan (Haji Wada’). Itulah ritual haji yang bersejarah sekaligus amat memilukan bagi umat Islam kala itu. Bagaimana tidak? Mereka beberapa waktu lagi akan berpisah dengan Rasulullah SAW tercinta.

Tahun yang sama juga dijuluki Sanat Muhimah, ‘Tahun Perutusan’, karena Nabi SAW mulai mengirim utusan-utusan kepada para penguasa, baik Arab maupun non-Arab, untuk menyampaikan Islam.

Tradisi menyebut tahun sesuai dengan kejadian unik tertentu mulai ditinggalkan sejak zaman Khalifah Umar bin Khaththab. Sahabat yang bergelar al-Faruq itu memperkenalkan penanggalan Hijriah yang lebih sistematis. [yy/republika]