16 Rabiul-Awal 1443  |  Sabtu 23 Oktober 2021

basmalah.png

Ketika Abu Jahal 'Menantang' Malaikat Penjaga Neraka

Ilustrasi


Fiqhislam.com - Sungguh buruk berbagai tipu daya kaum musyrikin di Makkah pada masa awal dakwah Rasulullah SAW. Di antara mereka terdapat Abu Jahal alias Amr bin Hisyam yang dengan angkuhnya mengingkari Alquran dan petunjuk Nabi SAW.

Beberapa perangai Abu Jahal kemudian menjadi sebab turunnya (asbabun nuzul) ayat-ayat Alquran. Misalnya, surah al-Muddatstsir ayat ke-31. Terjemahannya sebagai berikut.

"Dan yang Kami jadikan penjaga neraka itu hanya dari malaikat; dan Kami menentukan bilangan mereka itu hanya sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, dan supaya orang yang beriman bertambah imannya, dan supaya orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu; dan supaya orang-orang yang ada di dalam hatinya penyakit dan orang-orang kafir (berkata): 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai suatu perumpamaan?' Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia."

Abu Ishaq meriwayatkan kisah asbabun nuzul tentang ayat tersebut. Suatu ketika, Abu Jahal berseru kepada penduduk Makkah, "Wahai sekalian warga Quraisy. Muhammad telah menyatakan bahwa bala tentara Allah yang nantinya akan mengazab kalian di neraka berjumlah 19. Sementara, kalian berjumlah sangat banyak. Mungkinkah 100 orang dari kalian tidak mampu menghadapi satu dari mereka?"

Setelah itu, turunlah ayat ke-31 dari surah al-Muddatstsir itu. Dalam riwayat lain dari Suddi dikisahkan sebagai berikut.

"Ketika turun ayat ke-30 (dari surah al-Muddatstsir), 'Di atasnya ada 19 (malaikat penjaga)', maka seorang laki-laki dari Quraisy yang bernama Abu Asydaq berseru, 'Wahai orang-orang Quraisy. Janganlah kalian merasa gentar dengan 19 malaikat tersebut. Dengan bahu kanan saya ini saja, saya akan mengatasi 10 dari mereka, sementara yang sembilan lagi dengan bahu kiri saya."

Demikianlah cara orang-orang musyrikin meledek ayat-ayat Allah. Hati mereka telah gelap sehingga menolak merenungi makna dan hikmah di balik setiap firman-Nya. Mereka begitu sombong dan menganggap kehidupan hanya di dunia kini-di sini saja, tidak akan dibangkitkan lagi kelak di akhirat.

Saat itu, kaum musyrikin menguasai hampir segala segi kehidupan sosial di Makkah. Karena itu, para pemukanya merasa leluasa dalam menindas dan mengecam dakwah Islam, khususnya Nabi Muhammad SAW. [yy/republika]