25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Menggapai Karunia Berlimpah

Menggapai Karunia Berlimpah

Fiqhislam.com - Alkisah, Imam Hasan al-Basri kedatangan tiga kelompok tamu. Kelompok pertama mengadukan perihal kekeringan.

Kelompok kedua perihal berkurangnya rezeki serta harta. Kelompok terakhir karena belum hadirnya keturunan. Imam Hasan al-Basri menjawab semua permohonan tersebut dengan surat Nuh ayat 10 sampai 12 yang memerintahkan kita untuk beristighfar atau memohon ampunan.

''Maka, aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Mahapengampun'. Niscaya Dia akan mengirim hujan kepadamu dengan lebat. Dan, membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.''

Ada empat keutamaan istighfar yang terkandung dalam tiga ayat di surat Nuh ini.

Pertama, orang yang rajin beristighfar tidak akan mengalami kekeringan. Allah SWT mengirimi mereka hujan yang lebat, yang tidak menimbulkan banjir, tapi justru menambah sumber air.

Kedua, dengan beristighfar, Allah SWT akan mengucuri banyak harta kepada kita.

Ketiga, Allah SWT akan memberikan keturunan.

Keempat, Allah SWT akan memberikan kepada kita kebun dan sungai-sungai dengan pemandangan alam yang sangat indah.

Beristighfar, dapat dijelaskan dengan sebuah alur logika sebab-akibat yang kuat. Pertama, beristighfar 'memaksa' kita untuk melakukan evaluasi dan introspeksi.

Faktanya, orang yang berani mengevaluasi dirinya, insya Allah, akan menemukan penyebab berbagai masalah. Tentu, sekaligus bersama dengan solusinya.

Sebagai contoh, kekeringan terjadi mungkin akibat siklus ekologi yang terganggu. Kondisi kesulitan harta, mungkin akibat kita belum maksimal mencarinya, kurang cerdas, atau prosesnya tidak halal. Belum hadirnya anak, mungkin karena adanya gangguan kesehatan, stres, atau faktor genetika.

Kedua, istighfar mengandung komitmen untuk berubah ke arah yang lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan. Beristighfar mengundang komitmen untuk melaksanakan perbaikan dan mencoba sampai berhasil. Tanpa komitmen, istighfar dan bertobat dianggap tidak sah.

Para ulama menyebutkan tiga rukun bertobat, yaitu penyesalan, berhenti dari kesalahan, dan tidak mengulangi lagi. Ibnu Qoyyim menambah muhasabah atau melakukan evaluasi sebagai bagian dari bertobat.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa menggunakan filosofi tobat dalam mencari solusi, yakni evaluasi, komitmen, doa, dan istighfar (EKDI). Insya Allah kita akan menemukan solusi dan menggapai karunia Allah SWT yang berlimpah. [yy/republika]

Oleh Muchisinin Fauzi