<
pustaka.png
basmalah.png

Menjadi Imam Shalat, Apa Syaratnya?

Menjadi Imam Shalat, Apa Syaratnya?

Fiqhislam.com - Begitu banyak keutamaan shalat berjamaah yang tertuang baik dalam nash Al Quran ataupun hadits. Keutamaannya disertai dengan betapa rugi orang-orang yang mengabaikan shalat berjamaah. Tidak kurang, Rasulullah bersabda jika Allah Taala akan mengampuni segala dosa pelaku shalat jamaah.

Rasulullah selalu melakukan shalat jamaah, baik dalam keadaan musafir, mukim, dalam keadaan ketakutan, maupun ketika situasi normal. Nabi yang mulia pun tak memberi keringanan saat Abdullah bin Ummi Maktum, sahabat yang buta meminta untuk bisa shalat di rumah. Selama mendengar suara azan, setiap Muslim diwajibkan untuk menunaikan shalat berjamaah.

Dalam kitab Al Umm, Imam Syafi'i men jelaskan, shalat jamaah adalah ketika beberapa orang melaksanakan shalat di pimpin seorang imam. Ketika salah seorang dari sekumpulan orang memimpin shalat mereka, itulah yang disebut shalat jamaah. Menurut Imam Syafi'i, semakin besar jamaah yang dipimpin seorang imam maka lebih mustahab (dianjurkan) dan lebih dekat dengan keutamaan.

Imam menjadi unsur utama dalam shalat jamaah. Menjadi imam bisa diminta orang lain atau mengajukan diri. Menurut Imam Syafi'i, hal tersebut dibenarkan meski tanpa perintah wali yang biasa memimpin shalat. Ketentuan ini berlaku untuk shalat Jumat, shalat wajib dan shalat sunnah ketika penduduk satu negeri jika tidak ada kehadiran wali (pemimpin).

Menurut Imam Syafi'i, seorang wali merupakan pihak yang paling berhak untuk menjadi imam shalat. Jika seorang wali memasuki suatu negeri yang dipimpinnya, lalu dia dan orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya sudah berkumpul, walilah yang paling berhak menjadi imam. Tidak boleh seorang pun yang boleh maju memimpin shalat ketika penguasa ada, baik dalam shalat wajib, shalat sunnah maupun shalat hari raya. Namun, jika seorang wali menunjuk seseorang sebagai imam, hal itu dibolehkan. Karena orang yang ditunjuk itu memimpin shalat atas mandat yang diberikan oleh wali.

Selain itu, hadits yang bersumber dari Amr bin Salamah mengungkapkan jikalau imam shalat merupakan orang yang tertua. Ini sesuai dengan sabda Nabi SAW yang bersumber dari hadits Malik bin al-Hu wairits, "Jika kalian keluar, kumandang kanlah azan lalu kumandangkanlah iqamah kemudian hendaklah yang tertua diantara kalian menjadi imam."

Meski demikian, dalam hadits lain yang bersumber dari Amr bin Salamah terungkap jika imam pun diutamakan orang dengan hafalan Al Quran yang banyak. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari disebutkan hal tersebut ".. Jika shalat telah tiba, hendaklah salah seorang diantara kalian mengumandangkan adzan dan hendaklah yang paling banyak hafalan Al Qurannya di antara kalian mengimami kalian."

Hanya, dalam hadits ini pun terungkap jikalau anak-anak pun bisa menjadi imam jika lebih banyak memiliki hafalan Al quran. "Mereka pun memandang, tidak ada seorang pun yang lebih banyak hafalan Al Quran melebihi aku karena aku mempelajarinya dari para pengendara. Mereka pun mengajukan diriku di hadapan mereka, sedangkan pada saat itu aku berusia enam atau tujuh tahun."

Meski ada pendapat yang mengatakan jikalau anak kecil tidak boleh menjadi imam, Dr Said bin Ali bin Wahf al Qaht hani dalam Ensiklopedi Shalat Menurut Al Quran dan Sunnah menjelaskan bahwa anak kecil boleh menjadi imam selama dia berakal dan mumayiz (mampu membedakan baik dan buruk).

Uniknya, seorang imam yang memiliki banyak hafalan Al Quran tidak otomatis mewajibkan dia untuk membaca ayat-ayat panjang ketika memimpin shalat. Rasulullah bahkan memendekkan bacaan Al Quran ketika menjadi imam.

Hadits yang bersumber dari Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Malik mengatakan, "Apa bila seorang dari kalian shalat me mimpin orang banyak, maka hendaklah dia meri ngankan. Karena sesungguhnya di tengah mereka ada orang sakit dan orang lemah. Apabila dia shalat sendirian, maka silakan dia memanjangkan semaunya."

Selain itu, lelaki wajib menjadi imam shalat jikalau berada bersama perempuan. Hadits dari Anas, Nabi SAW pernah masuk menemui Anas, ibunya serta Ummu Haram, bibi Anas. Lantas Nabi bersabda, berdirilah kalian karena aku akan shalat bersama kalian. Shalat itu dikerjakan di luar waktu shalat wajib. Beliau pun mengerjakan shalat bersama mereka. Beliau menempatkan Anas berada di sebelah kanan beliau dan menempatkan kaum perempuan di belakang mereka.

Hukum pokok menetapkan sahnya sha lat berjamaah yang dilaksanakan seorang laki-laki dengan seorang perempuan, sebagaimana sahnya shalat jamaah yang dilakukan seorang lelaki dengan lelaki. Kecuali jika perempuan itu bukan mahram dan sen dirian di tengah lelaki serta tidak ada orang lain. Pada saat itu, diharamkan baginya meng imami perempuan tersebut.

"Janganlah salah seorang diantara kalian berkhalwat (berduaan) dengan seorang perempuan kecuali dengan muhrim." (HR Bukhari Muslim). Wallahu a'lam. [yy/republika]

 

 

top