12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Wadi Usfan, Perlintasan Para Nabi

Wadi Usfan, Perlintasan Para Nabi


Fiqhislam.com - Allah SWT mengutus para Nabi dan Rasul untuk mengajak umat manusia agar menyembah dan mengabdi kepada Sang Maha Pencipta. Kepada setiap kaum, Allah mengutus seorang  nabi atau rasul untuk mengajak mereka agar senantiasa beriman kepada Allah.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’. (QS An-Nahl [16]: 36.

Dalam ayat lain, Allah berfirman: Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya. (QS Yunus [10]: 47).

Para nabi dan rasul itu, tak pernah berhenti mengajak dan menyeru umat manusia agar senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Baik siang maupun malam, mereka selalu menyeru kaumnya. Nuh berkata, Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). (QS Nuh [71]: 5-6).

Perjalanan yang mereka tempuh sangat jauh. Dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari satu daerah ke daerah lainnya. Dari Syam (Suriah, sekarang) ke Yaman, dari Mesir ke Palestina, dan Irak ke Makkah, dan seterusnya. Itu semua dilakukan para nabi dan rasul, agar kaumnya taat kepada Allah.

Ada salah satu tempat yang sering menjadi perlintasan para nabi dan rasul itu. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa tempat yang menjadi perlintasan para nabi dan rasul itu adalah Wadi Usfan.

Ibnu Katsir dalam kitabnya Qishash al-Anbiyaa` (Kisah para Nabi-nabi), mengutip hadis dengan sanad yang sahih dan diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasai, serta Imam Ahmad bin Hanbali dari Ibnu Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW pernah bertanya kepada Abu Bakar, saat melintasi lembah (wadi) Usfan (Asafan).

Wahai Abu Bakar, lembah apakah ini? Abu Bakar menjawab; Lembah Usfan. Rasul SAW bersabda, (Nabi) Hud dan Saleh AS pernah melewati (melintasi) lembah ini di atas unta merah yang tali kendalinya terbuat dari serabut. Pakaian mereka berupa jubah, baju luarnya terbuat dari bulu yang bergaris-garis. Mereka mengucapkan talbiyah dan melaksanakan ibadah haji di Baitul ‘Atiq (ka’bah).

Riwayat lain menyebutkan, tempat tersebut juga dilintasi oleh Nabi Nuh, Hud, dan Ibrahim. Ibnu Katsir menjelaskan, hadis yang menyebutkan lembah tersebut dilewati oleh Nabi Nuh, Hud, dan Ibrahim ini, sanadnya lemah (dhaif).

Dalam kitab Mu’jam al-Buldan (Kumpulan Negeri-negeri) karya Hamawi al-Yaquti, sebagaimana dikutip Sami bin Abdullah al-Maghluts dalam kitabnya Athlas Tarikh al-Anbiyaa` wa ar-Rusul (Atlas Sejarah Nabi dan Rasul), lembah atau Wadi Usfan ini pernah dilewati oleh sedikitnya sekitar 70 orang nabi dan rasul.

Sebagaimana diketahui, dalam salah satu sabdanya, Rasul SAW pernah mengatakan bahwa jumlah Nabi yang diutus oleh Allah SWT sebanyak 124 ribu orang, sedangkan rasul berjumlah 313 orang. Demikian disebutkan oleh Syekh Ahmad Marzuqy dalam kitabnya Aqidah al-Awwam yang juga dikutip oleh Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani dalam Nur Az-Zhalam (Cahaya dalam Kegelapan).

Syauqi Abu Khalil dalam kitabnya Athlas Hadits menjelaskan, lembah Asafan atau Wadi Usfan ini terletak sekitar 80 kilometer dari Makkah ke arah Madinah. Dalam sebuah riwayat dari Rasulullah SAW disebutkan, ada 70 nabi yang melewati jalan (Wadi Usfan). Jalan ini terdiri atas 13 marhalah hingga sampai ke daerah al-Musaijid, as-Sayyalah, dan Madinah Nabawiyah.

Bila dari Makkah menuju Madinah, maka letak Wadi Usfan berada di antara Hudaibiyah dan Faidah. Sedangkan dari Madinah menuju Makkah, lokasinya berada setelah Al-Musaijid, Badar, al-Muraisi, dan Khulaish.

Di sebut dengan Wadi Usfan yang berarti lembah yang ada di padang pasir dan tanpa petunjuk jalan. Secara bahasa, Usfan berasal dari kata ‘asafa al-mafazah yang berarti dia tersesat di padang pasir. Maksudnya, dia melalui padang pasir itu tanpa petunjuk dan tujuan.  Bila tak berhati-hati, besar kemungkinan akan tersesat.

Lokasi ini di namakan Usfan karena daerah tersebut ada aliran air di dalamnya tidak beraturan. Ia terletak di antara al-Juhfah dan Makkah Al-Mukarramah. [yy/republika]