27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Amal Baik Hangus Seketika

Amal Baik Hangus Seketika

Fiqhislam.com - Saat diri merasa telah banyak berbuat baik untuk Islam dan kaum muslimin, kita merasa telah melakukan sesuatu untuk membela Allah, Rasul-Nya dan Al-quran.

Lalu hati kita menganggap remeh orang yang tidak melakukan hal seperti kita. Atau bahkan menganggap mereka lemah dan tak berguna.

Tahukah Anda? bahwa perasaan seperti ini bisa membatalkan amalnya?

Ibnul Mubaarok rahimahullah berkata, “Aku tidak mengetahui pada orang-orang yang shalat perkara yang lebih buruk daripada ujub” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Sy’abul Iman no 8260).

Syaikh Ibnu Al Utsaimin menjelaskan bahwa ujub itu dapat membatalkan amal. Beliau mengatakan, “kelompok yang kedua, yaitu orang-orang yang tidak memiliki tahqiq (kesungguhan) dalam pokok iman kepada takdir. Mereka melakukan ibadah sekadar yang mereka lakukan. Namun mereka kita sungguh-sungguh dalam ber-isti’anah (meminta pertolongan) kepada Allah dan tidak bersabar dalam menjalankan hukum-hukum Allah yang kauni maupun syar’i. Sehingga dalam beramal merekapun malas dan lemah, yang terkadang membuat mereka terhalang dari beramal dan menghalangi kesempurnaan amal mereka. Dan membuat mereka ujub dan sombong setelah beramal yang terkadang bisa menjadi sebab amalan mereka hangus dan terhapus” (Majmu’ Fatawa war Rasail, 4/250).

Perkataan beliau selaras dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri” (HR at-Thobroni dalam Al-Awshoth no 5452 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 1802).

Demikian pula sabda beliau, “Jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub ! ujub !” (HR Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 6868, hadits ini dinyatakan oleh Al-Munaawi bahwasanya isnadnya jayyid (baik) dalam at-Taisiir, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no 5303).

Jika kita merasa ujub, sebagaimana ditanyakan kepada Aisyah radliyallahu anha siapakah orang yang terkena ujub, beliau menjawab, “Bila ia memandang bahwa ia telah menjadi orang yang baik” (Syarah Jami As Shoghier).

Lalu jika sifat ujub ini disertai dengan menganggap remeh orang lain, maka jadilah sebuah kesombongan. Bukankah Allah Azza Wajalla mengusir setan karena sifat sombong. Wallahu A’lam. [yy/islampos]