fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Berhala Thaif

Berhala Thaif


Fiqhislam.com - Setelah bala tentara Abrahah al- Asyram (al-Habsyi) memerangi Kerajaan Himyar yang telah membantai Najran, sebagian orang-orang Yahudi Himyar melarikan diri ke Thaif.

Mereka adalah orang-orang yang terhimpun dalam Kabilah Tsaqif. Semua itu terjadi pada abad keenam Masehi, yang merupakan masa kelahiran Rasulullah.

Tarikh at-Tabari menjelaskan, bani tsaqif berasal dari keturunan Qasiyy bin Munabbih bin Bakr bin Hawazin yang merupakan keturun an Bani Hawazin. Kata tsaqif berarti cerdas, berbudaya. Dalam leksikografi Arab, kata tersebut dapat berubah menjadi tsaqafah yang berarti kebudayaan.

Di sana mereka beranak-pinak dan menyembah berhala Allata. Berdasarkan penjelasan Abdullah bin Abbas dan Bukhari dalam Tafsir Ibnu Kasir, Allata adalah orang yang semasa hidupnya dikenal sebagai pembuat roti untuk jamaah haji. Karena jasanya itu, masyarakat setempat selalu memuliakan Allata.

Setelah wafat, kuburan Allata selalu diziarahi masyarakat. Lambat laun mereka menyembahnya.

Dr Sayyid Abdul Aziz Salim dalam Tarikhul `Arabiy fil `Ashril Jahiliymenjelaskan, pada mulanya daerah itu bernama Wuj. Kemudian berubah menjadi Thaif. Dahulu kala terdapat pedagang berlimpah harta bernama Aldimon.

Suatu ketika Aldimon membunuh sepupunya di Hadramawt. Untuk menghilangkan jejak, dia melarikan diri ke Thaif.

Di daerah itu ia menikahi wanita Bani Tsaqif. Tak sampai di situ, dia juga memprovokasi dan menghimpun massa untuk melawan penguasa setempat Mas'ud bin Mut'ab ats-Tsa qafiy. Pemberontakan berhasil. Kekuasaan berganti. Mereka kemudian membangun dinding per ta hanan yang mengelilingi kota tadi, sehingga dinamakan Thaif (yang mengelilingi).

Sayyid Abdul Aziz Salim juga menyebutkan pendapat lain. Wilayah tadi disebut Thaif karena di sana terdapat tempat penyembahan berhala terbesar kedua setelah Makkah. Masyarakat berdatangan ke sana untuk menyembah dan mengelilingi patung-patung yang disucikan di sana.


Dakwah Awal Rasul di Thaif dan Datangnya Malaikat Jibril


Kota Thaif sejak lama menyembah berhala. Sementara di Makkah, Nabi Muhammad memulai dakwahnya. Dia mendapatkan bantuan materi dari tambatan hatinya Khadijah binti Khuwailid. Tak hanya itu, putra Abdullah ini juga didukung oleh pamannya, Abu Thalib.

Namun, kedua orang ini wafat pada tahun ke sepuluh kenabian. Sejak itu kaum kafir Quraisy memusuhi cucu Abdul Muthalib ini. Rasul ketika itu berpikiran untuk hijrah. Mungkin di negeri lain ada secercah harapan, bahwa masyarakat kota seberang akan menerima dakwahnya.

Rasul berjalan kaki, berhijrah menuju Thaif. Di kota itu, Rasul tinggal bersama Zaid bin Harisah selama 10 hari. Di sanalah muncul optimis memasyarakat setempat akan menerima dak wah Islam.

Nabi bertatap muka dengan pembesar Bani Tsaqif: Abdi Talel, Khubaib dan Mas'ud. Kepada mereka kekasih Allah ini mengenalkan tauhid. Begitu tragis, utusan Allah ini justru menjadi target pelecehan, penghinaan, umpatan, yang diluapkan dengan kata-kata kotor.

Rasul dilempari batu hingga terluka. Dalam kondisi terserang, Zaid melindungi Rasul hingga mengakibatkan kepalanya terluka. Keduanya melarikan diri ke kebuh milik `Utbah bin Ra bi'ah.

Di sana mereka beristirahat dan mengobati luka. Ketika itu Rasulullah bermunajat kepada Allah SWT agar dirinya dikuatkan menghadapi cobaan yang begitu berat.

Allah SWT menjawab doa sang nabi. Malaikat Jibril dan penjaga gunung mendatanginya. Jibril bertutur kepada sang Nabi,” Apakah engkau mau aku timpakan dua gunung kepada mere ka (masyarakat Thaif)? Kalau itu kau inginkan maka akan aku lakukan.”

Namun, Rasul tidak menghendakinya. Bahkan dia mengharapkan Allah akan menciptakan generasi bertakwa yang lahir dari tulang rusuk masyarakat di sana. (HR Bukhari nomor 3.231 dan Muslim nomor 1.795).

Kearifan dan optimisme ini menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Meski dicemooh dan dianiaya, Nabi Muhammad tidak memiliki dendam menghadapi masyarakat Thaif. Karena itulah dia termasuk dalam Rasul Ulul Azmi yang kesabarannya sungguh luar biasa. Allah berfirman, Bersabarlah, seperti para Ulul Azmi.(QS al-Ahqaf: 35).

Untuk menyelamatkan diri, Rasul bersembunyi di sebuah perkebunan. Lokasinya kini tak jauh dari Masjid Qantara yang dibangun sekitar 162 tahun lalu oleh Khilafah Turki Usmani.

Di sana pula Rasul bertemu dengan pekerja kebun bernama Addas. Pria Kristen itu memberi kan anggur yang masih bergantungan di tang kainya. Sebelum memakannya, Rasul mengu capkan bismillah. Mendengar kalimat tersebut, Addas berucap, Orang di sini tak pernah me ngucapkan kalimat itu.

Lalu Rasul bertanya asal daerah Addas. Sang hamba sahaya menyebut Ninawa. Daerah itu berada di tepian Sungai Tigris, dekat dengan Mosul, Irak.Rasul juga menanyakan agama yang dianut pria tadi. Addas menjawab, dia mengikuti ajaran Nabi Yunus.

Lalu, Rasul menjelaskan Yunus adalah anak Matta, yang juga saudara Rasulullah. Ketika mendengar itu, Addas mengetahui Muhammad adalah utusan Allah. Dia langsung memeluk sang Nabi. Percakapan keduanya mengantarkan Addas bersyahadat, sehingga menjadi Muslim.


Hancurnya Berhala Al-latta


Pada tahun kedelapan Hijriyah atau 630 Masehi, Rasulullah menggerakkan 10 ribu pasukan dari Madinah untuk membebaskan Makkah. Hal itu terjadi lantaran kafir Quraisy di Makkah menyerang sekutu umat Islam, Bani Khuza'ah dan menewaskan 20 Muslim di sana. Hal itu menjadi dasar Rasulullah untuk memasuki Makkah.

Tujuan utamanya bukan untuk memerangi warganya, tetapi mengambil alih Masjid al-Haram, tempat umat Islam yang sangat dimuliakan. Umat Islam masuk ke kota itu tanpa perlawanan. Rasul dan para sahabat kemudian melaksanakan haji dan memusnahkan 360 berhala yang ada di sana.

Kabar mobilisasi pasukan umat Islam ini terdengar di seantero Arab, termasuk Thaif.Bani Tsaqif dan Hawazin di sana merasa terancam dengan umat Islam. Mereka kemudian merencanakan peperangan di lembah Hunain.

Tak selesai di Makkah. Rasul kemudian menggerakkan bala tentaranya menuju Hu- nain. Tujuannya adalah membebaskan Thaif. Kali ini, tak hanya 10 ribu, tetapi 12 ribu pa-sukan dikerahkannya. Mereka bertempur dengan sengit melawan dua kabilah besar asal Thaif tadi.

Peperangan itu dimenangkan umat Islam yang diabadikan dalam surah at-Taubah ayat 25-28. Allah berfirman bahwa jumlah besar pasukan Muslim tak berarti apa-apa jika bersifat congkak. Yang menolong umat Islam dalam pertempuran itu adalah Allah sehingga kaum kafir dari Tsaqif dan Hawazin menderita kekalahan.

Keberhasilan itu memompa semangat umat Islam. Mereka kemudian menangkap keluarga Hawazin dan menyita rampasan perang berupa 6.000 tawanan, 2 ribu unta, 40 kambing kambing, serta ribuan gram perak (Encyclopaedia of Islam).

Peperangan ini menunjukkan kearifan Muslim. Para tawanan diperlakukan dengan baik. Sebanyak 600 orang di antaranya dibebaskan tanpa tebusan. Sisa tawanan diamankan dalam rumah-rumah khusus sampai Kota Thaif dibebaskan.

Pada tahun yang sama pasukan Muslim berupaya memasuki Thaif, tetapi tidak mudah. Mereka harus berhadapan dengan benteng-benteng pemanah. Dari tempat pertahanan itu pasukan Thaif menghujani pasukan Rasulullah dengan panah. Setelah 15 hari pengepungan pada musim haji, pa- sukan Muslim mundur. Mereka memfokuskan diri melaksanakan rukun Islam kelima.

Mundurnya bala tentara Muslim bukan berarti mereka kalah. Setelah musim haji, umat Islam mendapatkan informasi pasukan Romawi akan menyerang mereka.Rasul dan para sahabat mempersiapkan penyerangan ini dengan segala kemampuan.

Pengerahan pasukan yang dikenal dengan ekspedisi Tabuk ini sungguh unik. Rasul mengerahkan 30 ribu pasukan menuju Tabuk. Setelah sampai di sana. Tak ada pasukan Romawi muncul. Hal itu membuat wilayah sekitar Tabuk tunduk kepada Rasul. Mereka memberikan bantuan dan membayar jizyah.

Selesai ekspedisi Tabuk, bala tentara Muslim berencana menyerang Thaif. Infor- masi itu sampai ke telinga pembesar Bani Tsaqif dan Hawazin. Mereka langsung menyambangi Rasulullah di Makkah. Di sana mereka menyatakan Tsaqif terbuka untuk Muslim. Penduduknya mengabdikan diri dan mendukung perjuangan Islam.

Pembesar mereka, Urwan bin Mas'ud mengajak masyarakat setempat untuk bersyahadat. Tahanan perang dibebaskan.Berhala Allatta beserta simbol paganisme lainnya dihancurkan. Masyarakat bergotong-royong membangun masjid dan men- dakwahkan Islam.

Sejak itu, Rasul mengirimkan sejumlah sahabat ke sana untuk mendakwahkan Islam. Salah satunya adalah Abdullah bin Abbas (619-687). Dia adalah sahabat yang dikenal teliti meriwayatkan hadis. Ketika mendengar sebuah hadis, dia akan mene lusuri dan mendatangi sumbernya untuk memas tikan keaslian sabda atau perbuatan Nabi.

Abdullah berpesan ingin dimakamkan di Thaif. Baginya, Makkah dan Madinah adalah tempat Rasul dan sahabatnya beristirahat setelah berjuang dengan jiwa raga. Putra Abbas satu ini merasa tak layak dikubur di sana. Cendekiawan ini wafat pada usia 81 tahun. Jasadnya dikebumikan di samping Masjid Abdullah bin Abbas yang pernah disinggahi Rasul untuk shalat.

Lainnya adalah Muhammad bin Hanafiah yang merupakan anak Ali bin Abi Thalib dari istri selain Fatimah, Uswah bin Mas'ud yang dikenal sebagai penderma 70 unta untuk penduduk Thaif. Mereka semua dimakamkan di Kompleks Masjid bin Abbas. [yy/republika]

 

Tags: Thaif | Makkah | Madinah