<
pustaka.png
basmalah.png

Kecintaan Rasulullah dan Sahabat kepada Ahli Shuffah

Kecintaan Rasulullah dan Sahabat kepada Ahli Shuffah

Fiqhislam.com - Rasulullah SAW dan para sahabat selalu memberi perhatian khusus bagi para ahli Shuffah. Kaum Muslimin di Madinah selalu menjaga, mengawasi, dan mengurus mereka dengan baik. Jika ada salah seorang ahli Shuffah yang sakit, Rasululllah pasti menjenguknya.

Bahkan, Nabi Muhammad SAW juga selalu menyempatkan diri untuk bersama mereka. Sambil duduk-duduk bersama, Rasulullah menasihati, mengarahkan, mengingatkan, dan menganjurkan mereka agar selalu membaca dan mempelajari Al Quran.

Rasulullah pun tak pernah lupa untuk mengingatkan mereka agar selalu berdzikir, mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat dan tak berangan-angan untuk mendapatkan perhiasan dunia. Bila ada sedekah, Rasulullah mengirimkannya kepada mereka dan tak ada sedikit pun yang dimakan oleh Nabi SAW,” ujar Dr Akram Dhiya al-Umuri dalam Sahih Sirah Nabawiyah.

Jika mendapat hadiah, Rasulullah SAW mengirimkannya kepada mereka dan ikut serta menikmatinya. Ketika mendapat rezeki, Rasulullah mengundang dan menjamu mereka di rumahnya. Nabi SAW tak pernah lupa sedikit pun terhadap kondisi para ahli Shuffah (Ahli shuffah adalah komunitas muslim yang miskin, lemah dan tidak punya tempat tinggal, tidur di emper masjid yang beratap. red).

Ketika Hasan bin Alicucu Rasulullah lahir, beliau meminta agar Fatimah memberi mereka sedekah dengan perak seberat rambut kepala Hasan. Nabi SAW pernah mengingatkan Fatimah yang meminta seorang pembantu dari tawanan. Rasulullah bersabda, Pantaskah aku memberi kalian berdua pembantu dan meninggalkan ahli Shuffah yang kelaparan?”

Rasulullah SAW lebih memperhatikan nasib para ahli Shuffah yang serbakekurangan dibandingkan permintaan putrinya, Fatimah. Selain memberi contoh, Rasulullah juga mengajak dan mendorong para sahabat yang mampu untuk membantu para ahli Shuffah.

Para sahabat pun berlomba-lomba mendermakan makanan kepada para ahli Shuffah.  Selepas Isya, para ahli Shuffah diarahkan untuk bersantap malam di rumah-rumah para sahabat dan Rasulullah. Setiap sahabat mendapatkan jatah untuk menjamu mereka.

Barang siapa yang dirumahnya ada makanan yang cukup untuk dua orang, hendaklah mengajak orang ketiga untuk ikut makan. Kalau cukup bagi empat orang, hendaklah mengajak orang kelima dan keenam,” sabda Rasulullah kepada para sahabat.

Kejadian itu hanya terjadi di awal-awal hijrah. Pada saat Allah telah mencukupi mereka, tak perlu lagi mengajak mereka untuk makan di rumah sahabat. Begitulah indahnya persaudaraan dan persatuan Islam di era Rasulullah SAW.

 

Kecintaan Rasulullah dan Sahabat kepada Ahli Shuffah

Fiqhislam.com - Rasulullah SAW dan para sahabat selalu memberi perhatian khusus bagi para ahli Shuffah. Kaum Muslimin di Madinah selalu menjaga, mengawasi, dan mengurus mereka dengan baik. Jika ada salah seorang ahli Shuffah yang sakit, Rasululllah pasti menjenguknya.

Bahkan, Nabi Muhammad SAW juga selalu menyempatkan diri untuk bersama mereka. Sambil duduk-duduk bersama, Rasulullah menasihati, mengarahkan, mengingatkan, dan menganjurkan mereka agar selalu membaca dan mempelajari Al Quran.

Rasulullah pun tak pernah lupa untuk mengingatkan mereka agar selalu berdzikir, mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat dan tak berangan-angan untuk mendapatkan perhiasan dunia. Bila ada sedekah, Rasulullah mengirimkannya kepada mereka dan tak ada sedikit pun yang dimakan oleh Nabi SAW,” ujar Dr Akram Dhiya al-Umuri dalam Sahih Sirah Nabawiyah.

Jika mendapat hadiah, Rasulullah SAW mengirimkannya kepada mereka dan ikut serta menikmatinya. Ketika mendapat rezeki, Rasulullah mengundang dan menjamu mereka di rumahnya. Nabi SAW tak pernah lupa sedikit pun terhadap kondisi para ahli Shuffah (Ahli shuffah adalah komunitas muslim yang miskin, lemah dan tidak punya tempat tinggal, tidur di emper masjid yang beratap. red).

Ketika Hasan bin Alicucu Rasulullah lahir, beliau meminta agar Fatimah memberi mereka sedekah dengan perak seberat rambut kepala Hasan. Nabi SAW pernah mengingatkan Fatimah yang meminta seorang pembantu dari tawanan. Rasulullah bersabda, Pantaskah aku memberi kalian berdua pembantu dan meninggalkan ahli Shuffah yang kelaparan?”

Rasulullah SAW lebih memperhatikan nasib para ahli Shuffah yang serbakekurangan dibandingkan permintaan putrinya, Fatimah. Selain memberi contoh, Rasulullah juga mengajak dan mendorong para sahabat yang mampu untuk membantu para ahli Shuffah.

Para sahabat pun berlomba-lomba mendermakan makanan kepada para ahli Shuffah.  Selepas Isya, para ahli Shuffah diarahkan untuk bersantap malam di rumah-rumah para sahabat dan Rasulullah. Setiap sahabat mendapatkan jatah untuk menjamu mereka.

Barang siapa yang dirumahnya ada makanan yang cukup untuk dua orang, hendaklah mengajak orang ketiga untuk ikut makan. Kalau cukup bagi empat orang, hendaklah mengajak orang kelima dan keenam,” sabda Rasulullah kepada para sahabat.

Kejadian itu hanya terjadi di awal-awal hijrah. Pada saat Allah telah mencukupi mereka, tak perlu lagi mengajak mereka untuk makan di rumah sahabat. Begitulah indahnya persaudaraan dan persatuan Islam di era Rasulullah SAW.

 

Semangat Para Ahli Shuffah

Semangat Para Ahli Shuffah


Semangat Para Ahli Shuffah


Fiqhislam.com - Para ahli Shuffah mencurahkan perhatiannya untuk mencari ilmu. Mereka beriktikaf di Masjid Nabawi untuk beribadah dan membiasakan diri hidup dalam keadaan serba kekurangan.

"Jika sedang sendiri, yang mereka lakukan adalah shalat, membaca, dan mempelajari Al Quran, serta berdzikir,” papar  Dr Akram Dhiya Al-Umuri dalam Sahih Sirah Nabawiyah.

Selain itu, sebagian lainnya belajar membaca dan menulis. Tak heran jika kemudian para Ahli Shuffah itu banyak yang menjadi ulama dan ahli hadits karena mereka banyak menghafal hadits. Salah satu contohnya adalah Abu Hurairah dan Huzaifah Ibnul Yaman yang dikenal banyak meriwayatkan hadits-hadits tentang fitnah.

Para ahli Shuffah dengan penuh keseriusan mempelajari ilmu agama dan ibadah. Meski begitu, mereka juga terlibat aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan jihad. Hal itu terbukti dengan banyaknya para Ahli Shuffah yang gugur di medan perang, seperti Perang Badar, Perang Uhud, Perang Tabuk, Perang Khaibar, dan pertempuran lainnya.

"Mereka adalah para ahli ibadah di malam hari dan prajurit yang gagah berani di siang hari,” tuturnya.

Mereka yang tinggal di Ash-Shuffah adalah orang-orang yang bersahaja. Betapa tidak,  menurut Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqatul Kubra jilid I, para ahli Shuffah tak memiliki pakaian yang dapat melindungi diri dari hawa dingin. Mereka juga tak memiliki selimut tebal. Tak ada seorang pun dari mereka yang mempunyai pakaian lengkap,” papar Abu Nu’aim.

Mereka mengikatkan baju dan selimut ke leher-leher mereka. Sebagian lagi hanya memakai baju dan kain sarung. Selimut yang mereka pakai adalah Al-Hanaf,” ungkap Dr Akram. Al-Hanaf adalah selimut yang menyerupai selimut produksi Yaman dibuat dari bahan kasar dan kain terburuk.

Kurma adalah makanan sehari-hari ahli Shuffah. Rasulullah selalu menyediakan setangkup kurma untuk dua orang setiap hari. Nabi Muhammad SAW tak mampu memenuhi kebutuhan mereka selian kurma. Karenanya, beliau selalu menasihati agar para ahli Shuffah bersabar dan tak pernah lupa menghibur mereka.

Rasulullah pun sering mengundang mereka untuk makan bersama di rumah beliau meski dengan hidangan seadanya,” papar Dr Akram.

Jika ada dermawan datang, mereka pun bisa menyantap makanan yang lebih enak. Meski dalam kondisi serbakekurangan, para ahli Shuffah itu tetap bersabar. Semangat beribadah dan jihadnya tak pernah padam. [yy/republika]

 

 

Tags: Shuffah | Miskin
top