18 Syawal 1443  |  Jumat 20 Mei 2022

basmalah.png

Kenapa Kita Perlu Mendatangi Majelis Ilmu?

Kenapa Kita Perlu Mendatangi Majelis Ilmu?

Fiqhislam.com - Kenapa ada orang yang tidur, tapi di tidur nya masih di ganggu oleh syaithan? Karena tidurnya belum menggunakan Ilmu, sebagaimana Rasulullah mengerjakan amalan amalan sebelum tidur.

Kenapa ada yang membaca bacaan-bacaan wirid tetapi malah diganggu jin? Karena butuh ilmu sebelum beramal.

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya.” (HR Muslim, no. 2699; Abu Dawud, no. 3643; Tirmidzi, no. 2646; Ibnu Majah, no. 225; dan lainnya).

Syaikh Dr. Muhammad Musa Nashr berkata, “Berkumpul untuk membaca Al Qur’an yang sesuai dengan Sunnah Nabi dan perbuatan Salafush Shalih, yaitu satu orang membaca dan orang-orang selainnya mendengarkan. Barangsiapa mendapatkan keraguan pada makna ayat, (maka hendaklah) dia meminta qari’ (orang yang membacakan) untuk berhenti, dan orang yang ahli berbicara tentang tafsir menjelaskannya, sehingga tafsir ayat itu menjadi jelas dan terang bagi orang-orang yang hadir. Kemudian qari’ mulai membaca lagi. (Kitab Al Bahts Wal Istiqra’ Fi Bida’il Qurra’, hlm. 50-51)

Syaikh Salim Al Hilali juga berkata, “Majelis dzikir-majelis dzikir yang dicintai oleh Allah, ialah majelis-majelis ilmu, bersama-sama mempelajari Al Qur’anul Karim dan As Sunnah Al Muththaharah (yang disucikan), dan mencari pemahaman tentang hal itu. Yang dimaksudkan bukanlah halaqah-halaqah tari ala Sufi.” (Bahjatun Nazhirin Syarah Riyadhush Shalihin, 2/519, Cet. 1, Th. 1415 H/ 1994 M.)

Bahkan sebagian ulama menjelaskan, majelis ilmu lebih baik daripada majelis dzikir. Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhshin Al Badr, salah seorang dosen Jami’ah Islamiyah di Madinah berkata, “Tidak ada keraguan, bahwa menyibukan dengan menuntut ilmu dan menghasilkannya, mengetahui halal dan haram, mempelajari Al Qur’anul Karim dan merenungkannya, mengetahui Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sirah (riwayat hidup) Beliau serta berita-berita Beliau, adalah sebaik-baik dzikir dan paling utama. Majelis-majelisnya adalah majelis-majelis paling baik. Majelis-najelis itu lebih baik daripada majelis-majelis dzikrullah dengan tasbih, tahmid dan takbir. Karena majelis-majelis ilmu berkisar antara fardhu ‘ain atau fardhu kifayah. Sedangkan dzikir semata-mata (hukumnya) adalah tathawwu’ murni (disukai, sunnah, tidak wajib).” [ Fiqhul Ad’iyah Wal Adzkar, 1/104, karya Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhshin Al Badr).

Kemudian beliau menyebutkan hadits-hadits dan perkataan para ulama, yang semuanya menunjukkan lebih utamanya ilmu (din) dibandingkan dengan ibadah yang tidak wajib.

Yang paling utama, luruskan niat. Berkumpul untuk menambah ilmu, mentadabburi Al-Qur’an, As-Sunnah, mencari pemahaman tentang halal-haram dalam syariat Islam sesuai pemahaman shalafush shalih. [yy/islampos]

Oleh Muhammad Satria Andhika