<
pustaka.png
basmalah.png

Bersama yang Dicintai

Bersama yang Dicintai

Fiqhislam.com - Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hari kiamat, “Kapan hari kiamat itu?” Nabi bertanya, “Apa yang sudah kausiapkan untuk menghadapinya?” Dia menjawab, “Tidak ada, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Nabi bersabda, “Kamu akan bersama dengan yang kaucintai.

Anas berkata, “Tidaklah kami gembira dengan sesuatu seperti gembiranya kami mendengar  sabda beliau, ‘Kamu bersama orang yang kamu cintai’.” Anas berkata, “Aku mencintai Nabi SAW, Abu Bakar, dan Umar, dan aku berharap bersama mereka disebabkan kecintaanku pada mereka walaupun belum beramal seperti amalan mereka.” (Dari Anas bin Malik, riwayat Thabrani, Jamiul Ahadits, juz 22, hlm 144).

Di antara tanda cinta adalah mengikuti apa yang diinginkan oleh yang dicintainya. Cinta yang sempurna menuntut kesesuaian dengan apa yang dicintai kekasihnya dan siap berkorban. Seorang ahli makrifat  ditanya tentang cinta, dia menjawab, “Kesesuaian dengan yang dicintai dalam semua kondisi dan situasi.” Lalu bersyair, “Kalau Anda jujur mencintainya, pasti Anda akan menaatinya, sesungguhnya pencinta itu menaati yang dicintai.” (lihat Syarh Hadits Ikhtishom al-Mala’ al-A’la, juz I, hlm 55).

Allah menegaskan, “Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 3: 31). Al-Manawi dalam kitab Fa’idhul Qadir, juz VI, hlm 345 menyatakan, “Seorang pencinta akan bersama yang dicintainya dalam hal watak, akal, balasan, dan tempat kembali. Barang siapa mencintai Allah, maka dia akan bersamanya di dunia dan akhirat, dia berbicara sesuai  dengan apa yang diinginkan Allah, bergerak juga sesuai perintah Allah, dan bila diam selalu bersama Allah (zikrullah).


Orang mukmin yang bertakwa dan berhati bersih adalah keluarga Nabi Muhammad SAW. Karenanya, siapa saja yang mencintai mereka dan bergabung bersama mereka, pasti akan berakhlak seperti mereka sehingga layak untuk selamat ketika melewati shirat (jembatan) dan masuk surga bersama mereka. “Kemudian, Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (QS [19]: 72).

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi, juz 7, hlm 51, dinyatakan, makna hadits ‘Seseorang bersama yang dicintainya pada hari kiamat’ ini bersifat umum dan  mencakup semua bentuk cinta, baik cinta kepada orang saleh maupun orang salah. Pengikut orang saleh akan masuk surga dan pencinta yang salah akan disiksa. Akhir-akhir ini, kita menyaksikan betapa hebatnya para pencinta kefasikan dalam ‘berjihad’ untuk merealisasi nafsu syahwatnya.

Oleh Prof Dr KH Achmad Satori Ismail

republika.co.id

 

top