<
pustaka.png
basmalah.png

Memahami Rasa Syukur

Memahami Rasa Syukur

Fiqhislam.com - Nikmat yang selalu kita dapatkan adalah anugrah yang Allah subhanahu wa ta’ala. Tiada hentinya setiap waktu Allah berikan kepada hamba-Nya. Dan pastikan saat kita menerima nikmat-Nya atau dalam kegiatan apapaun ucapkan syukur kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka dari itu, penting bagi seorang Muslim memahami apa itu syukur sebenarnya.

Dalam buku Rahasia Di Balik Usia 40 Tahun yang ditulis oleh Ahmad Annuri MA dijelaskan beberapa definisi dari kata syukur yang akan memudahkan kita untuk memahaminya.

Kata syukur secara istilah mengandung makna “membayangkan dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.”

Sebagian ulama mengatakan bahwa kata syukur berasal dari kata “syukara” yang berarti “membuka”. Sehingga kata syukur adalah lawan dari kata “kafara” (kufur) yang berarti menutup atau melupakan nikmat dan menutup-nutupinya.

Para ulama lain menjelaskan, “Syukur itu ialah mengerjakan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala baik secara lahir maupun batin, serta menjauhi segala maksiat yang bersifat lahir dan batin, dengan berusaha menjaga hati, lidah, mata, telinga, dan segala anggota lahir dan batin dari kecenderungan untuk melakukan kemaksiatan.”

Ibnu Manzhur penulis kamus Lisanul ‘Arab mengatakaan bahwa syukur berarti “mengakui kebaikan dan memuji sang pemberinya, serta menyebarkan dan memperlihatkannya.”

Ibnu Abbas menjelaskan, “Syukur itu ialah taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan segala anggota zhahir dan batin, baiik secara diam-diam atau terang-terangan.”

Sedangkan, Iman Abu Bakar al Waraq mengatakan, “Syukur itu ialah mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala yang dengan Kemurahan-Nya mengaruniakan nikmat kepada hamab-Nya yang tidak terhingga banyaknya serta tak ternilai harganya. Dengan itu tidaklah timbul rasa benci atau kufur.”

Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, syukur dapat dipahami sebagai rasa atau bentuk terima kasih kita sebagai hamba Allah subahanahu wa ta’ala yang telah memberikan nikmat –Nya. [yy/republika]

 

Memahami Rasa Syukur

Fiqhislam.com - Nikmat yang selalu kita dapatkan adalah anugrah yang Allah subhanahu wa ta’ala. Tiada hentinya setiap waktu Allah berikan kepada hamba-Nya. Dan pastikan saat kita menerima nikmat-Nya atau dalam kegiatan apapaun ucapkan syukur kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka dari itu, penting bagi seorang Muslim memahami apa itu syukur sebenarnya.

Dalam buku Rahasia Di Balik Usia 40 Tahun yang ditulis oleh Ahmad Annuri MA dijelaskan beberapa definisi dari kata syukur yang akan memudahkan kita untuk memahaminya.

Kata syukur secara istilah mengandung makna “membayangkan dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.”

Sebagian ulama mengatakan bahwa kata syukur berasal dari kata “syukara” yang berarti “membuka”. Sehingga kata syukur adalah lawan dari kata “kafara” (kufur) yang berarti menutup atau melupakan nikmat dan menutup-nutupinya.

Para ulama lain menjelaskan, “Syukur itu ialah mengerjakan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala baik secara lahir maupun batin, serta menjauhi segala maksiat yang bersifat lahir dan batin, dengan berusaha menjaga hati, lidah, mata, telinga, dan segala anggota lahir dan batin dari kecenderungan untuk melakukan kemaksiatan.”

Ibnu Manzhur penulis kamus Lisanul ‘Arab mengatakaan bahwa syukur berarti “mengakui kebaikan dan memuji sang pemberinya, serta menyebarkan dan memperlihatkannya.”

Ibnu Abbas menjelaskan, “Syukur itu ialah taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan segala anggota zhahir dan batin, baiik secara diam-diam atau terang-terangan.”

Sedangkan, Iman Abu Bakar al Waraq mengatakan, “Syukur itu ialah mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala yang dengan Kemurahan-Nya mengaruniakan nikmat kepada hamab-Nya yang tidak terhingga banyaknya serta tak ternilai harganya. Dengan itu tidaklah timbul rasa benci atau kufur.”

Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, syukur dapat dipahami sebagai rasa atau bentuk terima kasih kita sebagai hamba Allah subahanahu wa ta’ala yang telah memberikan nikmat –Nya. [yy/republika]

 

Pentingnya Rasa Syukur

Pentingnya Rasa Syukur


Pentingnya Rasa Syukur


Fiqhislam.com - Dalam buku Rahasia Di Balik Usia 40 Tahun yang ditulis oleh Ahmad Annuri MA dijelaskan mengapa kita sebagai hamba Allah subhanahu wa ta’ala harus bersyukur.

Banyak firman-firman Allah yang memerintahkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberinkan-Nya. Salah satunya yang dikisahkan tentang Nabi Daud alaihisallam. Allah berfirman, “Wahai keluarga Dawud, beramallah sebagai bentuk syukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali di antara para hamba-Ku yang bersyukur. (QS. Saba: 13)

Pada ayat tersebut, Allah memerintahkan kepada keluarga Nabi Daud untuk beramal kebajikan dan mengajak keluarganya dengan amal shalat, puasa, dan lain sebaginya. Perintah tersebut ditekankan karena besarnya nikmat yang Allah berikan kepada Nabi Daud dan keluarganya.

Di antara nikmat tersebut adalah dihumpunkannya kerajaan dan kenabian sekaligus kepada beliau. Bala tentara yang besar dan peralatan tempur yang lengkap juga diberikan kepadanya. Selain itu kekuatan yang dimilikinya, yaitu besi menjadi lunak di genggamnya tanpa harus menggunkan api, dan suara yang merdu sampai-sampai burung berhenti terbang turut mendengarkan suara merdunya.

Jadi, jika sekelas nabi saja diingatkan kembali untuk beramal sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah subhanahu wa ta’ala, apalagi kita yang hanya menusia biasa. Nikmat yang Allah berikan kepada kita pun sebenarnya tak kalah hebatnya. Allah memberikan mata, hidung, nafas, akal, dan Islam kepada manusia, itu semua adalah nikmat terbesar.

Maka selayaknya semua itu kita pergunakan untuk kebaikan. Mata kita gunakan untuk melihat ayat Al Quran, mulut kita gunakan untuk membaca Al Quran, dan telinga untuk mendengarkan Al Quran , kaki kita pergunakan untuk melangkah ke jalan kebaikan. Harta kita pergunakan untuk sedekah bukan untuk ,e,beli barang yang tidak berguna atau dibenci Allah.

Apabila kita telah melaksanakan semua itu, Insya Allah nikmat-nikmat yang telah Allah berikan akan terus bertambah setiap waktu. Akan tetapi, jika nikmat-nikmat tersebut tidak kita syukuri dan gunakan untuk menggapai ridho Allah subhanahu wa ta’ala, maka nikmat tersebut akan dicabut di dunia atau kita akan disiksa Allah di akhirat kelak.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. Ibrahim: 7). [yy/republika]

 

 

Tags: Syukur | Ikhlas | Sabar
top