8 Rabiul-Awwal 1444  |  Selasa 04 Oktober 2022

basmalah.png

Umat yang Takwa

Umat yang Takwa

Fiqhislam.com - Setiap manusia adalah pemimpin. Paling sederhana, pemimpin dalam lingkungan keluarga. Amanah yang dititipkan Allah SWT kepada kita ini akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat. "Bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan kelak akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kalian." (HR Muslim).

Untuk membentuk komunitas, organisasi, perusahaan hingga negara, manusia pun mengangkat seorang di antara mereka untuk menjadi pemimpin. Torehan sejarah mencatat beragam cara untuk menjadi pemimpin. Dari pemimpin yang diwariskan melalui keturunan, pemimpin revolusi, pemimpin yang dipilih oleh perwakilan rakyat, hingga pemimpin yang dipilih langsung rakyat. Terlepas dari bagaimana cara pemimpin dipilih, Allah SWT berfirman kepada manusia untuk menaati pimpinan.

Perintah ini tertulis di dalam QS an-Nisa:59. "Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul (Nya) dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul (sunnahnya). Jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."

Berkenaan dengan turunnya ayat ini, Imam Ibnu Katsir mengetengahkan sebuah hadis dari Ibnu Jarir yang dirawikan oleh Abu Hurairah. Nabi SAW bersabda, "Kelak sesudahku, kalian akan diperintah oleh para pemimpin, ada pemimpin yang bertakwa memimpin kalian dengan ketakwaannya dan ada pemimpin durhaka yang memimpin kalian dengan kedurhakaannya. Maka, tunduk dan patuhlah kalian kepada mereka dalam semua perkara yang sesuai dengan kebenaran dan bantulah mereka. Jika mereka berbuat baik, kebaikannya bagi kalian dan mereka. Dan, jika mereka berbuat buruk, baik bagi kalian dan buruk bagi mereka."

Pemimpin yang bertakwa tidak timbul tiba-tiba. Dia hanya muncul dari masyarakat yang juga bertakwa. Seperti apa yang di katakan Imam Ibnu Qayyim Al Jauziy bahwa hikmah Allah SWT untuk memilih para raja, pemimpin, dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya. Perbuatan rakyat adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zalim, penguasa mereka akan ikut berbuat zalim. [yy/republika]