1 Dzulhijjah 1443  |  Jumat 01 Juli 2022

basmalah.png

Arti Sebuah Mimpi

Arti Sebuah Mimpi

Fiqhislam.com - Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Rasulullah pernah bersabda, “Mimpi yang baik dari orang saleh adalah bagian dari 46 unsur kenabian.” (HR Ibnu Majah). Mimpi, dalam Islam tak sakadar bunga tidur. Bagi orang-orang tertentu yang memiliki derajat keimanan yang ting gi, mimpi bisa memiliki makna yang bera gam dan mendalam. Tradisi penafsiran mim pi sendiri, sudah berlaku sejak per adab an manusia berada. Nabi Yusuf, misalnya, dikenal ahli dan mampu menakwil mimpi.

Dalam tradisi intelektual ulama klasik, aktivitas menafsirkan mimpi juga banyak mendapat perhatian. Banyak tokoh yang dikenal mahir mengartikan mimpi dan menghasilkan karya monumental, salah satunya adalah Ibnu Sirin, seorang tokoh yang bernama lengkap Abu Bakar Muhammad bin Sirin al-Anshari. Dalam kitabnya berjudul Bi At-Ta’bir Ar-Ru’ya, ia memaparkan hal ihwal yang berkenaan dengan mimpi.

Selain kitab itu, sebenarnya ada satu lagi kitab yang disandarkan kepemilikannya terhadap Ibnu Sirin, yaitu Al-Muntakhab al- Kalam fi Tafsir al-Ahlam. Kitab yang pertama, oleh mayoritas ulama, valid diakui buah karyanya. Ibnu Khaldun, misalnya, menegaskan hal itu dalam Muqaddimah. Sosiolog Muslim tersebut menyebut Ta’bir murni karya Ibnu Sirin. Lain halnya dengan kitab yang kedua, Al-Muntakhab, Az Zarkali meragukan kebenaran penyandaran kitab tersebut atas Ibnu Sirin.

Ta’bir Ar Ru’yaterdiri atas25 bab utama. Ibnu Sirin mengawali kitabnya tersebut dengan meletakkan prinsip dan kaidah dalam penafsiran dan pembacaan mimpi. Menurut dia, penafsiran mimpi bukan akti vitas sembarangan. Mimpi, dalam Islam, — sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis antara lain nukilan Ibnu Majah— adalah sebagian kecil dari 46 instrumen kenabian. Karena itu, para penakwil mimpi setidaknya harus menguasai Alquran dan hafal hadis-hadis Nabi, paham tentang karakter dan pola hidup manusia, dan mengetahui kaidah-kaidah penakwilan.

Bekal seperti ini, dalam pandangan tokoh kelahiran Basra tersebut, penting dimiliki oleh penakwil mimpi. Mimpi muncul dengan latar belakang yang berbeda, baik waktu maupun tempatnya. Pembacaan terhadap mimpi pun kadang harus merujuk pada Alquran ataupun hadis Nabi. Dicontohkannya, seperti tafsir telur dalam sebuah mimpi bisa dimaknai dengan kejadian ataupun peristiwa dalam kehidup an nyata orang yang bersangkutan dan berkaitan dengan perempuan.

Penafsiran itu merujuk pada ayat ke-49 dari surah ash-Shaaffaat yang mengi baratkan kesucian bidadari-bidadari dengan telur burung unta yang tersimpan dengan baik. Adakalanya pula, sebuah mimpi ditafsirkan dengan lawan dari sebuah fakta. Misalnya, kondisi tertawa dalam mimpi, takwilnya bisa berarti akan menangis di kehidupan nyata. Begitu juga sebaliknya. “Bila menangis di mimpi, itu maknanya kita akan tertawa riang,” tulisnya.

Di bagian utama kitab ini, penulis yang lahir pada 33 H itu mengutarakan tafsir bagi mereka yang melihat Allah dalam mimpi. Bila bermimpi melihat Allah dengan penuh kebahagiaan, kondisi yang sama akan ia rasakan saat berjumpa Allah kelak di akhirat. Bermimpi bertemu dengan Allah dan diberikan perhiasan dunia, ia akan mendapatkan cobaan berupa sakit atau ujian lainnya.

Jika bersabar, ia akan masuk surga. Sedangkan apabila bermimpi melihat Allah turun di sebuah lokasi, tempat tersebut akan diberkahi. Ibnu Sirin pun menegaskan, jenis mimpi semacam ini hanya akan dialami oleh orang-orang saleh. Selain mereka, mustahil terjadi. “Bila hanya berupa bentuk atau khayalan, ia telah berdusta dan berbid’ah ria,” tulisnya.

Sementara itu, bila ada yang bermimpi bertemu malaikat, ia akan memperoleh kemuliaan dan kebahagiaan di antara warga lainnya. Sedangkan bila mimpi melihat malaikat sedang berada di masjid, itu pertanda warga setempat harus memperbanyak doa, sedekah, dan istigfar.

Demikian halnya bila mimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW. Bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dalam mimpi bisa diartikan sebagai tanda datangnya kebahagiaan, baik di dunia maupun akhirat, sepanjang wajah Nabi yang ia lihat berseri-seri. Bila sebaliknya, yaitu melihatnya dengan kondisi yang kurang berkenan, seperti marah, bisa bermakna akan mendapat kesusahan. Sedangkan melihat para nabi selain Muhammad, bisa diartikan dengan keberkahan yang melimpah.

Bagaimana bila seseorang bermimpi melihat Ka’bah? Dalam buku ini dijelaskan, bermimpi melihat Ka’bah ada beberapa kondisi. Di antaranya, ketika melihat Ka’bah, bangunan fisiknya berubah baik berkurang atau bertambah maka ada kait annya dengan pemimpin umat Islam.

Seperti apakah pengejewantahan dalam faktanya? Semua itu ditentukan dengan kondisi Ka’bah yang dilihat. Artinya, keadaan pemimpin tersebut akan baik bila Ka’bah tetap bagus. Begitu juga sebaliknya, tokoh umat yang diidolakan pada kondisi kurang laik jika Ka’bah yang ia temui di mimpi, kondisinya tak utuh. Sedangkan bila ia melihat Ka’bah lalu melaksanakan manasik, misalnya thawaf, berarti kualitas spiritual dan keagamaannya akan meningkat.

Ibnu Sirin juga memaparkan arti dari alam semesta dan fenomena-fenomena yang terjadi sehari-hari di mimpi. Hujan, misalnya diartikan dengan pertolongan dan rahmat. Mendung tebal yang menyelimuti daerah tertentu diartikan turunnya bencana di kawasan tersebut.

Lain halnya, bila langit cerah dan tidak ada mendung sama sekali, bisa diartikan dengan munculnya kebijaksanaan, ilmu, dan rahmat, tak lain ialah agama Islam. Apalagi, sampai bermimpi mengumpulkan awan cerah yang tercecer di langit. Ini pertanda bagus, akan datang padanya perkara yang agung.

Ibnu Sirin juga membahas takwil seputar kematian yang terlintas dalam mimpi. Mimpi meninggal bisa diartikan kerusakan dalam agama seseorang sekalipun ada kemuliaan di dunia. Ini bisa terjadi bila kematiannya itu disertai dengan tangisan dan rintihan serta ditandu di atas pundak laki-laki dan belum dikubur.

Bila sudah dikubur, maknanya berbeda lagi. Kematian dalam mimpi setelah dikubur dengan kondisi yang sama dengan opsi di atas, tak lagi tersisa sisi kebaikan dalam agamanya. Setan dan nafsu duniawi telah menguasainya. Ia pun akan menjadi pengikut setia makhluk yang dilaknat Allah tersebut.

Sedangkan bila meninggal begitu saja tanpa ada pemandangan kematian apa pun seperti disebutkan tadi, hal ini merupakan pertanda kerusakan bangunan fisik rumah seseorang. Bisa berupa dinding keropos ataupun atap runtuh.

Dalam sejarah Islam, Ibnu Sirin adalah salah satu penakwil mimpi andal. Kepakaran Sirin dalam bidang ini juga diakui dan mendapat apresiasi dari para cendekiawan atau intelektual Muslim di era klasik. Sebut saja, Ibnu Qutaibah Ad Dainuri dan Ibnu Khaldun. Tokoh yang terakhir ini bahkan mengomentari secara khusus kitab Ibnu Sirin dalam karya monumentalnya, Muqaddimah.

Dalam pendangan Ibnu Qutaibah, tak semua orang dianugerahi talenta dan kemampuan membaca pesan di balik mimpi. Ibnu Sirin terbukti mampu menunjukkan kompetensinya di bidang ini. Karena itu, kata Ibnu Nadim dalam kitab Al Fihrist, kitab Ta’bir Ar Ru’yadicetak berulang-ulang di belahan dunia Arab dan kawasan lainnya. Terutama setelah dicetak pertama kalinya di Bulaq, Mesir, pada 1284 H dan di Bombay pada 1296 H.

Pengakuan atas kepakaran Ibnu Sirin pun datang dari rivalnya, Hasan al-Bashri. Konon, di antara kedua tokoh tersebut terdapat benih sentimen dan rasa ketidaksukaan. Bahkan, dikisahkan mereka sampai tak bertegur sapa. Kesaksian atas kemahiran Ibnu Sirin menafsirkan mimpi muncul, tatkala suatu saat, Hasan al-Bashri yang dikenal sebagai tokoh sufi itu bermimpi. Dalam mimpinya itu, seolaholah ia sedang bertelanjang di kandang binatang sambil membuat sebatang tongkat. Pagi hari ketika bangun, ia merasa bingung dengan mimpinya itu.

Malu bertanya secara langsung, ia pun lantas meminta sahabatnya menceritakan mimpi itu kepada Ibnu Sirin, sekaligus diminta menafsirkannya. Permintaan tersebut ditolak. Ibnu Sirin meminta agar Hasan menemuinya secara langsung. Singkat kata, mimpi sang tokoh pun ditafsirkan oleh Ibnu Sirin.

Telanjang dalam mimpinya diartikan ketelanjangan dunia berkat sifat zuhud Hasan, kandang ditakwilkan lambang dunia yang fana, dan sebatang tongkat berarti simbol hikmah yang kerap disampaikan oleh Hasan serta berdampak positif bagi banyak kalangan. Sesaat Hasan al-Bashri terkesima. Ia pun kagum pada kehebatan Ibnu Sirin sebagai ahli tafsir mimpi, dan percaya sekali pada penjelasannya. [yy/republika]