pustaka.png.orig
basmalah.png


14 Dzulqa'dah 1442  |  Kamis 24 Juni 2021

Sekolahkan Anak di Sekolah Non-Islam, Bolehkah?

Sekolahkan Anak di Sekolah Non-Islam, Bolehkah?


Fiqhislam.com - Puluhan ribu pelajar Muslim bersekolah di sekolah Katolik Inggris Raya. Hal ini tertera dalam sensus tahunan sekolah Katolik mengenai data populasi pelajar yang memeluk agama non-Katolik. Dari 850 ribu pelajar, sepertiganya bukan pemeluk Katolik. Sepersepuluh dari total populasi merupakan pelajar Muslim. 

Dikutip dari laman BBC, Desember 2016, besarnya jumlah pelajar non-Katolik di sekolah Katolik dinilai merupakan dampak dari perubahan demografi lokal dan terjadinya migrasi. Terlihat dari adanya penurunan jumlah keluarga Katolik di Negeri Ratu Elizabeth.

Finnuala Neils, kepala Sekolah Akademi Saint Patrick  Chatolic Voluntary di Sheffield, Inggris, mengklaim bahwa pelajar Muslim diperbolehkan libur dari sekolah untuk merayakan acara keagamaan seperti Idul Fitri. Meski demikian, Neils mengungkapkan, banyak di antara keluarga Muslim menginginkan anaknya berpartisipasi dalam perayaan keagamaan di sekolah.

Di Indonesia, belum ada data resmi mengenai berapa jumlah pelajar Muslim yang sekolah di institusi pendidikan non-Islam. Meski demikian, tidak dapat dimungkiri masih banyak pelajar Muslim ada di sekolah non-Islam.

Sebagai contoh yang terjadi di Kabupaten Banjarnegara. Dilansir dari laman resmi Kemenag, Kantor Wilayah Kemenag Banjarnegara menemukan ada 18 siswa Muslim dari dua sekolah dasar Kristen di kabupaten itu.

Dari hasil wawancana dengan pihak sekolah, tidak terselenggaranya mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) karena sekolah tersebut berbasis kelas Kristen dan milik yayasan. Sementara itu, sekolah lain beralasan hanya melayani siswa Kristen dan tidak tersedia guru PAI.

Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam Sumarna pun berharap, pelajar non-Kristen memperoleh pendidikan agama sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing meski sekolah itu diselenggarakan yayasan.  Dalam ajaran Islam, pendidikan akidah bagi anak merupakan kewajiban. Allah SWT memberikan contoh dalam surah Luqman, bagaimana mengajarkan anak tentang tauhid.

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar'." (QS Luqman :13).

Cara mempertahankan akidah pun diajarkan dalam QS al-Kafirun. Surah ini menjadi landasan dari nilai-nilai toleransi di dalam Islam. "Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku."

Pendidikan agama, akhlak dan membaca Alquran bahkan menjadi fokus utama Nabi Muhammad SAW dalam melakukan pembinaan pendidikan agama Islam. Hal itu dilakukan supaya manusia dapat mempergunakan akal pikirannya untuk memperhatikan kejadian manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan alam semesta sebagai anjuran pendidikan akliyah dan ilmiyah.

Dikutip dari buku Mahmud Yunus tentang "Sejarah Pendidikan Islam", Rasulullah mengajarkan bahwa anak merupakan pewaris ajaran Islam. Anak pun harus disiapkan sebagai generasi penerus melanjutkan misi menyampaikan Islam ke seluruh penjuru alam.  Hal tersebut juga telah tertera dalam Alquran, surah at-Tahrim ayat 6. "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu: penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

Pada Quran surah an-Nisa ayat 9, Allah SWT berfirman agar  tidak meninggalkan anak dan keturunan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya menghadapi tantangan hidup. "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar."

Lantas, bolehkah orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah non-Islam?

Pada zaman Rasulullah SAW, pernah terjadi anak-anak keluarga Muslim belajar kepada tahanan non-Islam. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, diceritakan bahwa sebagian tawanan perang Badar tidak memiliki (uang) untuk tebusan. Maka itu, Rasulullah menentukan tebusan mereka mengajarkan anak-anak dari kalangan Anshar baca tulis.

Hanya, perlu dicatat bahwa hal tersebut terjadi karena belum ada kalangan Muslim yang bisa membaca dan menulis. Selain itu, para tahanan non-Muslim yang mengajar juga tidak mungkin memurtadkan anak yang belajar kepada mereka karena statusnya sebagai tawanan.

Dalam fatwanya, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menjelaskan, orang tua wajib menjamin keselamatan dan kemurnian akidah anak. Haram bagi orang tua menyekolahkan anak di sekolah yang menghalangi anak belajar agama Islam. Orang tua pun diharamkan menyekolahkan di sekolah non-Muslim yang tidak mengajarkan pelajaran agama Islam. Orang tua juga tak diperbolehkan membiarkan anak mengikuti pendidikan atau pelajaran agama non-Islam. Bersekolah di lembaga non-Islam yang tidak termasuk ke dalam poin 2-5 di atas hukumnya boleh dengan catatan.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tegal pernah mengeluarkan fatwa mengharamkan keluarga Muslim untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah-sekolah di Yayasan non-Muslim pada 2013. Ketua MUI Kota Tegal Harun Abdi Manaf menjelaskan, keluarnya fatwa tersebut bukannya tanpa alasan. Fatwa itu disampaikan karena keprihatinan atas perkembangan dunia pendidikan di Kota Tegal dan upaya menyelamatkan anak-anak dari keluarga Muslim.

Dia menyebutkan, keluarnya fatwa dilatarbelakangi beberapa kejadian yang menimpa dunia pendidikan di Kota Tegal. Antara lain, adanya penolakan dari sekolah non-Muslim untuk menerima guru Muslim mengajar di sekolah itu. Peristiwa penolakan guru Muslim dilakukan sekolah milik yayasan non-Muslim cukup ternama, pada awal 2013. Kasus tersebut, menurut Harun, sebenarnya sudah dilaporkan MUI ke Kantor Kementerian Agama Kota Tegal, bahkan juga dilaporkan ke Kementerian Agama.

Pendidikan agama bagi anak pun sejalan dengan  Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 12, ayat (1) huruf a.  Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. "Bukan hanya di sekolah negeri, juga di sekolah swasta, bahwa setiap siswa berhak mendapatkan pelajaran agama sesuai dengan agamanya harus dipenuhi."  Wallahu'alam. [yy/republika]