11 Rabiul-Awwal 1444  |  Jumat 07 Oktober 2022

basmalah.png

Wajibkah Shalat Taubat Setiap Berbuat Dosa

Wajibkah Shalat Taubat Setiap Berbuat Dosa

Fiqhislam.com - Taubat dalam bahasa Arab bermakna arruju yaitu kembali. Maksudnya kembali dari dosa-dosa. Dan secara istilah di dalam kitab Kifayah At-Thalib Ar-Rabbani dan juga kitab Lisanul Arab, Taubat itu didefinisikan sebagai kembali dari berbagai perbuatan yang tercela kepada perbuatan yang terpuji secara syariah.

Adapun Shalat Taubat adalah Shalat yang disyariatkan untuk dikerjakan oleh seorang hamba dalam rangka bertaubat kepada Allah Ta'ala dan kembali dari dosa-dosa dan maksiat. Dan Shalat Taubat tidak disyariatkan kecuali seseorang sedang berTaubat kepada Allah Ta'ala. Shalat Taubat adalah Shalat yang oleh jumhur ulama dikatakan sebagai Shalat yang masyru dan telah ditetapkan pensyariatannya lewat nash-nash syariah.

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu berkata,"Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah ada seorang hamba yang melakukan perbuatan dosa, kemudian dia berwudu dengan baik, mendirikan Shalat dua rakaat, lalu minta ampun kepada Allah, kecuali pastilah Allah Ta'ala ampuni." Kemudian beliau membaca ayat berikut: Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (HR. Abu Daud)

Dalil masyru'iyah dari Shalat Taubat ini juga terdapat dalam hadis yang lain:

Dari Abi Ad-Darda radhiyallahuanhu berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Siapa yang berwudu dan membaguskan wudunya itu, kemudian berdiri dan melakukan Shalat dua rakaat atau empat rakaat (perawi hadis ini agak ragu), membaguskan zikir dan khusyunya, kemudian meminta ampun kepada Allah azza wa jalla, pastilah Allah ampuni." (HR. Ahmad)

Seluruh ulama sepakat bahwa berTaubat itu hukumnya wajib. Sebab Taubat itu akan menghapus semua dosa yang pernah dilakukan. Namun hukum Shalat Taubat berbeda dari hukum Taubat itu sendiri. Umumnya para ulama tidak mewajibkan Shalat Taubat. Mereka hanya mengatakan hukumnya sunah, sebagai pelengkap dari Taubat yang dilakukan.

Selain itu Shalat Taubat juga tidak disyariatkan kecuali seseorang sedang dalam proses berTaubat. Artinya, Shalat Taubat hanya dilakukan sesekali, tidak dilakukan tiap hari sebagaimana umumnya Shalat-Shalat sunah rawatib.

Kalau pun tiap hari kita berzikir dan dalam zikir itu kita melafazkan ucapan Taubat dan sejenisnya, namun yang dimaksud tentu bukan Taubat yang besar. Sehingga tidak disyariatkan untuk Shalat Taubat untuk sesuatu yang sifatnya rutin. [yy/inilah]