<
pustaka.png
basmalah.png

Karomah dan Penyimpangan Agama

Karomah dan Penyimpangan Agama

Fiqhislam.com - Karomah merupakan istilah yang sering dikaitkan dalam dunia tasawuf. Kemunculan karomah dalam diri seorang sufi merupakan kemulyaan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena itu, kemampuan melakukan sesuatu yang diluar kebiasaan manusia lain (khariq al-‘adah) ini terjadi pada orang saleh, orang yang telah sampai pada level kedekatan dengan Allah Subhanahu wa ta’ala, melalui pengamalan syariah pada tingkat puncak (ihsan) dan pembersihan hati (tazkiyatun nafs) yang sempurna.

Jadi, karomah tidak diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya yang belum sempurna pengamalan syariahnya. Apalagi kepada manusia yang ingkar atau keyakinannya menyimpang dari batas-batas agama. Orang yang ingkar terhadap syariah Allah atau tidak sempurna dalam pengamalan perintahnya, bisa mendapatkan kemampuan luar biasa. Namun, istilahnya bukan karomah, tetapi istidraj.

Istidraj merupakan kemampuan luar biasa yang dilakukan oleh orang yang maksiat kepada-Nya, inkar terhadap syariah, orang kafir, atau para pelaku pelanggaran hukum-hukum agama.

Karomah itu wujud kemulyaan dari Allah. Maka, orang yang inkar pada syariahnya tidak mungkin mendapatkan kemulyaan. Istidraj bukan kemulyaan, justru merupakan wujud berlepas dirinya Allah terhadap hamba yang inkar tersebut.

Dalam dunia tasawuf, karomah ada dua; karomah hissiyah dan karomah ma’nawiyah. Karomah yang biasa disebut secara umum oleh manusia dengan ‘kemampuan luar biasa’ itu umumnya menunjuk kepada karomah jenis hissiyah.

Karomah jenis hissiyah termasuk kategori pemberian yang bersifat ‘bendawi’. Dalam dunia Islam, memang ada orang-orang saleh yang mendapatkannya. Biasanya karomah hissiyah itu datang secara tiba-tiba pada saat orang yang dikasihi oleh Allah (auliya’ Allah) itu membutuhkan.

Dalam al-Qur’an terdapat kisah-kisah tentang karomah jenis ini. Seperti yang dialami oleh Maryam, ibu Nabi Isa. Ketika Maryam menyendiri di mihrab ia selalu mendapatkan makanan-makanan lezat, tidak diketahui dari mana datangnya makanan tersebut. Difirmankan oleh Allah dalam al-Qur’an: “… Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia mendapati makanan di sisi Maryam. Maka Zakariya berakata: “Hari Maryam dari mana kamu memperoleh makanan ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”.

Mayam bukan seorang Nabi. Tetapi dia hamba Allah yang dikasihi-Nya. Maka, datangnya makanan secara ajaib di sisinya itu menurut para ulama adalah karomah dari Allah, bukan mukjizat. Maryam tidak berniat secara khusus untuk mengadakan makanan lezat itu, tapi karena dia sedang membutuhkan dan dalam hati berdoa, maka Allah secara langsung mengirimkan makanan kepadanya.

Apa yang dialami Ashabul Kahfi, seperti juga diceritakan dalam al-Qur’an, juga merupakan karomah jenis ini. Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga banyak mendapatkan karomahkaromah jenis ini.

Disebutkan oleh Fakhruddin al-Razi dalam tafsirnya Mafatihul Ghaib, bahwa ketika jenazah Abu Bakar al-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dibawa menuju tempat pemakaman di sisi makam Rasulullah, orang-orang yang  mengusungnya memberikan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Assalamu Alaika Ya Rasulullah, ini Abu Bakar sedang diluar pintu”. Ajaibnya, dari pintu makam Nabi tersebut terdengar suara, dan para sahabat sangat mengenali itu suara Nabi. “Masuklah orang yang dicintai kepada orang yang mencintainya”, bunyi suara dari makam Nabi tersebut. Inilah bentuk kehebatan Abu Bakar, setelah wafat pun, dia beri karunia oleh Allah.

Karomah seperti tersebut, menurut para ulama, juga berlaku pada orang-orang saleh, dekat dengannya yang disebut auliya’.Syekh Yusuf Nabhani menulis kitab Jami’ Karamati al-Auliya’ yang memuat banyak kisah-kisah karomah.

Akan tetapi, dalam dunia para sufi dan hamba Allah yang dekat dengan-Nya, karomah jenis hissiyah termasuk kategori pemberian Allah yang dianggap biasa-biasa. Tidak terlalu istimewa. Karena, para wali Allah itu merupakan orang yang hatinya terpaut hanya kepada Allah. Hal-hal yang sifatnya bendawi tidak dianggap keistimewaan. Ibnu ‘Athoillah al-Sakandari mengatakan: “Terkadang karomah diberikan kepada orang yang belum sempurna istiqomahnya”.

Karena itu, para wali bahkan menginginkan karomah bendawi itu dicabut karena bisa menjadi cobaan yang bisa mengganggu hubungan dia dengan Allah. Bukan malah bangga dengan khariqul ‘adah-nya, tetapi takut dengan kemampuan yang demikian. Bisa saja terjadi ke-wali-annya dicabut oleh Allah karena dia tergoda oleh ‘ujub, sombong dan penyakit-penyakit hati lainnya.

Makanya, karomah ma’nawiyah merupakan karomah yang dianggap para wali sebagai karomah yang sesungguhnya. Karomah ma’nawiyah berupa kemampuan hebat dalam melaksanakan ibadah kepada Allah (istiqomah) yang belum tentu bisa dilakukan oleh orang pada umumnya.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Randi dalam syarah kitab al-Hikam berpendapat, karomah yang benar itu sesungguhnya berupa kemampuan istiqomah, sampai pada level kesempurnaan istiqomah. Dan landasannya ada dua; yaitu iman kepada Allah dengan benar, dan mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik secara dzahir maupun secara batin. Adapun karomah berupa khariq al-‘adah oleh para ahli tidak terlalu dianggap, sebab hal itu bisa saja terjadi pada orang yang tidak taat beribadah (Muhammad bin Ibrahim al-Randi,Ghaits al-Mawahib al-‘Aliyyah fi Syarh al-Hikam al-‘Athoiyyah, hal.  214).

Karomah berupa istiqomah beribadah itu diakui oleh pembesar-pembesar sufi seperti Abul Hasan al-Syadzili, Abul Abbas al-Mursi, Ibnu Athoillah al-Sakandari, Abu Yazid al-Busthomi, dan lain-lain.

Kisah-kisah kehebatan ulama dahulu dalam ilmu dan beribadah juga dikategorikan karomah. Imam Syafi'i memiliki kebiasaan membagi waktu malamnya menjadi tiga. Malam pertama untuk menulis, malam kedua untuk ibadah (baca al-Qur’an, dzikir dan shalat) dan sepertiga malam akhir, untuk istirahat (Al-Dzahabi,Siyar A’lam al-Nubala/10, hal 35). Di bulan Ramadhan beliau khatam al-Qur’an sebanyak 60 kali. Berarti dalam sehari khatam al-Qur’an dua kali. Dalam satu kisah, ketika menginap di rumah imam Ahmad, muridnya, imam Syafi’i dalam waktu hanya separuh malam mampu menyelesaikan 72 masalah dalam ilmu fikih.

Seorang tabi’in bernama Aswad bin Yazid pada bulan Ramadhan mengkhatamkan al-Qur’an setiap dua malam saja. Tidak pernah tidur, kecuali pada waktu antara maghrib dan isya. Para kekasih Allah zaman dahulu jarang yang tidur. Jika tidur, biasanya bukan sengaja memejamkan mata, tetapi tertidur. Ada pula kisah ulama yang shalat sehari semalam seribu rakaat. Dalam ilmu, imam Nawawi selama hidupnya telah menulis kitab sebanyak 46 judul. Ada beberapa judul kitab yang berjilid-jilid tebal, juga dikategorikan karomah.

Kemampuan para ulama menyembunyikan amal saleh secara rapat hingga bertahun-tahun tidak ada orang yang mengetahuinya juga karomah. Seperti Sayid Ali Zainal Abidin yang tiap malam memikul gandum dibagi-bagi kepada fakir miskin. Para fakir yang menerima makanan dari Sayid Ali pun tidak mengetahui. Karena memberikannya secara sembunyi-sembunyi di malam hari yang gelap. Hal itu dilakukan selama empat puluh tahun. Ketika meninggal dunia, diketahui punggung Sayid Ali memar karena memikul gandum tiap hari selama bertahun-tahun.

Karomah seperti ini lah yang didamba oleh para wali Allah. Karena itu, para ulama sufi mengingatkan agar berhati-hati dengan orang yang memiliki kemampuan luar biasa. Karena bisa saja itu dari setan, sulap atau yang lainnya. Tukang sihir Fir’aun dikisahknya juga hebat-hebat, mengubah kayu jadi ular, megubah batu jadi emas dan lain-lain. Tetapi kemampuan ini atas bantuan setan, bukan bentuk kemulyaan dari Allah.

Abu Yazid al-Busthomi ditanya oleh seseorang mengenai orang yang mampu berjalan dari Baghdad ke Makkah dalam sehari. Abu Yazid menjawab: “Setan pun bisa berjalan dari ujung timur bumi sampai ujung barat hanya dalam sekejap, tetapi ia (setan) tetap dalam laknat Allah” ((Muhammad bin Ibrahim al-Randi,Ghaits al-Mawahib al-‘Aliyyah fi Syarh al-Hikam al-‘Athoiyyah, hal.  214). Dia juga pernah ditanya tentang orang yang mampu berjalan di atas air. Apa jawabnya? Dia tersenyum dan berkata: Saya tidak terkejut. Karena ikan itu berenang di atas air, dan burung terbang di udara.

Imam al-Qusyairi mengatakan: Orang yang merasa telah wushul (sampai) kepada tingkat tertentu kemudian meninggalkan aktivitas ibadah yang diwajibkan oleh Allah Swt itu lebih buruk dari orang yang mencuri dan berzina. Wali yang meninggalkan kewajiban syariat bukanlah wali tapi bodoh mengaku pintar (Abu Nu’aim, Hilyatu al-Auliya’, hal. 368). Imam Junaid al-Baghdadi, berpendapat: “Tidak setiap orang yang memiliki kekhususan, itu sempurna keikhlasannya”.

Arti dari penjelasan para ulama sufi tersebut adalah kehebatan melakukan sesuatu yang diluar jangkauan manusia pada umumnya itu bukan satu-satunya tanda kewalian, bukan pula tanda keshalihan. Karena bisa terjadi pada ahli maksiat dan orang kafir. Kewalian dan keshalihan ditandai dengan istiqomah. Bahkan, orang yang sesat bisa jadi menggunakan istilah-istilah Islam untuk menyimpangkan agama umat Islam.

Adapun orang yang memamerkan kehebatan itu bukan orang yang saleh apalagi bukan wali, tetapi orang yang terpacu oleh hawa nafsu dan atas anjuran jin dan setan. Karena sifat dasar setan adalah menipu untuk menyesatkan manusia. Sedangkan manusia awam mudah tertipu oleh keajaiban-keajaiban bendawi. Maka, biasanya pelaku penyesatan agama biasanya menggunakan bahasa-bahasa agama untuk menipu manusia. Seperti menggunakan istilah wali, karomah, imam, dan lain-lain yang disimpangkan maknanya. Mirip dengan orientalis atau pengikutnya yang membelokkan makna nubuwah, al-Islam,rahmatan lil alamin, dan lain-lain. [yy/hidayatullah]

Oleh Ahmad Kholili Hasib
Penulis adalah anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) 

 

Tags: karomah | mukjizat
top