21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Pernikahan yang Beruntung

Pernikahan yang BeruntungFiqhislam.com - Pada hakikatnya, pernikahan adalah ikatan atas kesepakatan dua insan untuk menjalani kehidupan secara bersama. Keduanya berkoitmen untuk bersinergi saling bahu membahu dalam mewujudkan tujuan hidup, memenuhi kebutuhan asasi, serta menyempurnakan kebahagiaan hidup.

Karenanya harus disadari bahwa untuk dapat menikah harus menemukan orang lain yang mau bersepakat sebagaimana alinea diatas. Artinya, harus ada orang lain yang yakin bahwa dengan hidup bersama diri kita dia akan bisa merasa aman serta kehidupan yang lebih baik dan bahagia.

Hal inilah yang membuat proses perkenalan sebelum menikah menjadi sangat penting. Lalu kebanyakan orang mempersepsikan bahwa  metode pacaran sebagai salah satu cara untuk memastikan bahwa dia mendapatkan orang yang tepat. Padahal metode pacaran itu ibarat berjudi. Membangun komitmen dengan  kesucian diri dan per asaan serta nilai-nilai agama sebagai taruhannya. Betapa tidak, pacaran membangun komitmen yang sangat lemah sebagai ikatan dalam rangka kenal lebih dekat dan umumnya menjadi kenal “lebih jauh”. Sementara, kita belum tahu apakah orang yang kita ikat sebagai pacar tersebut jodoh kita atau bukan.

Ikatan semu dalam pacaran seringkali menjadi pijakan untuk menghalalkan interaksi dengan lawan jenis menerabas batas-batas norma agama dan masyarakat. Tanpa sadar, seseorang telah mengintervensi memori dan perasaan bahwa dia telah menjadi bagian hidup kita. Hingga kita menjadi rela berkorban untuknya, sayang dan merindukannya. Padahal dia bukan siapa-siapa dan bisa pergi kapan saja, karena tidak ada sanksi apapun dari ikatan komitmen “ilegal”.

Jika kita tinjau dari perspektif motif menjalin hubungan dengan lawan jenis, Rasulullah SAW telah menginformasikan pada kita bahwa,
”Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena kecantikannya, karena nasabnya, karena agamanya. Maka pilihlah alasan menikahinya karena agamanya. Kalau tidak maka rugilah engkau”. (HR. Bukhari no. 5090, Muslim no. 1466)

Pesan Rasululullah secara tersirat menginformasikan bahwa ada 4 motif dalam berkomitmen hanya 1 yang menguntungkan, yakni:

1. Motif Harta Kekayaan.

Motif ini tumbuh karena ekspektasi kehidupan yang lebih baik dengan menjadikan harta sebagai parameternya. Harta dipersepsikan sebagai salah satu parameter hidup bahagia. Bagi kalangan kaya, motif ini dalam rangka menjaga agar mereka dapat hidup dalam taraf hidup yang layak versi mereka. Dan bagi kalangan bawah, motif ini dalam rangka mendapatkan kehidupan yang lebih layak setelah pernikahan.

2. Motif Kerupawanan.

Motif ini disebut juga motif romantis. Dimana para pemuja ketampanan/kecantikan berekspektasi bahwa kehidupan yang bahagia adalah hidup bersama pasangan yang rupawan walau harus “makan sepiring berdua”. Padahal motif ini sangatlah rentan, karena dalam perjalanan hidup manusia sangat mudah menemukan orang lain yang lebih rupawan yang dapat menumbuhkan kembali gelora asmara.

3. Motif Keturunan (nasab).

Motif ini tumbuh dikalangan mereka yang percaya bahwa  kebahagiaan dicapai dengan menjadikan Keturunan sebagai faktor penting. Ada 2 golongan penganut motif ini. Pertama, mereka yang yakin bahwa mereka adalah keturunan mulia yang harus menjaga kemuliaan melalui pernikahan dengan sesama keturunan mulia. Kedua, Mereka yakin menjadikan “manner” sebagai salah satu parameter pencapaian kebahagiaan dalam membangun rumah tangga. Mereka beranggapan bahwa dengan manner yang sama, kecocokan dan kenyaman sebagai pasangan akan bisa diwujudkan. Jadi tak heran mereka hanya akan cocok dengan “kalangan sendiri”.

4. Motif Agama atau ibadah.

Motif ini tumbuh karena mempersepsikan pernikahan sebagai ibadah. Motif ini akan menuntun kepada cara-cara mencari pasangan sesuai dengan tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah serta berupaya untuk tidak melanggar larangan-laranganNya. Mereka yakin bahwa pasangan yang taat pada Allah akan menjadi pasangan yang baik dan mendatangkan keberkahan dan kemudahan-kemudahan dalam menjalani kehidupan berumahtangga.

Dari empat motif diatas, rasanya dapat disimpulkan bahwa pacaran hanya dilakukan mereka yang memiliki motif selain motif keempat. Itu artinya pacaran akan sangat merugikan sebagaimana hadis Rasulullah bahwa hanya motif keempat yang menguntungkan. Dimana Ruginya? Ingatlah bahwa pernikahan adalah perjalanan hidup panjang yang musti kita tempuh. Jika kelak terjadi ketidakcocokan dengan pasangan, hanya motif keempat-lah yang memiliki dasar yang kuat untuk berpisah.

"
Ada tujuh golongan manusia yg akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya yaitu: ... dua orang yg saling mencintai karena Allah sehingga mereka tidak bertemu dan tidak berpisah kecuali karena Allah ... " ( HR Bukhari dan Muslim)

Artinya pada motif keempat jika harus berpisah, maka salah satu dari pasangan tersebut sudah jauh dari agamanya.

Bagi yang belum menikah, ubahlah motif Anda dalam mencari pasangan. Agar pernikahan anda kelak meraih kebahagiaan dan menjadi sepasang insan yang beruntung sebagaimana janji Rasulullah SAW.

Dan bagi ada yang sudah menikah, mari kita raih hidayah Allah dengan perbaiki motif kita dalam berumahtangga. Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai pasangan-pasangan yang beruntung, sakinah mawaddah wa rahmah. Aamiin. [yy/republika]

Oleh Ustaz Qodrat SQ