pustaka.png.orig
basmalah.png


9 Dzulqa'dah 1442  |  Sabtu 19 Juni 2021

Guru Pilihan

Guru PilihanFiqhislam.com - Tak diragukan lagi, peran dan posisi guru sangat memengaruhi pandangan dan perilaku anak-anak. Bahkan, Nabi Muhammad SAW memerintahkan kita agar memilih teman dekat yang baik dan teman duduk yang saleh, terlebih lagi dalam memilih guru.

Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang itu akan mengikuti tuntunan teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang diantara kalian memerhatikan dengan jeli siapa yang bakal menjadi teman dekatnya.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, & Ahmad).

Muhammad bin Sirin mengatakan, “Sesungguhnya ilmu adalah tuntunan. Oleh karena itu, perhatikanlah siapakah orang yang bakal kalian ambil tuntunannya.” Tegasnya, dianjurkan bagi orang tua memilihkan buat anaknya para guru pilihan.

Siapa guru pilihan tersebut:

Pertama, guru yang paling baik akhlaknya. Berkata sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, “Orang mukmin yang sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya." (HR Tirmidzi).

Kedua, guru yang berakal dan menggunakan akalnya dalam mengajar dan mendidik anak. Buya Hamka menyebutkan sembilan tanda orang berakal, yaitu: luas pandangannya kepada sesuatu yang menyakiti atau yang menyenangkan, selalu menaksir harga dirinya, senantiasa berbantah dengan dirinya, selalu mengingat kekurangannya, tidak berduka ketika cita-citanya di dunia tidak diraih, enggan menjauhi orang yang berakal pula, tidak memandang remeh suatu kesalahan, tidak bersedih hati, dan orang berakal hidup bukan untuk dirinya semata melainkan untuk manusia lain dan seluruh kehidupan.

Ketiga, guru yang ahli dalam mengajar dan mendidik. Nabi Muhammad SAW berkata, “Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah saat kehancurannya.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana menyia-nyiakan amanah itu, ya Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab, “Apabila suatu urusan diserahkan bukan pada ahlinya.” (HR Bukhari).

Sebagai pengajar, guru harusnya sangat ahli dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Guru sangat menguasai ilmu yang dia punya serta terampil menggunakan beragam strategi dan media pembelajaran yang bisa memudahkan anak-anak untuk memahami materi pelajaran.

Evaluasi digunakan bukan untuk menghakimi, tetapi menemukenali kelemahan dan kekuatan cara belajar anak. Sebagai pendidik, guru mengedepankan keteladanan dan sikap lemah lembut dalam mendidik anak-anak (QS. Ali-Imran: 159).

Keempat, guru yang berwibawa. Tak ada guru yang berwibawa dengan sendirinya. Ada proses belajar yang harus dilakukan guru agar bisa memiliki karisma dan wibawa di mata anak-anak. Jika hendak menjadi guru berwibawa, kita bisa belajar dari sosok Rasulullah SAW.

Kewibawaan Nabi SAW ditandai dengan banyak diam. Beliau tidak berbicara jika tidak perlu. Berpaling jika orang berbicara yang tidak baik. Tawanya sebatas senyuman. Jika senyumnya lebar beliau menutup mulutnya. Bicara secukupnya, tak kurang, tak lebih.” (HR Ahmad).

Jika Nabi SAW diam, itu karena empat hal, yaitu: merenung, bersikap hati-hati, mempertimbangkan sesuatu, atau berpikir. Bicaranya tidak sama dengan bicara orang kebanyakan. Kata Aisyah, “Jika pembicaraan Rasulullah dihitung, pasti bisa dihitung—saking pelannya dan saking jelasnya sehingga mudah dipahami." (HR Bukhari). Wallahu a’lam bishawab. [yy/republika]

Oleh Asep Sapa’at

 

Tags: ulama | ilmu | guru