fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Sya'ban 1442  |  Minggu 11 April 2021

Kecintaan Allah bagi Hamba-Nya Tak Terukur

Kecintaan Allah bagi Hamba-Nya Tak TerukurFiqhislam.com - Sesungguhnya kecintaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap hamba-Nya merupakan nilai lebih bagi hamba di antara hamba-hamba-Nya. Keagungan-Nya ini merupakan sesuatu yang tidak bisa diukur. Selanjutnya siapakah hamba yang dicintai dan dilindungi Allah?

Sayyid Quthub mengatakan, “Cinta Allah terhadap hamba- Nya merupakan sesuatu yang tidak bisa diukur nilainya, kecuali oleh orang yang mengetahui sifat-sifat Allah, seperti ketika dia mengetahui sifat dirinya.

Hal ini juga hanya bisa dirasakan oleh orang yang merasakan kecocokan sifat-sifat Allah tersebut dengan semua perasaan, dirinya, kesadaran, dan keberadaannya.

Tentu saja, dia tidak akan mengetahui hasil pengukuran itu. Karena hanya orang yang mengetahui hakikat persoalan inilah yang akan memahaminya, yaitu mereka yang mengetahui siapa Allah sebenarnya. Dia adalah Yang Maha Menciptakan berbagai ciptaan yang luar biasa dan penciptaan manusia hanya merupakan contoh sederhana.

Dia yang mempunyai keagungan lagi memiliki kekuatan, Dia yang menyendiri dan Dia yang memiliki kekuasaan. Dia yang memberikan keutamaan cinta-Nya kepada hamba yang dia ciptakan sendiri, Dia yang Mahamulia dan Mahaagung, yang hidup abadi selamanya, yang pertama dan yang terakhir serta yang nampak dan yang ghaib.

Cinta hamba kepada Rabbnya merupakan nikmat, dan hamba tidak akan mengetahui nikmat tersebut kecuali oleh orang yang merasakannya. Apabila Allah mencintai hamba-Nya, maka itu merupakan sesuatu yang luar biasa, agung, dan kelebihan yang berlimpah.

Karena ketika Allah menganugerahkan nikmat kepada hamba-Nya berupa petunjuk karena cinta-Nya, kemudian hamba tersebut merasakan nikmat yang tiada bandingannya dan tidak bisa disamakan dengan nikmat cinta yang lain, maka hal tersebut merupakan pemberian yang sangat luar biasa.

Apabila kecintaan Allah kepada hamba-Nya merupakan perkara yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dalam menyifatinya, maka sesungguhnya kecintaan hamba kepada Rabbnya hanya bisa digambarkannya dengan sedikit sekali ungkapan, kecuali hanya beberapa orang yang dicintai Allah-lah yang bisa mengungkapkan banyak gambaran dengan kesalahan yang sedikit.

Inilah perkara yang menyedot perhatian orang-orang sufi yang jujur –dan jumlah mereka sangat sedikit dibanding kelompok orang yang menamakan dirinya dengan nama sufi sendiri.

Islam mengikat antara orang mukmin dengan Rabbnya dengan ikatan yang sangat mengagumkan layaknya seperti kekasih. Bukan hanya untuk satu kali saja dan juga bukan hanya sementara, tapi merupakan cinta hakiki dan sejati.

Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Maryam: 96).

Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” (Hud: 90).

Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.” (Al-Buruj: 14).

Bagi kaum yang menolak ini semua mengatakan, “Sesungguhnya gambaran Islam merupakan gambaran kekerasan. Dengan kata lain, hubungan antara Allah dengan manusia seperti hubungan tekanan dan paksaan, adzab dan hukuman, serta putusan.”

Ikatan antara manusia dengan Rabb-nya juga bukan seperti gambaran yang menjadikan Isa anak Allah –oknum tuhan kaum Nasrani– yang menyebabkan ikatan antara Allah dengan manusia menjadi saling bertumpang tindih.

Oleh sebab itu, sifat golongan mukmin hanya tepat bagi agama ini (Islam), hal itu dijelaskan dalam nash Al-Qur’an yang mulia, ‘Yuhibbuhum wa Yuhibbunahu.’ Hal ini juga timbul dari kenyataan bahwa hanya jiwa seorang mukminlah yang mampu memanggul seluruh amanat ilahiah. Penguasaan atas beban ini sangat sulit, akan tetapi dirasakan bahwa usaha, karunia serta kedekatan itu adalah dari Yang Maha Pemberi nikmat dan kemuliaan.

Senada dengan Sayyid Quthb, Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Kecintaan Allah merupakan sesuatu yang tinggi dan agung, dan bisa kita dapatkan di dunia. Nilai kecintaan Allah terhadap kita jauh lebih tinggi daripada kita mencintai Allah.

Sebagian ulama berpendapat, ‘Bahwasanya Allah-lah yang mencintai kita, bukan kita yang mencintai Allah? Setiap orang memohon dan mengklaim bahwasannya mereka pun mencintai Allah, akan tetapi persoalannya apakah penduduk langit juga mencintai kita atau tidak? Apabila Allah mencintai kita maka malaikat juga mencintai kita, kemudian bumi pun menerima kita, serta penduduk bumi menerima kita dan apa yang datang dari kita. Dan itu menjadi harapan orang mukmin”.

Jauh sebelumnya hal ini juga telah disampaikan oleh Al-‘Alamah Ibnul Qayyim, “Mencintai dan dicintai merupakan sesuatu yang mempunyai kaitan erat, tidak akan sempurna suatu perkara tanpa keduanya.

Sesungguhnya, bukan kita yang mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, akan tetapi Allah-lah yang mencintai kita. Allah tidak akan mencintai kita kecuali apabila kita mengikuti-Nya dalam keadaan lahir dan batin, meyakini kabar (yang datang dari-Nya), menaati perintah-Nya, menyambut dakwah sehingga dakwah pun membekas padanya dalam menjalankan ketaatan.

Menetapkan hukum dengan hukum-Nya dan tidak membutuhkan hukum selainnya. Mencintai orang lain karena cintanya kepada-Nya, taat kepada yang lain karena taat kepada-Nya. Apabila tidak menaati-Nya maka kita akan menderita. Jika kita hidup semau kita sendiri, niscaya kita akan menderita dan tidak akan mendapatkan petunjuk.

Renungilah firman Allah ini:

“…ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihimu…” (Ali ‘Imran: 31)

Ini sebagai bukti bahwa Allah yang mencintai kita, bukan kita yang mencintai Allah. Dalam hal ini kita tidak bisa mendapatkan kecintaan Allah kecuali dengan mengikuti Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam.

Inilah sebagian pendapat dari para pecinta yang berpengetahuan dengan mencurahkan segala potensi yang ada pada mereka untuk memberikan arahan kecintaan kepada Sang Pencipta mereka.

Bahkan, mereka tidak meninggalkan amalan/perbuatan yang mereka ketahui bahwasannya perbuatan itu dicintai Allah apabila dikerjakan. Karena itulah jalan yang akan menuju kepada kecintaan Allah. Mereka pun mampu memahami dan menjelaskan makna kecintaan Allah terhadap hamba-Nya sebelum melakukan berbagai aktivitas hidupnya.

Mudah-mudahan hal ini dapat menambah pengetahuan dan pemahaman kita tentang nilai kecintaan Allah kepada hambaNya. Hendaknya kita juga senantiasa mengingat bahwa Allah adalah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Setiap manusia pasti membutuhkan-Nya, mereka berkehendak terhadap apa yang ada disisi-Nya, sebagaimana firman-Nya:

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 15)

Ada pun kebanyakan manusia di sekitar kita cenderung mencintai orang-orang kaya dan mempunyai harta yang melimpah –meskipun harta itu digunakan bukan untuk kemaslahatan dan pemenuhan kebutuhan orang lain. Akan tetapi kekayaan itu menjadi ukuran bagi orang yang dicintai, dan dia berkata, “Sesungguhnya dia mencintai saya dan sayalah yang membutuhkannya bukan dia.” [yy/hidayatullah]

Dr. Imad Ali Abdussami’ Husain, dikutip dari bukunya Menjadi Manusia Paling Dicintai.

 

Tags: allah | hamba | mahabbah