<
pustaka.png
basmalah.png

Mewaspadai Fitnah, Musibah dan Rintangan

Mewaspadai Fitnah, Musibah dan Rintangan

Fiqhislam.com - Diantara faktor yang mengharuskan kita melakukan amal akhirat dengan segera dan sebanyak mungkin adalah, adanya fitnah, musibah, dan rintangan di dunia yang tidak seorang pun bisa lepas darinya. Tiga faktor tersebut misalnya seperti sakit, fisik maupun psikis, kesulitan ekonomi, masalah sosial, godaan wanita, harta, dan lain sebagainya.

Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam mengungkapkan begitu banyak fitnah dan musibah yang dihadapi manusia. Ibnu Mas`ud ra meriwayatkan, “Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam menggambar persegi empat, lalu menarik garis di tengahnya mengarah ke luar. Kemudian Nabi menarik beberapa garis pendek di dua tepi garis tengah itu. Lantas Rasulullah bersabda, ‘Ini manusia. Ini ajal yang meliputinya. Garis yang di luar adalah harapan. Garis garis pendek ini rintangan. Jika dia lepas dari ini, maka ini memutusnya. Jika dia lepas yang ini, maka ini memutusnya. (HR Bukhari, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah).

Maksudnya, angan-angan manusia lebih panjang dan lebih besar dari umur manusia, sedangkan kematian meliputinya. Garis-garis pendek adalah rintangan yang dihadapi manusia. Jika dia selamat dan berhasil dari yang satu, dia tidak selamat dari yang lain. Jika dia bisa selamat dari semuanya, dia tidak selamat dari ajal (kematian).”

Untuk memahami haditst ini, ulama telah membuat gambar seperti berikut ini;

Mewaspadai Fitnah, Musibah dan Rintangan

Garis persegi empat adalah kematian. Garis lurus dalam persegi panjang adalah manusia. Garis lurus di luar persegi panjang adalah harapan. Sedang garis-garis pendek adalah rintangan dan musibah.

Dalam haditst lain, Rasulullah bersabda, “Ini ilustrasi manusia. Di hadapan manusia itu ada 99 musibah. Jika dia lolos dari semua musibah, dia akan terjerembab dalam pikun hingga akhir hayat. (HR Tirmidzi).

Rasulullah menuturkan beberapa contoh fitnah dan rintangan dalam sabdanya, “Segeralah beramal sebelum datang tujuh perkara. Apakah kamu menunggu sampai datang kefakiran yang dilupakan, kekayaan yang menyilaukan, sakit yang merusak, ketuaan yang melemahkan, kematian yang disiapkan, Dajjal; makhluk gaib jahat yang pasti datang, atau Hari Kiamat, sedangkan Hari Kiamat pasti terjadi.” (HR Tirmidzi).

Dalam haditst lain disebutkan, “Segeralah beramal sebelum datang enam perkara berikut; Kekuasaan orang-orang bodoh, banyak keamanan (yang tidak adil), hukum dijualbelikan, mengalirkan darah (pembunuhan), terputusnya silaturahim, anak-anak kecil menjadikan al-Qur’an sebagai alat musik, mereka ditampilkan untuk memperkaya diri walaupun mereka hanya sedikit faham tentang fikih.” (HR Thabrani)

Ada rintangan di mana tidak seorang pun bisa selamat darinya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah, “Segeralah beramal, sebelum datangnya enam perkara; terbitnya matahari dari barat, Dajjal, asap tebal, binatang melata (akan muncul menjelang Hari Kiamat yang dapat berbicara dan melecehkan orang yang tidak beriman), kematian yang hanya menimpa manusia, dan Hari Kiamat. (HR Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi).

Jika seorang muslim meyakini keberadaan setiap musibah dan rintangan ini, maka wajib baginya menggunakan waktu sehat atau waktu luangnya sebelum datang musibah dan kesulitan, atau minimal sebelum hambatan menjegalnya.

Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam juga mengingatkan, “Segeralah beramal, sebelum datang fitnah yang seperti malam gelap gulita. Pada pagi hari ia seorang muslim, tapi di malam hari ia telah menjadi kafir. Atau sebaliknya, di malam hari ia mukmin tapi di pagi hari telah menjadi kafir. Salah seorang dari mereka menjual agama dengan imbalan dunia.” (HR Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi).

An-Nawawi berkomentar, “Haditst ini memotivasi kita untuk segera beramal saleh sebelum berhalangan atau tidak sempat akibat kesibukan atau fitnah yang tiada akhir bak malam gulita tanpa bulan. Rasulullah mengilustrasikan kedasyatan fitnah itu, misalnya, seperti seorang yang pada malam hari mukmin, tapi di pagi hari ia telah menjadi kafir, atau sebaliknya. Ini karena begitu besarnya fitnah yang sanggup membalikan keimanan seseorang dalam satu hari.”

Nabi bersabda, Pergunakan lima perkara sebelum datang lima perkara; Masa mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, dan hidupmu sebelum matimu. (HR Hakim dan Baihaqi).

Abu Hurairah meriwayatkan, “Seorang laki-laki menghadap Nabi, dia berkata, `Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling besar pahalanya?’ Rasul menjawab, ‘Sedekah ketika kamu sehat, pelit, takut fakir, dan ingin sekali kaya. Jangan tangguhkan sedekah sampai roh di tenggorokan, baru kamu berkata, `Ini untuk si Fulan, itu untuk si Fulan, dan sudah untuk si Fulan.” (Muttafaq ‘alaih).

Rasulullah bersabda, “Siapa yang hendak haji, maka segeralah. Karena bisa jadi dia sakit, perjalanan terhambat, atau terhalang kebutuhan (lain).” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Dalam riwayat lain, “Segeralah haji karena salah seorang di antara kalian tidak tahu yang akan menghalanginya.”

Abu Hurairah meriwayatkan, “Hai manusia, bertaubatlah kepada Allah sebelum kalian mati. Segeralah beramal saleh sebelum kalian disibukkan (dengan hal lain). jalinlah hubungan dengan Tuhan dengan banyak berdzikir kepada-Nya. Dan perbanyaklah sedekah dalam keadaan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, niscaya kalian akan dikarunia rezeki, kemenangan, dan kekuasaan.” (HR Ibnu Majah).

Ibnu `Umar pernah berkata, “Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu.”

`Umar bin Khattab berpesan, “Perdalamlah agama sebelum menjadi tuan.” Kata “tuan” di sini adalah kiasan dari kekuasaan dan keagungan. Atau, menurut satu pendapat, kiasan dari pernikahan.’ Ini semua merupakan faktor yang bisa menghalangi kesuksesan dalam menuntut ilmu dan memperdalam agama.

Hasan pernah berkata, “Puasalah sebelum datang hari di mana Anda tidak mampu berpuasa.”

Di malam pengantinnya, `Abdullah bin ‘Umar mengkhatamkan al-Qur’an sepanjang hari dan beribadah sepanjang malam. Rasulullah menasihati agar ia tidak belebihan, dan terus menyarankan agar ia memperingan amalannya. Setiap kali Nabi menasihati, Ibnu `Umar merajuk, “Rasulullah, izinkan aku menikmati kekuatanku di masa mudaku.”

Namun pada akhirnya `Abdullah menuruti nasihat Nabi.

Seorang penyair melantunkan;

Wahai yang tidur malam, awalnya merasa senang Sungguh, bencana kadang menimpa di tengah malam
Menghilangkan abad-abad penuh kenikmatan
Siang dan malam silih berganti menyerang
Banyah sudah perputaran zaman menghancurhan para raja Sungguh, zaman memuat manfaat dan bahaya
Wahai perangkul dunia yang tiada kekal Menyusuri dunia pagi dan petang bak musafir
Tidakkah kau lepas rangkulanmu pada dunia Agar kau merangkul bidadari di surga Firdaus Jika kau dambahan tinggal di surga Khuldi Maka selayaknya kau tak merasa aman dari neraka.


Nabil Hamid al-Ma’az
yy/hidayatullah
Dari bukunya Anda Berhak Masuk Surga

Tags: fitnah | musibah
top