fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Umur Produktif

Umur ProduktifFiqhislam.com - Diantara standar fikih prioritas adalah setiap amal, program, dan kegiatan harus paling bermanfaat terhadap orang lain di antara program yang ada. Semakin tinggi tingkat kebermanfaatannya kepada orang lain, amal itu semakin utama dan berkah.

Allah SWT telah menberikan contoh dalam firman-Nya yang artinya, "Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan." (QS at Taubah: 19-20).

Dalam ayat ini, Allah SWT memberikan contoh perbandingan antara menyuguhkan minuman kepada jamaah haji dan berjihad dengan harta dan jiwa di medan peperangan tentu tidak sama. Berjihad jauh lebih bermanfaat bagi umat dan keberlangsungan dakwah.

Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan ilmu lebih Allah cintai dari pada keutamaan ibadah." (HR Ath Thabrani). Menurut hadis ini, berilmu lebih utama dari sekadar beribadah karena berilmu lebih bermanfaat bagi orang lain, sedangkan beribadah hanya bermanfaat bagi dirinya. Atas dasar ini juga para ahli fikih menjelaskan bahwa orang yang mencari ilmu berhak atas zakat, sedangkan orang yang hanya beribadah tidak berhak atas zakat.

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, "Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain dan pekerjaan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat saudaranya gembira, membantu kesulitannya, melunasi utangnya, menghilangkan rasa laparnya. Oleh karena itu, jika saya berjalan dengan saudara saya sesama Muslim untuk memenuhi hajatnya itu lebih dicintai Allah daripada beriktikaf selama satu bulan penuh di masjid." (HR Ath-Thabrani).

Kedua hadis tersebut di atas menegaskan tentang kewajiban mendahulukan pekerjaan atau amalan yang paling bermanfaat bagi orang lain di antara program bermanfaat yang ada. Karena standar ini juga, sedekah itu diutamakan daripada ibadah yang lain karena sedekah itu pemberian kepada orang yang membutuhkan. Semakin tinggi tingkat kebutuhan si penerima sedekah, semakin utama pula sedekah itu.

Hal ini, sesuai dengan hadis Rasulullah SAW yang artinya, "Jika Bani Adam meninggal maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariah atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak saleh yang mendoakan orang tuanya." (HR Bukhari dan Muslim).

Jika umur manusia terbatas dan sangat singkat maka dengan memilih amalan yang nilai produktivitasnya panjang dan nilai manfaatnya paling penting, umurnya menjadi panjang karena pahalanya mengalir tak pernah henti. [yy/republika]

Dr Oni Sahroni MA
(Dewan Pengawas Syariah Laznas IZI dan Anggota DSN–MUI)

 

Tags: ilmu | ulama | sedekah