<
pustaka.png
basmalah.png

Meraih Martabat Utama Dari Rahmat Rahmaniyah ke Rahmat Rahimiyah

Meraih Martabat Utama Dari Rahmat Rahmaniyah ke Rahmat Rahimiyah Fiqhislam.com - Salah satu tanda seseorang meraih martabat utama manakala ia mampu meng-upgrade atau meningkatkan rahmat rahmaniyah menjadi rahmat rahimiyah. Rahmat rahmaniyah ialah rahmat semesta alam yang diberikan Allah SWT kepada siapa pun tanpa membedakan jenis kelamin, etnik, golongan, keyakinan, agama, dan madzhab. Termasuk, juga di dalamnya binatang, tumbuh-tumbuhan, jin, dan malaikat.

Contoh rahmat rahimiyah ialah rahmat kehidupan, menggunakan pancaindra, mengakses kekayan alam, menikmati cahaya matahari, dan sinar bulan. Rahmat rahmaniyah dan rahmat rahimiyah diambil dari penjelasan dan penggunaan kata "al-rahman" dan "al-rahim" yang termasuk di dalam al-Asma' al-Husna'.

Rahmat rahimiyah ini ditegaskan Allah SWT dalam ayat, "Rahmati wasi'at kulla syai'in (Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (QS al-A'raf [7]: 156). Rahmat rahmaniyah dapat diakses siapa pun yang berusaha untuk mendapatkan rahmat itu akan dipenuhi-Nya, sungguh pun orang itu kufur dan pendosa. Yang penting, mereka sudah memenuhi persyaratan universal dan sudah berhak untuk mendapatkannya. Itulah sebabnya banyak kita jumpai orang-orang selayaknya mendapatkan azab, tetapi mendapatkan rezekinya.

Sedangkan, rahmat rahmaniyah ialah rahmat secara khusus diperuntukkan kepada hamba-hamba pilihan Allah SWT, yaitu orang-orang yang beriman sepenuh hati dan melaksanakan amal saleh dengan ikhlas. Mereka ini akan mendapatkan rahmat yang tidak akan diberikan kepada orang-orang awam, apalagi orang kafir. Hanya, mereka yang sampai pada tingkat atau maqam sosial dan spiritual yang lebih tinggi yang memang wajar untuk mendapatkannya.

Allah SWT memang Maha Pengasih, tetapi juga Mahaadil yang tentu tidak menyamakan antara orang-orang yang telah menempuh perjuangan panjang dan Mahasulit dengan orang-orang yang tidak melakukan usaha apa pun. Soal berapa lama hamba-Nya akan berada di dalam rahmat rahmaniyah baru hijrah ke rahmat rahimiyah, hanya Allah SWT Yang Mahatahu.

Perbedaan antara rahmat rahmaniyah dan rahmat rahimiyah ialah yang pertama bersifat sementara, temporer, tidak holistik, dan hanya berlaku di dalam kehidupan dunia. Sedangkan, rahmat rahimiyah lebih lama dan abadi, bahkan berlangsung dan berlanjut sampai pada hari akhirat kelak.

Misalnya, ada orang yang dikaruniai istri atau suami dan anak keturunan. Jika hanya bahagia dalam jangka waktu tertentu, kemudian belakangan merepotkan dan menyiksa, itu contoh rahmat rahimiyah. Akan tetapi, jika suami-istri dan anak keturunannya bahagia sepanjang masa dan berlanjut nanti ke dalam surga, itu contoh rahmat rahimiyah.

Sikap orang-orang yang mendapatkan rahmat rahmani berusaha menghindari dosa karena takut tersiksa di neraka. Ia membayangkan Allah SWT sebagai Tuhan Yang Mahaadil yang akan menempatkan hambanya sesuai dengan perbuatan amalnya. Jika dosanya lebih besar, mereka dimasukkan ke dalam neraka. Sebaliknya, jika amal kebajikannya lebih besar, ia akan ditempatkan di surga. Mereka selalu cemas karena khawatir dosanya lebih berat ketimbang amalnya dan selalu membayangkan ancaman siksa neraka dalam ingatannya.

Sedangkan, orang-orang yang mendapatkan rahmat rahimiyah berusaha menghindari dosa karena takut tersiksa dengan rasa malu kepada Allah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Mereka lebih takut disiksa rasa malu kepada Allah SWT ketimbang dibakar di dalam neraka.

Yang pasti bahwa penetapan al-Rahman dan al-Rahim sebagai induk nama-Nya (al-umm al-asma') yang diisyaratkan dengan pemberian nama itu menempel pada kata basmalah ditambah pengulangan penyebutannya begitu banyak, mengisyaratkan bahwa Allah SWT lebih menonjol sebagai Maha Pengasih dan Penyayang ketimbang sebagai Maha Penghukum dan Maha Pendendam (al-muntaqim). Kenyataan ini memberikan rasa optimisme kepada siapa pun hamba-Nya yang pernah melakukan kekeliruan dan kesalahan untuk segera kembali (taubat) kepada-Nya.

Namun demikian, orang-orang yang mendapatkan rahmat rahmani berusaha menghindari dosa karena takut tersiksa di neraka. Sedangkan, orang-orang yang mendapatkan rahmat rahimiyah berusaha menghindari dosa karena takut tersiksa dengan rasa malu terhadap Allah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Orang yang taubat lalu menjauhi dosa karena takut tersiksa dengan neraka biasa disebut inabah. Sedangkan, orang yang taubat lalu menjauhi dosa karena takut tersiksa dengan rasa malu kepada Tuhan biasa disebut istijabah. Orang yang istijabah lebih tersiksa rasa malu kepada Tuhannya ketimbang panasnya api neraka. Semoga kita mendapatkan rahmat rahimiyah-Nya. [yy/republika]

Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta


 

top