27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Tiga Makna Jihad

Tiga Makna Jihad

Fiqhislam.com - Jihad menurut hukum Islam memiliki makna yakni segala bentuk usaha maksimal untuk penerapan ajaran Islam dan pemberantasan kejahatan serta kezaliman, baik terhadap diri pribadi maupun masyarakat.

Lebih luas lagi, seperti dikutip dari Ensiklopedia Islam, ulama fikih membagi jihad dalam tiga bentuk; jihad memerangi musuh yang nyata, jihad melawan syaitan dan jihad terhadap diri sendiri.

Jihad dalam pengertian umum seperti ini mencakup juga seluruh jenis ibadah yang bersifat lahir batin, sebegaimana dicontohkan dalam sejarah perjuangan Rasulullah SAW. Banyak ayat dalam Alquran yang juga menjelaskan makna jihad secara umum yakni surah an-Nahl ayat 110, an-Nur ayat 53, al-Furqan ayat 52 dan al-Fatir ayat 43.

Namun terdapat pula pengertian jihad secara khusus, dan ini seperti dikemukakan oleh sejumlah ulama, termasuk Imam Syafii. Menurut dia, jihad adalah untuk memerangi kaum kafir guna menegakkan Islam. Ayat-ayat tentang jihad yang turun pada periode Madinah mengandung makna jihad secara khusus maupun umum.

Konsep jihad dalam artian khusus baru diizinkan kepada Rasulullah setelah beliau bermukim di Madinah selama setahun. Ketika itu, Rasul melawan musuh-musuhnya berdasarkan perintah di surah al-Hajj ayat 39.

Perlu digarisbawahi, kata-kata jihad dalam Alquran kebanyakan mengandung pengertian umum. Ini menandakan pengertiannya tidak hanya sebatas pada pertempuran maupun ekspedisi militer, namun mencakup segala bentuk usaha dalam rangka syiar Islam serta amar ma'ruf nahi munkar.

Maka dari itu, berdasarkan ayat-ayat Alquran maka dapat disimpulkan tujuan jihad adalah bagi terlaksananya syariat Islam dan terciptanya suasana damai tentram. Tanpa motivasi jihad seperti itu, Islam tidak membenarkan pemeluknya untuk menyerang musuh-musuhnya.

Firman Allah SWT dalam surah an-Nisa ayat 90: "Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum yang antara kamu itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya.."

Bila melihat dari pelaksanaannya, menurut Ibn Qoyyim, jihad terdiri dari tiga bentuk, antara lain jihad mutlaq, jihad hujjah dan jihad 'amm. Jihad mutlaq adalah bertempur melawan musuh di medan tempur, meski ada persyaratannya, seperti perang itu harus bersifat defensif, menciptakan perdamian maupun mewujudkan keadilan.

Jihad hujjah merupakan jihad yang dilakukan dalam berhadapan dengan pemeluk agama lain dengan mengemukakan argumentasi kuat. Adapun jihad 'amm adalah jihad yang mencakup segala segi kehidupan, yang bersifat moral atau material, terhadap diri sendiri maupun masyarakat. Jihad ini bersifat kesinambungan dan bisa dilakukan terhadap musuh yang nyata.

Musuh nyata di sini, di samping perang, juga berarti semua tantangan yang dihadapi oleh umat Islam, semisal memerangi kemiskinan, kebodohan serta keterbelakangan.

Kemudian, bagaimana syariat dan hukum jihad? Seperti dikutip dari situs asy-syariah online, dalam persoalan jihad, terbagi dalam dua keadaan: keadaan pada masa kenabian, dan keadaan setelah masa kenabian.

Para ulama sepakat bahwa disyariatkannya jihad pertama kali ialah setelah hijrah Nabi SAW dari Makkah ke Madinah. Namun setelah itu muncul perselisihan di antara para sahabat tentang hukum jihad, fardhu 'ain atau fardhu kifayah.

Di dalam Fathul Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar ra berkata: "Ada dua pendapat yang masyhur di kalangan para ulama. (Pertama adalah pendapat dari) Al-Mawardi, dia berkata: "(Hukumnya) fardhu 'ain bagi orang-orang Muhajirin saja, bukan selain mereka."

Pendapat ini kemudian dikuatkan dengan wajibnya hijrah atas setiap muslim ke Madinah dalam rangka menolong Islam. (Kemudian) As-Suhaili, dia berkata: "Fardhu 'ain atas orang-orang Anshar saja, bukan selain mereka." Dari dua pendapat di atas diperoleh kesimpulan bahwa jihad menjadi fardhu 'ain atas dua thaifah (kelompok), yakni Muhajirin dan Anshar) dan fardhu kifayah atas selain mereka.

Sebagian lagi berpendapat, jihad hukumnya wajib 'ain dalam peperangan yang di dalamnya ada Rasulullah SAW dan bukan wajib 'ain pada selainnya. Yang benar dalam hal ini ialah, jihad menjadi fardhu 'ain bagi orang yang dipilih (ditunjuk) oleh Rasulullah, walaupun ia tidak keluar ke medan tempur. [yy/republika]