<
pustaka.png
basmalah.png

Konsep Takdir

Konsep Takdir

Fiqhislam.com - Takdir Allah terhadap segala sesuatu mencakup peneguhan terhadap beberapa hakikat berikut :

1. Mengimani bahwa Allah SWT mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya sebagaimana diri-Nya mengetahui hal itu setelah terjadinya. Allah mengetahui sesuatu yang belum terjadi, tengah terjadi dan akan terjadi dan tidaklah ada sesuatu yang tidak diketahui-Nya baik yang kecil maupun besar, sebagaimana firman Allah SWT :

ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Artinya : “Dan tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Yunus [10] : 61)

2. Mengimani bahwa Allah SWTtelah menuliskan segala sesuatu di “Lauh Mahfudz” sebelum Dia swt menciptakan langit dan bumi.

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Artinya : “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al Hadid [57] : 22)

3. Mengimani bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah kehendak Allah swt. Tidak ada suatu kebaikan maupun keburukan kecuali dengan kehendak-Nya.

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Artinya : “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Insaan [76] : 30)

4. Mengimani bahwa segala sesuatu di alam ini adalah ciptaan Allah SWT dan hasil dari ketetapan-Nya.

قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Artinya : Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa."(QS. Ar-Ra'ad [13] : 16)

Segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah kehendak Allah swt, baik itu perkataan maupun perbuatan, pergerakan maupun berhenti, kondisi maupun keadaaan, baik maupun buruk seseorang. Namun demikian Allah SWT bersifat adil, Dia tidak akan menyesatkan orang yang berhak mendapatkan petunjuk atau sebaliknya. Kemudian setiap hamba-Nya pun diberikan kehendak dan pilihan untuk menentukan perbuatan-perbuatannya sendiri, sebagaimana firman-Nya :

لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ

Artinya : “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang berkehendak menempuh jalan yang lurus.” (QS. At Takwir [81] : 28)

Dan semua kehendak manusia itu tidaklah keluar dari kehendak dan takdir Allah SWT. Untuk itu Allah SWT telah memberikan kepada hamba-hamba-Nya akal untuk bisa membedakan mana yang baik dan buruk serta untuk bisa menentukan pilihan apakah sesuatu itu dilakukan atau tidak.

Didalam kitab “Al Bayan Fii Arkanil Iman” disebutkan bahwa ketetapan Allah terhadap manusia bisa dibagi menjadi dua :

Pertama : perkara-perkara yang manusia tidak memiliki kehendak dan pilihan didalamnya, seperti : keberadaan atau ketidakberadaan, tinggi atau pendek, pintar atau bodoh, sehat atau sakit, kehidupan atau kematiannya dan lainnya. Dalam hal ini manusia tidaklah dikenakan pahala maupun siksa.

Kedua : Perkara-perkara yang menjadi takdir Allah sebelumnya sesuai dengan ilmu dan hikmah Allah SWTnamun didalamnya terdapat sebab, perbuatan, keinginan dan kehendak manusia, seperti : makan, munum, berpakaian atau hal-hal mubah (dibolehkan) lainnya atau seperti : shalat, infak, jihad atau hal-hal taat lainnya, seperti : berzina, mencuri, minum khamer atau hal-hal yang diharamkan lainnya. Perbuatan-perbuatan ini —macam kedua— terjadi sesuai dengan ilmu, tulisan, kehendak dan ketetapan Allah SWTdan manusia diberikan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan diberikan sangsi atas keburukan yang dilakukannya. Seorang mukmin berkeyakinan bahwa seluruh perbuatan hamba baik yang berupa pilihan maupun paksaan terjadi dengan keinginan Allah dan takdirnya sejak di azali dan dibawah pengetahuan-Nya sebelum terjadinya. (Al Bayan, hal. 415 – 416)

Dengan demikian seorang wanita yang melepas jilbabnya atau seorang yang melakukan perampokan merupakan takdir Allah SWT karena tidaklah ada sesuatu yang terjadi di alam ini, apakah ia berupa kebaikan atau keburukan kecuali itu semua adalah takdir, ketetapan dan kehenda Allah SWT. Namun dalam hal ini orang itu diberikan sangsi atas perbuatannya itu dikarenakan kehendaknya memilih melepaskan jilbab atau melakukan perampokan padahal akalnya telah mengetahui bahwa mengenakan jilbab adalah kewajiban dan merampok adalah perbuatan yang dilarang dan merugikan orang lain.

Demikian pula dengan jodoh adalah takdir Allah SWT, apakah seorang wanita menikah dengan pria pilihannya atau pilihan orangtuanya, atau dirinya tidak menikah atau menikah dengan seseorang kemudian bercerai dan menikah lagi dengan pria lain, atau menikah dengan seorang pria kemudian bercerai dan tidak menikah lagi.

Diwajibkan bagi seorang mukmin untuk mengimani hikmah Allah SWT di dalam takdir-takdir-Nya. Dia swt memiliki hikmah yang tepat pada segala sesuatu yang terjadi di alam ini baik yang dapat fahami maupun tidak oleh akal manusia. Akan tetapi banyak diantara hikmah-hikmah Allah SWTitu tidak bisa difahami oleh akal manusia. Karena itu diwajibkan bagi manusia untuk berserah diri kepada Allah SWTdan ini merupakan bagian dari keimanan terhadap kesempurnaan hikmah-Nya dan tidak boleh menentangnya terhadap aturan maupun takdir-Nya.

Tidak selayaknya bagi seorang muslimah yang telah mengenakan jilbab kemudian melepasnya hanya karena alasan ekonomi atau tuntutan pekerjaan karena hal ini termasuk melanggar perintah Allah SWT.

ا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Artinya : “Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab [33] : 59)

Tidak sepatutnya dirinya melakukan pelanggaran demikian hanya karena tuntutan ekonomi dan atau untuk menambah rezekinya karena sesungguhnya rezekinya, banyak atau sedikit penghasilannya telah ditetapkan dan dituliskan Allah di Lauh Mahfudz-Nya.

Perbuatan menanggalkan jilbab sementara dirinya tetap meyakini kewajibannya bisa termasuk dalam perbuatan fasik karena pengertian fasik adalah keluar dari ketaatan kepada Allah swt. Diharuskan baginya untuk segera bertaubat kepada Allah SWTdan mengenakan kembali jilbabnya serta bertawakal kepada Allah SWT atas rezekinya.

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ

Artinya : “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaq [65] : 2-3)

Adapun hal-hal yang bisa menjadikan seseorang tetap istiqomah diatas jalan dan ketaatan kepada-Nya adalah memperbanyak ilmu pengetahuan agamanya demi meningkatkan keimanannya kepada Allah SWTserta mencari lingkungan atau teman-teman dari kalangan orang-orang shaleh yang takut kepada Allah swt.

Apakah Orang Fasik, Musyrik dan Munafik Kekal di Neraka?

Diantara pokok-pokok ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah moderat di dalam nama-nama iman dan agama. Di dalam nama-nama iman dan agama kita dapati beberapa kelompok yang berbeda, yaitu: Mu’tazilah dan Khawarij di satu sisi serta Murji’ah di sisi lainnya.

{AF}Muta’zilah dan Khawarij mengatakan, “Sesungguhnya seseorang apabila berzina maka dia telah keluar dari keimanan dan tidaklah menjadi mukmin...” Sedangkan Murji’ah mengatakan yang sebaliknya, “Sesungguhnya seseorang walaupun dirinya berzina atau mencuri maka dia tetaplah mukmin yang sempurna keimanannya, keimanannya seperti keimanan orang yang paling taat kepada Allah.” Sementara Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan, “Apabila seseorang berzina atau mencuri maka ia adalah seorang mukmin yang kurang keimanannya atau mukmin dengan keimanannya dan fasik dengan dosa besarnya.”{/AF}

{AF}Kemudian juga moderat di dalam hukum—di dalam hukum terhadap manusia atas perbuatannya, apa yang akan menimpanya jika dirinya melakukan perbuatan dosa besar. Mu’tazilah dan Khawarij mengatakan, “Sesungguhnya orang itu kekal di neraka bersama dengan orang-orang munafik, Abu Jahl, Abu Lahab dan selain mereka.” Sementara Murji’ah mengatakan, “Tidak, bahkan setiap pelaku dosa besar tidaklah kekal di neraka selama-lamanya dan ini tidak mungkin.” Sementara itu Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan, “Sesungguhnya dia berhak mendapatkan siksa dan bisa saja Allah mengampuninya.” (Liqo’at al Bab al Maftuh juz 45 hal 19){/AF}

Dengan demikian seorang yang meninggal diatas agama islam tidaklah kekal di dalam neraka betapa pun besar dosa yang dilakukannya, dan bisa jadi dirinya masuk neraka sesuai dengan dosa-dosa yang dilakukannya dan jika Allah berkehendak maka dirinya akan mendapatkan ampunan dari-Nya.

{AF}Imam Bukhari meriwayatkan dari 'Ubadah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Allah satu-satunya dengan tidak menyekutukan-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya dan (bersaksi) bahwa 'Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya dan firman-Nya yang Allah berikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan surga adalah haq (benar adanya), dan neraka adalah haq, maka Allah akan memasukkan orang itu ke dalam surga betapapun keadaan amalnya."{/AF}

Adapun terhadap dosa syirik maka para ulama membagi menjadi dua macam :

  1. Syirik Kecil, seperti : riya, bersumpah dengan selain Allah SWTmaka tidaklah menyebabkan dirinya kekal di neraka dan tidaklah menghapuskan amal-amalnya akan tetapi perbuatan tersebut termasuk yang diharamkan sepertihalnya dosa-dosa besar bahkan lebih berat dari dosa-dosa besar akan tetapi tidak menyebabkannya kekal di neraka, demikian menurut Syeikh Ibn Baaz.
  2. Berbeda dengan Syirik Kecil maka pelaku Syirik Besar, seperti : menyembah selain Allah SWTdapat mengeluarkannya dari islam, kekal di neraka dan menghapuskan amal-amalnya.

Sedangkan nifaq atau kemunafikan pun dibagi menjadi dua macam :

  1. Nifaq Amali, seperti : berdusta jika berbicara, berkhianat, menyalahi janji, bermalas-malasan dalam shalat tidaklah menyebabkan pelakunya keluar dari islam dan tidak menyebabkan dirinya kekal di neraka.
  2. Berbeda dengan Nifaq Amali maka Nifaq Itiqadiy, seperti : mendustakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, mendustakan sebagian yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, membenci Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dapat mengeluarkan pelakunya dari islam dan menyebabkannya kekal di neraka.

{jb_greenbox}Seorang yang melamar pekerjaan dengan menggunakan ijazah palsu berarti dirinya telah melakukan suatu kecurangan (penipuan) yang diharamkan agama, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Dan barangsiapa menipu kami, maka dia bukan golongan kami."{/jb_greenbox}

Markaz al Fatwa didalam fatwanya No. 51544 menyebutkan bahwa apabila seseorang mendapatkan pekerjaannya dengan menggunakan ijazah palsu kemudian dirinya profesional didalam amalnya itu maka tidaklah ada kesempitan baginya terhadap gaji yang didapat darinya selama dirinya menunaikan pekerjaannya itu sesuai dengan yang diinginkan (instansinya) dan diharuskan baginya untuk bertaubat kepada Allah terhadap perbuatan curangnya itu. Wallahu A’lam. [yy/eramuslim]

Oleh Sigit Pranowo Lc

 

top