pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Ensiklopedi Hukum Islam: Diyat

Fiqhislam.com - Diyat adalah harta sebagai pengganti jiwa atau anggota tubuh. Diyat adalah sebagai ganti rugi yang diberikan oleh seorang pelaku tindak pidana kepada korban atau ahli warisnya karena suatu tindak pembunuhan atau kejahatan terhadap anggota badan seseorang.

Diyat merupakan hukuman pokok dalam pembunuhan semi sengaja dan tersalah (tidak sengaja). Diyat juga merupakan hukuman pengganti qisash dalam tindak pidana pembunuhan atau pelukaan yang dilakukan secara sengaja, apabila qisash digugurkan atau tidak bisa dilaksanakan.

Ulama fikih membedakan antara Diyat dan al-arsy meskipun esensinya sama, yaitu ganti rugi yang diberikan oleh pelaku tindak pidana kepada korban atau ahli warisnya.

Perbedaannya adalah Diyat merupakan harta yang wajib dibayarkan karena pelanggaran terhadap jiwa manusia, sedangkan al-arsy merupakan harta ganti rugi yang diwajibkan atas tindakan sewenang-wenang terhadap anggota tubuh manusia, tetapi tidak menghilangkan seluruh manfaatnya (seperti terputusnya satu buah jari tangan atau sebelah tangan).

Akan tetapi ulama hukum pidana Islam memasukkan pembahasan kedua bentuk ganti rugi ini dalam topik Diyat.

{jb_bluebox}Yang menjadi dasar hukum disyariatkannya Diyat dalam Islam adalah firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa ’ (4) ayat 92, "... dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar Diyat yang diserahkan kepada keluarga terbunuhnya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) itu bersedekah…{/jb_bluebox}

Sekalipun ayat ini berbicara tentang pembunuhan tersalah, ulama fikih sepakat menyatakan bahwa ketika qisash digugurkan atau tidak bisa dilaksanakan, Diyat diwajibkan sebagai hukum pengganti dalam tindak pidana pembunuhan sengaja.

Selanjutnya ulama fikih juga mengemukakan dasar hukum Diyat dari sunah Rasulullah SAW, yaitu hadis Amr bin Hisyam yang artinya, “Sesungguhnya Rasulullah SAW memberitahukan kepada penduduk Yaman melalui surah yang kandungannya berkaitan dengan faraid (pembagian warisan) dan Diyat.

 

{jb_greenbox}Sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya siapa yang terbukti membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang dibenarkan syarak dikenakan hukuman qisash, kecuali apabila ahli warisnya rela untuk menerima ganti rugi, maka untuk satu jiwa yang hilang Diyatnya 100 ekor unta...” (HR. Malik, an-Nasa'i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan Baihaqi).{/jb_greenbox}

 

Syarat Wajibnya Diyat

Ada beberapa syarat wajibnya Diyat, namun syarat-syarat tersebut tidak semuanya disepakati oleh ulama fikih. Syarat yang disepakati oleh ulama fikih adalah pembunuhan tersebut dilakukan terhadap orang yang dilarang syarak untuk dibunuh.

Oleh sebab itu menurut kesepakatan ulama fikih, apabila yang dibunuh adalah kafir harbi (orang kafir yang memusuhi Islam) maka pembunuhnya tidak dikenakan Diyat. Namun ulama fikih berbeda pendapat jika yang dibunuh adalah pemberontak dalam negara Islam.

Jumhur ulama mengatakan apabila seorang mukmin membunuh pemberontak maka pembunuhnya tidak dikenakan Diyat. Sedangkan menurut ulama Mazhab Syafi'i pembunuhnya wajib membayar Diyat, karena darah mereka maksum (dipelihara syarak).

Berdasarkan syarat ini, ulama fikih sepakat menyatakan bahwa orang-orang yang tidak cakap bertindak hukum pun (seperti anak kecil, orang gila, dan orang dungu) wajib dikenakan Diyat apabila melakukan pembunuhan. Hal ini berdasarkan kepada keumuman kandungan Surah An-Nisa’ (4) ayat 92 tersebut di atas.

Sedangkan syarat-syarat yang tidak disepakati adalah sebagai berikut. Ulama Mazhab Hanafi mensyaratkan wajibnya Diyat jika yang terbunuh itu berada di wilayah yang dikuasai Islam.

Karenanya menurut mereka, orang mukmin yang terbunuh di wilayah kafir harbi maka pembunuhnya tidak dapat dituntut Diyat.


{jb_bluebox}Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, “... jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang mukmin..” (QS, 4: 92).{/jb_bluebox}

 

Menurut ulama Mazhab Hanafi, dalam ayat ini Allah SWT hanya mewajibkan memerdekakan hamba sahaya bagi seseorang yang membunuh seorang mukmin di wilayah kafir harbi. Akan tetapi jumhur ulama fikih tetap mewajibkan Diyat bagi pembunuh tersebut, sekalipun pembunuhan itu dilakukan di wilayah kafir harbi.

 

{jb_bluebox}Alasan mereka adalah keumuman kandungan ayat 92 Surah An-Nisa, "... dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar Diyat yang diserahkan kepada keluarga terbunuhnya, kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah..."{/jb_bluebox}

Persoalan lain yang dibahas ulama berkaitan dengan hal-hal yang mewajibkan Diyat ini adalah tentang status seseorang yang melaksanakan tugasnya untuk mendidik atau menjalankan suatu kewajiban, tetapi tugas itu menyebabkan orang lain terbunuh (misalnya, seorang hakim memukul terpidana, ayah memukul anak, wali yatim memukul anak yatim, atau guru memukul muridnya, hingga wafat). Dalam permasalahan ini terdapat perbedaan pendapat ulama fikih. [yy/republika/foto: benderaaswaja.com]