fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Syawal 1442  |  Kamis 13 Mei 2021

Adab Berobat dalam Islam

Adab Berobat dalam IslamFiqhislam.com - Setiap penyakit pasti ada obatnya. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk berobat bila sedang sakit.

Pada dasarnya, setiap Muslim pasti pernah sakit baik ringan maupun berat. Semua itu merupakan ketentuan dari Sang Khalik.

Saat ini, berbagai jenis penyakit berkembang di tengah-tengah masyarakat. Berbagai cara dilakukan dan ditempuh untuk mengobati penyakit yang diderita. Ada yang berobat ke dokter, bahkan tak sedikit pula yang melakukan pengobatan secara tradisional.

Sebagai agama yang sempurna, Islam ternyata telah mengatur adab berobat (at-tadaawi) bagi seorang Muslim. Lalu bagaimanakah adab berobat itu?

Syekh Abdul Azis bin Fathi As-Sayyid Nada dalam kitab “Mausu'atul Adab Al-Islamiyah”, mengungkapkan, ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan umat Islam berkaitan dengan proses pengobatan.

Pertama, saat akan berobat, seorang Muslim harus meluruskan niatnya.

''Orang yang sakit berniat untuk menjaga kesehatannya agar ia tetap kuat melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT,'' kata Syekh Abdul Azis.

Sedangkan orang yang mengobati harus berniat untuk membantu saudaranya sesama Muslim dan menolong semampunya. Pengobatan yang dilakukannya semata-mata untuk mendapatkan pahala dari Allah serta memberi manfaat bagi saudaranya sesuai dengan perintah agama.

 

Kedua, menurut Syekh Abdul Azis, dalam beberapa hadis dianjurkan agar umat Islam menggunakan obat-obatan syar'i untuk mengatasi penyakit tertentu. 

Ada beberapa obat dan pengobatan yang disebutkan dalam hadis, seperti habbbatus sauda (jintan hitam), madu, bekam, daun inai serta ruqyah.

Keutamaan habbbatus sauda, misalnya, diungkapkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

{jb_greenbox}Rasulullah SAW bersabda, ''Habbbatus sauda adalah obat semua penyakit kecuali as-saam (kematian).''{/jb_greenbox}

Sedangkan keutamaan dan keistimewaan madu sebagai dijelaskan dalam Alquran Surah An-Nahl ayat 69.

{jb_bluebox}Allah SWT berfirman, ''... di dalamnya (madu) terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia...''{/jb_bluebox}

Selain itu, Nabi SAW juga biasa menggunakan daun inai (al-hinaa) untuk mengobati luka atau terkena duri.

Untuk terapi pengobatan, Rasulullah SAW menganjurkan bekam dan ruqyah.

{jb_greenbox}Rasulullah SAW bersabda, ''Terapi terbaik untuk kalian adalah bekam dan al-qusthul bahri (cendana laut).'' (HR Bukhari (5696) dan Muslim (1577).{/jb_greenbox}

{jb_greenbox}Selain itu, Rasulullan SAW juga bersabda, ''Barang siapa mengeluarkan darah dengan berbekam, maka tidak akan memudharatkan jika ia tak berobat dengan menggunakan obat lain.'' (HR Abu Dawud).{/jb_greenbox}

Selain itu, terapi lainnya yang diajarkan Rasulullah SAW adalah ruqyah al-masyuu'ah yakni ruqyah yang sesuai syariat, seperti ruqyah dengan bacaan Alquran dan lainnya yang tak mengandung kesyirikan.

{jb_greenbox}Rasulullah SAW bersabda, ''Tidak mengapa melakukan ruqyah, selama tidak mengandung kesyirikan.'' (HR Muslim).{b_greenbox}

''Meruqyah dengan membaca Surah Al-Fatihah, ayat Kursi, beberapa ayat pada akhir Surah Al-Baqarah, Surat Al-Kaafiruun, Al-Mu'awwizaat dan ayat-ayat lainnya. Dibolehkan juga membaca do'a-do'a yang sahih dari Rasulullah SAW,'' papar Syekh Abdul Aziz.



Ketiga, tidak menggunakan obat-obatan yang diharamkan. Menurut Syekh Abdul Azis, obat-obatan atau pengobatan yang diharamkan, misalnya, meruqyah dengan lafaz-lafaz yang mengandung kesyirikan.

''Menggunakan ruqyah jenis ini hukumnya haram, bahkan bisa jadi dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam,'' tegas Syekh Abdul Azis.

 

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasululllah SAW  melarang umatnya berobat dengan obat-obatan yang kotor. Suatu ketika, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang menggunakan khamar (arak) sebagai obat. Laki-laki itu berkata, ''Khamar itu obat.'' Rasulullah SAW kemudian bersabda, ''Khamar itu bukan obat, tetapi penyakit''.

 

''Tak sepantasnya seorang Muslim berpaling dari sabda Rasulullah SAW, dikarenakan pendapat orang lain,''  ujar Syekh Abdul Azis.



Keempat, berkonsultasi dengan ahli medis. Seorang Muslim yang berobat hendaknya berkonsultasi dengan kalangan orang-orang yang diketahui bertakwa kepada Allah SWT  dan mengetahui ilmu pengobatan.

Hal itu ditegaskan dalam Alquran Surah An-Nahl ayat 43.

{jb_bluebox}''...  maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.''{/jb_bluebox}

Tidak semua orang mengetahui ilmu pengobatan.

{jb_greenbox}Rasulullah SAW pernah bersabda, ''Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak menurunkan penyakit kecuali Dia menurunkan obatnya, ada yang mengetahuinya dan ada juga yang tidak, keciali penyakit as-saam,yaitu kematian.''{/jb_greenbox}

Oleh karena itu, orang yang sakit hendaknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui jenis penyakit serta obatnya yang cocok.



Kelima, meyakini bahwa kesembuhan datangnya hanya dari Allah SWT.  Orang yang sakit serta dokter wajib meyakini bahwa kesembuhan datangnya hanya dari Allah SWT. Sedangkan obat dan terapi merupakan sebab dari kesembuhan.

''Jika Allah menginginkan, Dia akan menjadikan obat itu bermanfaat dan jika tidak, maka obat tersebut tak akan memberikan pengaruh,'' kata Syekh Abdul Azis.

[yy/republika]