22 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 28 Oktober 2021

basmalah.png

Berobat dengan yang Haram

Berobat dengan yang HaramFiqhislam.com - Fenomena berobat dengan makanan atau minuman yang haram menjadi persoalan yang simpang siur hukumnya hingga saat ini.

Sebahagian ulama bahkan sempat membolehkan dengan alasan jika tidak diobati dengan makanan yang haram tersebut dapat berujung kepada kematian.

Namun, ada juga yang memilih makanan haram hanya sekedar mengobati penyakit-penyakit ringan yang sebenarnya masih dapat disembuhkan dengan metode dan obat-obatan yang halal.

Seperti yang diyakini masayarakat disebahagian tempat di Pulau Jawa. Mereka menjadikan darah binatang sebagai obat untuk anemia.

Bagaimakah hukumnya dalam Islam tentang kasus-kasus demikian? Syekh Yusuf Qardhawi dalam Fatwa Kontemporer-nya mengupas tentang hal ini.

Menurut dia, perlu ditinjau kembali apakah berobat tersebut sudah sampai kepada tingkat darurat. Daruratnya berobat, yaitu ketergantungan sembuhnya suatu penyakit pada memakan sesuatu dari barang-barang yang diharamkan itu.

Dalam hal ini, para ulama fikih berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat, berobat itu tidak dianggap sebagai darurat yang sangat memaksa seperti halnya makan. Pendapat ini didasarkan pada sebuah hadis Nabi yang mengatakan,"Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhanmu dengan sesuatu yang Ia haramkan atas kamu." (HR. Bukhari).

Sementara mereka ada juga yang menganggap keadaan seperti itu sebagai keadaan darurat, sehingga dianggapnya berobat itu seperti makan, dengan alasan bahwa kedua-duanya itu sebagai suatu keharusan kelangsungan hidup.

Dalil yang dipakai oleh golongan yang membolehkan makan haram karena berobat yang sangat memaksakan itu ialah hadis Nabi yang sehubungan dengan perkenan beliau untuk memakai sutra kepada Abdurrahman bin Auf dan Zubair bin Awwam yang justru karena penyakit yang diderita oleh kedua orang tersebut, padahal memakai sutra pada dasarnya adalah terlarang dan diancam.

Barangkali pendapat inilah yang lebih mendekati kepada jiwa Islam yang selalu melindungi kehidupan manusia dalam seluruh perundang-undangan dan rekomendasinya.

Tetapi rukhsah dalam menggunakan obat yang haram itu harus dipenuhinya syarat-syarat sebagai berikut:

1. Terdapat bahaya yang mengancam kehidupan manusia jika tidak berobat.

2. Tidak ada obat lain yang halal sebagai ganti obat yang haram itu.

3. Adanya suatu pernyataan dari seorang dokter Muslim yang dapat dipercaya, baik pemeriksaannya maupun agamanya (itikad baiknya).

Dari realita yang ada dan dari hasil penyelidikan dokter-dokter yang terpercaya, ternyata tidak ada darurat yang membolehkan makan barang-barang yang haram seperti obat.

Tetapi kami menetapkan suatu prinsip di atas adalah sekedar ikhtiyat (bersiap-siap dan berhati-hati) yang sangat berguna bagi setiap Muslim yang kadang-kadang dia berada di suatu tempat yang di sana tidak ada obat kecuali yang haram. [yy/republika/foto
republika.co.id]

Sumber: Fatawa Al-Qardhawi