21 Safar 1443  |  Rabu 29 September 2021

basmalah.png

Keutamaan Rezeki Yang Halal

Keutamaan Rezeki Yang HalalFiqhislam.com - Keutamaan mencari rezeki yang halal, sangatlah Allah Ridho, aktivitasnya seperti :

Sejajar dengan jihad

Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, (QS. Al Muzzammil:20)

Jalan para nabi

Tidaklah seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya (sendiri), dan sungguh Nabi Daud ‘Alaihis salam makan dari hasil usaha tangannya (sendiri) (HR. Bukhari)

Di jalan Allah

Suatu ketika Nabi saw dan para sahabat melihat ada seorang laki-laki yang sangat rajin dan ulet dalam bekerja, seorang sahabat berkomentar: “Wahai Rasulullah, andai saja keuletannya itu dipergunakannya di jalan Allah.

Rasulullah saw menjawab:
Apabila dia keluar mencari rezeki karena anaknya yang masih kecil, maka dia di jalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena kedua orang tuanya yang sudah renta, maka dia di jalan Allah.
Apabila dia keluar mencari rejeki karena dirinya sendiri supaya terjaga harga dirinya, maka dia di jalan Allah.
Apabila dia keluar mencari rejeki karena riya’ dan kesombongan, maka dia di jalan setan.
” (Al-Mundziri, At-Targhîb wa At-Tarhîb).

Penuh berkah

Harta kekayaan itu hijau dan manis. Barangsiapa yang mendapatkannya dengan benar (halal) maka akan diberkahi’ ( HR. Bukhari, Muslim)

Harta akan mengejar manusia

“Sesungguhnya rizki akan mengejar seorang hamba seperti ajal mengejarnya” (HR. Ibnu Hibban, dihasankan oleh syeh Al Bani)

Keberuntungan

Sungguh beruntunglah orang yang telah berislam, ia diberi kecukupan rezeki dan sifat puasa dengan pemberian Allah (qonaah) ” (HR.Muslim)

Perut

yang pertama kali busuk dari badan manusia dalam kubur adalah perut, maka janganlah kalian makan kecuali yang baik” (HR. Bukhari, Muslim)

Memantapkan kaki di akhirat

Kedua kaki seorang hamba tidak akan tergelincir ke dalam Neraka sampai ditanya tentang empat hal: tentang umurnya bagaimana dia habiskan, tentang masa mudanya bagaimana dilewati, tentang hartanya darimana dihasilkan dan kemana ia salurkan, tentang ilmunya apakah ia amalkan. (HR. Tabrani dan Bazzar)

 

KATA MUTIARA

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan hakiki adalah kekayaan hati. ” (HR.Bukhari dan Muslim)

Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun (QS. Saba’ 37)

Sesungguhnya Allah TIDAK MELIHAT RUPA dan HARTA kalian, tetapi Ia MELIHAT HATI dan AMAL kalian.(HR.Muslim)

Umar bin Khottob berkata: “tidak ada tempat yang aku cintai tatkala ajal datang dari pada saat aku bekerja untuk keluargaku melakukan jual beli”.

Sebagian ulama salaf berkata: “ada sebagian dosa yang tidak bisa diampuni kecuali oleh rasa sakit dalam mencari rizqi untuk keluarga”.

Ibrahim bin Adham berkata: “Wahai Syaqiiq, di tengah-tengah kami tidak ada orang yang cerdas karena jihad dan haji tapi karena dia tahu apa yang masuk ke dalam perutnya

Ibnu katsier berkata: “harta yang halal adalah syarat diterimanya amal dan doa sebagaimana yang haram adalah sebab tertolaknya doa

Ibnu mas’ud berkata: “Rizqi tidak akan datang ditarik orang yang tamak dan tidak akan pergi karena orang yang tidak suka

للَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِواكَ

ya Allah cukupkanlah diriku dengan perkara halal dari yang haram, dan jadikanlah aku — dengan karunia  darimu – tidak membutuhkan siapapun selain Engkau

اللهم ولا تجعل الدنيا أكبر همنا، ولا مبلغ علمنا، ولا إلى النار مصيرنا، ونسألك اللهم الغنيمة من كل بر، والسلامة من كل إثم، وبارك لنا فيما رزقتنا، وقنا عذاب

ya Allah janganlah engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami, puncak ilmu kami, jangan Engkau jadikan neraka tempat kembali kami, kami memohon kepadaMu bagian dari setiap kebaikan, keselamatan dari setiap dosa dan berkahilah kami pada rizqi yang Engkau karuniakan kepada kami serta jauhkan kami dari api neraka”. [yy/eramuslim]

Oleh Ustadz Didik Hariyanto, MA