5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Warisan Budaya Muslim Portugal Terlupakan

Warisan Budaya Muslim Portugal Terlupakan

Fiqhislam.com - Ketika perusahaan kontraktor akan mengubah bangunan bersejarah dari abad ke-16, Convento de Graça, menjadi sebuah hotel mewah, tanpa pikir panjang, dia membatalkan rencananya membuat spa dan kolam renang di bawah tanah.

Di bawah biara tua dan tembok pertahanan kota kuno itu, mereka menemukan jalan-jalan dan fondasi puluhan rumah yang dibangun lebih dari 700 tahun yang lalu oleh Muslim Portugal. Alih-alih kolam renang, kini ada sebuah museum kecil di bawah hotel. Sebuah trotoar dibangun untuk akses menapaki sisa-sisa peninggalan Moor abad pertengahan.

Warisan budaya Muslim Portugal telah lama terlupakan. Di Spanyol sebagian besar penduduk negara dan wisatawan akrab dengan warisan Arab. Tetapi, di Portugal, yang sama-sama bagian dari kekuasaan Andalusia, warisan itu masih kurang dikenal.

Negara ini pernah berada di bawah kekuasaan Islam selama lebih dari 500 tahun sejak awal abad ke-8. Setelah panglima Thariq bin Ziyad berhasil menaklukkan Spanyol, pasukannya bergerak menuju Portugal dan Prancis Selatan. 

Meskipun sisa-sisa fisiknya tak seberapa, pengaruh budaya Moor di Portugis sangat besar. Bahasa Portugis banyak ditaburi kata-kata asal Arab, khususnya yang berkaitan dengan makanan, pertanian, dan pekerjaan sehari-hari.

"Jika kami bisa menghapus semua sisa-sisa warisan Arab dari Portugal hari ini, etnis, budaya, bangunan, dan bentang alam kami akan benar-benar berubah," kata Adalberto Alves, seorang peneliti warisan budaya Arab-Portugal.

Dalam bukunya, Portugal: Echoes of an Arab Past, Alves mendata berbagai bidang di negaranya yang terpengaruh oleh warisan Arab. Mulai dari puisi sampai kue, karpet tenun sampai musik gitar, cerobong asap yang masih menghiasi rumah di daerah selatan, sistem irigasi, sampai ilmu navigasi yang memungkinkan kapal-kapal Portugis menjelajahi dunia.

Pengaruh Arab di Kebudayaan Portugal

Peradaban Islam telah menjadi bagian dari sejarah Portugal. Ratusan tahun kekhalifahan Andalusia memberikan kontribusi terhadap bahasa, arsitektur, kuliner, musik, dan pertanian. Dilansir dari Saudi Aramco World, Habeeb Salloum, dalam "Arabian Memories in Portugal" mengulas berbagai pengaruh Arab di tengah kebudayaan Portugal tersebut.

George Sawa, peraih gelar doktor di bidang sejarah musikologi Arab dari University of Toronto, mengungkapkan kaitan fado dengan musik Arab. Petikan senar pada mandolin dan gitar, katanya, mirip dengan gaya musisi Arab memetik 'Ud, nenek moyang kecapi (lute). Demikian pula, New Grove Dictionary of Music and Musicians menempatkan akar fado dalam tradisi musik Arab.

Pengenalan teknologi pertanian dan kerja keras orang Moor membuat tempat ini makmur. Sampai hari ini, orang Portugis mengenal frasa mourejar yang berarti 'bekerja seperti orang Moor'.

Frasa itu biasa digunakan untuk menunjukkan ketekunan dan keuletan yang luar biasa. Orang-orang Arab memperkenalkan kebun dan ladang, menanaminya dengan almond, aprikot, buah ara, lemon, zaitun, jeruk, delima, gula, dan berbagai jenis sayuran.

Kincir air membantu merevolusi pertanian di Portugal. Pertanian berkembang dengan sistem irigasi, dilengkapi kincir angin, kincir air (Portugis: azenha, Arab: al-saniyah) dan roda air (nora, na'urah).

Seribu Kosakata Arab di Bahasa Portugis

Pengaruh Arab yang lain tampak dalam bahasa. Bahasa Portugis mengandung lebih dari seribu kosakata Arab, jauh lebih banyak dari Spanyol. Yang paling mudah dikenali, catat Habeeb Salloum, kata-kata Portugis yang dimulai dengan al hampir semua berasal dari awalan Arab yang berarti the (penanda ma'rifat atau tunggal). 

Asal-muasal kata-kata tersebut masih dapat ditelusuri, meski beberapa kosakata sudah mengalami pergeseran makna. Beberapa kata ini juga diadopsi ke dalam bahasa Inggris.

Dalam bidang kuliner, ada alcaravia (Arab: al karawiyah, Inggris: caraway), beringela (al badhinjan, eggplant), limao (al-laymun, lime), azeite (al-zayt, oil), azeitona (al-zaytun, olive), laranja (al-naranj, orange), arroz (al-aruzz, rice), acucar (al-sukkar, sugar), espinafre (al-isbanakh, spinach), roma (al-rumman, pomegranate), xarope (sharab, syrup), dan banyak lagi.

Kemudian dalam nama tempat, albufeira (al-buhayrah, danau), alcantarilha (al-qantarah, jembatan), alcaria (al-qaryah, desa), aldeia (al-day'ah, desa kecil), almadena (al-madinah, kota), aljezur (al-juzur, pulau), dan almansil (al-manzil, rumah). Ada lagi kata yang umum digunakan untuk mengekspresikan semoga atau mudah-mudahan adalah oxalá, turunan dari insya Allah.

Dilansir dari GlobalPost, dalam beberapa tahun terakhir sudah ada pembaharuan minat terhadap warisan Arab Portugal. Secara umum, sudah ada langkah dari tokoh Muslim dan otoritas publik Portugis untuk meninjau ulang pengaruh kekuasaan Arab.

Menurut Nina Clara Tiesler dalam Muslime in Europa. Religion und Identitatspolitiken unter veranderten gesellschaftlichen Verhaltnissen, Di masa lalu, ideologi jelas mengatakan Moor adalah musuh. Beberapa sisanya masih tampak sampai sekarang. Di buku-buku sekolah Moor masih tetap musuh.

Tetapi, kalangan elite telah mengevaluasi penilaian ini. "Sejak 1990-an, mereka sudah mencoba menunjukkan warisan Islam sebagai sesuatu yang positif," kata Tiesler menegaskan. [yy/republika]