13 Safar 1443  |  Selasa 21 September 2021

basmalah.png

Imperium Terbesar Bernama Turki Usmani

Imperium Terbesar Bernama Turki Usmani

Fiqhislam.com - Kepemimpinan Islam pascawafatnya Rasulullah SAW (632 M) diteruskan oleh Khulafa ar-Rasyidin, yakni Abu Bakr, Umar bin Khattab, Utsman bin 'Affan, dan Ali bin Abi Thalib (632-672 M).

Pascakeempat amirul mukminin terbaik tersebut, Bani Umayyah (661-750 M) dan Bani Abasiyyah (750-1858 M) melanjutkan estafet kepemimpinan dunia Islam.

Sejak generasi awal Islam, semua pemimpin berasal dari bangsa Arab. Hingga, kemudian keruntuhan Bani Abasiyyah mengakibatkan kesatuan Muslimin terpecah belah. Sejak itulah muncul kekuatan baru dari tanah Asia, yaitu Turki.

Turki Usmani (Ottoman) bukanlah Muslimin dari kalangan Arab, melainkan dari Asia Tengah. Meski demikian, merekalah yang berhasil meneruskan estafet kepemimpinan Islam dari tangan bangsa Arab dan mempersatukan kembali Muslimin di bawah satu panji kekhalifahan.

Menurut Mahayudin Yahya dan Ahmad Jaelani Halimi dalam Sejarah Islam, sekitar abad ke-13 Masehi muncul kekuatan baru dari barat daya Asia Kecil yang berbangsa Turki. Kemunculan ini menjadi pemimpin umat Islam dari abad 13 hingga 20 Masehi.

Menurut Philip K Hitti dalam History of the Arabs, Turki Usmani merupakan campuran suku-suku Iran di Asia Tengah yang bergerak dari Mongolia menuju Asia Kecil dan berangsur-angsur menggeser posisi Bani Seljuk, sepupu mereka.


Senada, Badri Yatim dalam Sejarah Peradaban Islam mengatakan, mereka merupakan bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina.

Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan, kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau kesepuluh, ketika menetap di Asia Tengah.

Di bawah tekanan serangan-serangan Mongol pada abad ke-13 Masehi, mereka melarikan diri ke daerah barat dan mencari tempat pengungsian di tengah-tengah saudara-saudara mereka, orang-orang Turki Seljuk, di dataran tinggi Asia Kecil.

Adapun kata Usmaniyah (uthmaniyah, uthamanli, Inggris; ottoman), menurut Mahayudin dan Halimi, diambil dari nama penggasas kerajaan, yaitu Usman bin Erthogrul (Erthogril) bin Sulaiman Shah dari suku Qayi (Qayigh).

Yakni, salah satu suku cabang dari keturunan Oghus Turki. Suku ini tinggal di perkampungan di Mahan, Asia Minor. Sulaiman Shah beserta pengikut seribu orang berangkat dari sana menuju Anatolia.

Sebelum tiba di Anatolia, Sulaiman Shah bertekad kembali ke Mahan. Tapi, di tengah perjalanan dia wafat. Kepemimpinan digantikan putranya Ertoghrul.

Berbeda dengan keputusan ayahnya untuk pulang, Erthogul justru melanjutkan perjalanan ke Anatolia. Saat itu, Anatolia dipimpin oleh Bani Seljuk yang juga dari kalangan Turki.

Maka, kedatangan Erthogul pun disambut baik. Hubungan pun semakin erat ketika Erthogul dan pengikutnya membantu tentara seljuk di bawah sultan Ala' al-Din.


Hingga, kemudian Mongol datang bermaksud menghancurkan Seljuk. Dinasti Seljuk mulai goyah, Turki Usmani mengambil kesempatan untuk mengambil alih kuasa di Anatolia. Dengan dukungan pengikutnya, Usman pun memproklamasikan berdirinya Turki Usmani.

Tamara Sonn dalam Islam: A Brief History menuturkan, perebutan kekuasaan antara Seljuk dan Mongol melemahkan Seljuk, sehingga memungkinkan Usmani membangun kekuasaan mereka di Anatolia pada abad ketiga belas.

“Nama Usmani datang untuk melambangkan harapan bersatunya kerajaan Islam; khalifah Abbasiyah (yang telah rontok) di Kairo lebih memilih memenuhi panggilan sultan Islam Turki Usmani daripada di bawah perlindungan Mamluk,” ujarnya.

Usman bin Erhogrul merupakan yang pertama diangkat untuk memimpin di tanah yang sebelumnya dijabat oleh sultan-sultan Seljuk.

Dalam beberapa tahun, wilayah Turki Usmani membentang dari Suriah ke Danube. Meski Turki Usmani didirikan oleh Usman, pemerintahan mulai berjalan sejak putranya, Urkhan, berkuasa.

Kerajaan Turki Usmani merupakan kerajaan Islam yang paling besar dan paling lama berkuasa. Kerajaan ini terkenal ahli berperang.

Mereka dapat mengembalikan kerajaan Arab yang terpecah belah menjadi satu komando kepemimpinannya serta dapat menaklukkan kerajaan Mamluk dan Kerajaan Romawi Timur (Byzantium).

Tujuh abad Turki Usmani memimpin Muslimin. Tentu, itu bukanlah waktu singkat untuk berdirinya sebuah imperium. Wilayah kekuasaanTurki begitu luas yang dengannya penyebaran agama Islam pun mendunia.

Dengan usia yang panjang, Turki Usmani telah berhasil menancapkan sejarah yang brilian dan peninggalan yang cemerlang. [yy/republika.co.id]