fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


4 Syawal 1442  |  Minggu 16 Mei 2021

Penerbitan Buku dan Perpustakaan di Era Kekhalifahan Islam

Penerbitan Buku dan Perpustakaan di Era Kekhalifahan Islam

Fiqhislam.com - Proses penulisan buku di era kekhalifahan boleh dibilang sangat unik. Pada era itu, sarjana dan ulama menjadikan masjid sebagai tempat untuk menyusun buku. Sebelum sebuah buku diterbitkan, seorang penulis atau ilmuwan harus mempresentasikan isi bukunya kepada publik.

‘’Mereka melakukannya di masjid dengan cara dibaca atau didiktekan,” papar Ziauddin Sardar. Paparan penulis atau ilmuwan itu lalu didengarkan masyarakat umum dan dikopi oleh seorang warraqin,  yang bekerja sebagai penulis yang menyalin berbagai manuskrip yang dipesan para pelanggannya.
   
Seiring semakin tingginya angka produksi buku, umat Islam pada masa itu mulai mendirikan perpustakaan. Lagi-lagi, masjid menjadi tempat untuk menampung buku. Menurut J Pedersen dalam Arabic Book, pada masa itu masyarakat Muslim menyerahkan koleksi bukunya ke masjid untuk disimpan di dar al-kutub (perpustakaan).

Masyarakat di hampir seluruh dunia Islam – mulai dari Atlantik hingga ke Teluk Persia – masjid dijadikan tempat yang aman untuk menyimpan buku. “Buku-buku itu dihadiahkan dan banyak ilmuwan yang mewariskan perpustkaan pribadinya kepada masjid untuk menjamin buku mereka tetap terpelihara,” ungkap R Mackensen dalam "Background of the History of Muslim Libraries".

Tak heran, jika koleksi buku yang dimiliki perpustakaan masjid begitu melimpah. Di Allepo, Suriah, misalnya, perpustakaan masjid tertua bernama Sufiya mengoleksi buku hampir 10 ribu volume. Buku-buku itu merupakan pemberian dari penguasa kota Aleppo yang termasyhur, Pangeran Sayf al-Dawla. Gerakan wakaf buku ke perpustakaan masjid yang dipelopori pemimpin itu juga diikuti oleh para ilmuwan dan intelektual.

O Pinto dalam bukunya bertajuk The Libraries of the Arabs during the time of the Abbasids,' in Islamic Culture. Menurutnya, hampir di setiap masjid dan lembaga pendidikan yang tersebar di dunia Islam, pada masa itu, dipastikan memiliki perpustakaan dengan jumlah buku yang melimpah.

Menurut Pinto, di Baghdad terdapat hampir 36 perpusatakaan umum – sebelum kota metropolis intelektual itu diluluh-lantakan pasukan tentara Mongol. Di pusat pemerintahan Abbasiyah itu juga terdapat ratusan pedagang buku dan penerbitan.

Dalam buku berjudul The Rabic Book karya Yaqut Mu'jam yang diterjemahkan G French disebutkan, di kota Merw – wilayah Persia Timur – pada tahun 1216 hingga 12 18 M terdapat 10 perpustakaan umum. Dua perpustakaan berada di masjid dan sisanya di madrasah.

“Bahkan di Spanyol Muslim terdapat 70 perpustakaan umum,” ungkap G Le Bon dalam bukunya berjudul La Civilisation des Arabes. Sejak abad ke-9 M, perpustakaan telah tersebar luas di kota-kota Islam. Di zaman itu, perpustakaan yang megah dan besar juga telah hadir di Kairo, Aleppo dan kota-kota besar lainnya di Iran, Asia Tengah dan Mesopotamia.

Oleh Heri Ruslan
yy/republika.co.id
 
{AF}

Industri Penerbitan Buku di Dunia Islam 'Dibunuh' Kekuatan Kolonial

Industri Penerbitan Buku di Dunia Islam 'Dibunuh' Kekuatan KolonialDunia Barat boleh bangga dengan pencapaiannya di bidang industri penerbitan buku, saat ini. Menurut data pada Bowker, lembaga penyedia informasi bibliografi terkemuka di dunia, setiap tahunnya ada ratusan judul buku baru yang terbit di Amerika Serikat. Pada 2009, misalnya,  jumlah judul buku baru yang terbit mencapai 288 ribu.
   
Namun, menurut Ziaudin Sardar and MW Davies dalam Distorted Imagination,  pencapaian peradaban Barat dalam bidang penerbitan buku saat ini,  hampir setara dengan penerbitan buku di dunia Islam 10 abad silam, baik secara kualitas maupun kuantitas. "Hampir 1.000 tahun sebelum buku hadir di peradaban Barat, industri penerbitan buku telah berkembang pesat di dunia Islam," ujar kedua sejarawan itu.
   
Industri buku di dunia Islam pada era keemasan sungguh sangat mengagumkan. Semua berawal dari ditemukannya teknologi pembuatan kertas dan tinta di dunia Islam pada abad ke-8 M. ‘’Pembuatan kertas telah menciptakan revolusi kultural,’’ papar Ahmad Y Al-Hasan dan Donald R Hill dalam Islamic Technology: An Islamic History.
   

Sejak ditemukannya kertas, bahan tulis-menulis bebas dari monopoli. ‘’Kertas pun menjadi barang yang sangat murah,’’ ujar Al-Hassan dan Hill. Pada era kekuasaan Abbasiyah, produksi buku di kota-kota Islam mencapai skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
   
‘’Dalam waktu kurang dari satu abad ratusan ribu manuskrip menyebar ke seluruh negeri Islam,’’ ungkap Al-Hassan dan Hill. Baghdad – ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah – tercatat sebagai  sentra produksi buku pada abad ke-9 M.     Di era itu, tak kurang dari 100 kompleks tempat pembuatan buku tersebar di penjuru kota Baghdad.

Pada masa itu, buku terdapat di mana-mana. Tak cuma itu, profesi penjual buku pun menjamur. “Produksi kertas tak hanya memberi rangsangan luar biasa untuk menuntut ilmu, tetapi membuat harga buku semakin murah dan mudah diperoleh. Hasil akhirnya adalah revolusi budaya,’’ cetus Cendekiawan Muslim, Ziauddin Sardar.
 
Menurut dia, produksi buku dalam skala yang tak pernah terjadi sebelumnya membuat konsep ilmu bertransformasi menjadi sebuah praktik yang benar-benar distributif.
Bermunculannya industri kertas pada era kejayaan Islam juga telah melahirkan sejumlah profesi baru. Salah satunya adalah warraq (penjual buku). Mereka menjual kertas dan berperan sebagai agen. Selain itu, warraqin juga bekerja sebagai penulis yang menyalin berbagai manuskrip yang dipesan para pelanggannya. Mereka juga menjual buku dan membuka toko buku.

Menurut Sardar, sebagai agen, warraqin juga sering membuat sendiri kertas untuk mencetak buku. Sebagai penjual buku, warraqin mengatur segalanya, mulai dari mendirikan kios di pinggir jalan hingga toko-toko besar yang nyaman jauh dari debu-debu pasar. Kios-kios buku itu umumnya berdiri di jantung kota-kota besar, seperti Baghdad, Damskus, kairo, Granada dan Fez.

Seorang sarjana Muslim, Al-Yaqubi dalam catatannya mengungkapkan pada abad ke-9, di pinggiran kota Baghdad terdapat tak kurang dari 100 kios buku. Di toko-toko buku besar, kerap berlangsung diskusi informal membedah buku. Acara itu dihadiri para penulis dan pemikir terkemuka.

Sardar menuturkan, salah satu toko buku terkemuka dalam sejarah Islam adalah milik Al-Nadim (wafat 990). Dia adalah seorang kolektor buku pada abad ke-10. Toko buku Al-Nadim di Baghdad dipenuhi ribuan manuskrip dan dikenal sebagai tempat pertemuan para pemikir, penyair terkemuka pada masanya.

Katalog buku-buku yang terdapat di tokonya Al-Fihrist Al-Nadim dilengkapi dengan catatan kritis. Katalog itu dikenal sebagai enskiklopedia kebudayaan Islam abad pertengahan. Industri penerbitan yang dipelopori warraqin dilakukan dengan sistem kerja sama antara penulis dengan penerbit.

Seorang penulis yang ingin menerbitkan bukunya bisa menyampaikan keinginannya secara publik atau menghubungi satu atau dua warraqin. Buku tersebut nantinya akan “diterbitkan” di sebuah masjid atau di toko buku terkenal.

Selama masa yang ditentukan, setiap harinya penulis buku itu akan mendiktekan isi bukunya. Setiap orang boleh menghadiri acara itu. Biasanya, para pelajar dan sarjana berkerumum menyimak acara penting itu. Para penulis biasanya menegaskan bahwa hanya warraqin saja yang boleh menulis bukunya.

Ketika buku selesai ditulis, manuskrip tangan akan diperiksa dan diperbaiki penulisnya. Setelah sepakat, buku akan diterbitkan dan dijual kepada pembaca. Sesuai kesepakatan, penulis akan mendapat royalti dari warraqin. Tumbuh suburnya industri penerbitan membuat gairah membaca masyarakat Muslim begitu tinggi.
   
Pada abad ke-12 M, buku tercatat sebagai salah satu produk yang sangat laris di pasaran. Ketika Timbuktu, sebuah kota di Mali, Afrika Barat menjelma sebagai salah satu kota pusat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam yang termasyhur, sejarawan Abad XVI, Leo Africanus menggambarkan, rakyat di wilayah itu begitu gemar membaca buku.

Menurut Africanus, permintaan buku di Timbuktu sangat tinggi. Setiap orang berlomba membeli dan mengoleksi buku. Sehingga, perdagangan buku di kota itu menjanjikan keuntungan yang lebih besar dibanding bisnis lainnya. Garam, buku dan emas mejadi tiga komoditas unggulan yang begitu tinggi angka permintaannya pada era itu.

Menurut Sardar, industri penerbitan buku di dunia Islam masih eksis ketika negara-negara Eropa menguasai tanah Muslim. ‘’Secara sistematis, industri penerbitan buku di dunia Islam dibunuh oleh kekuatan kolonial, sama nasibnya dengan sistem pendidikan, kesehatan, dan lembaga kebudayaan yang ada di dunia Islam,’’ ujar Sardar.

Oleh Heri Ruslan
yy/republika.co.id{/AF}
.