15 Dzulhijjah 1442  |  Minggu 25 Juli 2021

basmalah.png

Masjid Abu al-Abbas al-Mursi, Keagungan Seni Mamluk

Masjid Abu al-Abbas al-Mursi, Keagungan Seni Mamluk

Fiqhislam.com - Hampir di setiap sudut terlihat pengulangan bentuk geometri yang memberikan kesan megah sekaligus indah.

Tak ada yang menampik keindahan Kota Alexandria di Mesir. Tapi, sesungguhnya keindahan itu tak sebatas rupa alamnya semata. Lebih dari itu, keindahan itu rupanya telah melebur dengan bangunan-bangunan bersejarah yang menyelipkan keagungan mahakaryanya.

Satu di antaranya yang patut disambangi adalah Masjid Abu al-Abbas al-Mursi. Bangunan yang berdiri pada 1775 M ini menjadi tanda terhadap hadirnya keagungan seni arsitektur Islam.

Masjid ini begitu kental dengan gaya arsitektur Mamluk. Gaya ini menjadi representasi dari Dinasti Islam Mamluk yang pernah berkuasa di Mesir dan Siria sepanjang abad ke-13. Selama masa berkuasa itulah, begitu banyak terlahir bangunan yang sarat dengan seni yang tampak rumit, tapi indah dipandang.

Kubah berukir
Dari sisi luar, masjid ini terlihat begitu anggun dengan warna kremnya. Seperti gaya Mamluk pada umumnya, masjid ini memiliki kubah berbentuk silinder seperti drum. Di bagian atas kubahnya meruncing. Lantas, untuk mempercantik tampilan kubah, dihadirkanlah hiasan ukiran yang tampak begitu detail dan mengisi seluruh bagian kubah.

Lalu, di sisi selatan terlihat juga sebuah menara setinggi 73 meter. Bentuk menaranya juga tampak khas. Bagian dasarnya menempel dengan bangunan masjid berbentuk persegi. Lalu, naik ke bagian atasnya tampak bangunan berbentuk oktagonal atau bersegi delapan. Sedangkan, pada bagian teratasnya memiliki bentuk bulat.

Pada bagian menara ini terdapat pula balkon layaknya bentuk menara di sejumlah masjid yang ada di Turki. Tapi, yang membedakannya adalah pada masjid bergaya Mamluk ini ditambahkan dengan hadirnya barisan tiang pada bagian balkon serta pada bagian bawahnya hadir hiasan muqarnas atau bentuk semacam stalaktit.

Seperti tertulis di laman sacred-destinations, masjid ini memiliki pintu masuk yang terletak di sebelah utara dan timur. Keduanya menghadap alun-alun.

Bagian utama masjid ini berbentuk oktagon dengan dinding internal yang hadir dengan batu yang ditampilkan berselang-seling. Cara mengemas bangunan inilah yang memperlihatkan kokohnya bangunan masjid yang berada tak jauh dari sisi pantai.

Penanda khusus lainnya yang tersaji dari masjid ini adalah hadirnya motif-motif dekoratif yang menghiasi hampir setiap sudut bangunan. Bentuk geometris ini terlihat cukup rumit dan detail.

“Ciri khas gaya Mamluk adalah motif dekorasi yang dikenal sebagai Mamluk Star atau Mamluk Rose, yaitu motif bintang yang saling berkait. Motif ini hampir selalu ada di setiap bangunan yang ada di Mesir,” tulis David Cahyo Herwinaldo dalam artikelnya yang mengulas tentang arsitektur Mamluk.

Gaya Mamluk
Dalam buku Architecture and Mathematics disebutkan juga gaya Mamluk kerap kali menghadirkan bentuk geometris yang selalu berulang. Lalu, kerap juga bentuk ornamen yang dihadirkan di desain gaya Mamluk ini memiliki hubungan topologi terhadap ruang maupun aspek pembentuknya.

Hal ini begitu gamblang terlihat ketika sudah berada di bagian dalam masjid. Hampir di setiap sudut terlihat adanya pengulangan bentuk geometri yang memberikan kesan megah sekaligus indah.

Di bagian dalam ini, pandangan mata akan disedot pada dua bagian yang tampak vital. Saat mendongak ke langit-langit masjid, akan terlihat adanya sebuah kemegahan dan keagungan yang disajikan dalam masjid ini. Sisi kemegahan ini tersaji dengan hadirnya lampu kristal yang digantung, tepat di bagian bawah kubah.

Di bagian kubah interior juga dihiasi oleh bentuk geometris yang berulang. Lalu, di bagian bagian kubah itu disusun pula bentuk-bentuk berupa cekungan kecil yang ditata secara apik mengikuti bentuk lingkaran bangunan utamanya.

Langit-langit yang tinggi itu juga dikemas menjadi menarik dengan hadirnya deretan tiang-tiang berbentuk heksagonal berukuran besar. Tiang-tiang ini menjadi penopang yang kokoh di dalam masjid.

Lantas, pada bagian lainnya, pandangan mata bisa tersedot untuk melihat bentuk mimbar. Material pembuat mimbar ini sama dengan yang membentuk pintu dan jendela masjid. Bahannya terbuat dari kayu jati dan pohon kenari. Di sana diberikan ukiran yang begitu detail. Bagian mimbar ini dihiasi pula dengan ukiran kaligrafi bertuliskan syahadatain.

Sementara, pada bagian mihrab juga tak kalah memikat pandangan mata. Di bagian ini, tersaji hiasan yang mengisi bagian atas bagian mihrab.

Di sisi kiri dan kanan dari mihrab ini hadir sebuah tiang penyangga yang memberikan kesan kokoh.

“(Masjid) ini merupakan tempat penting untuk disambangi. Bangunannya yang sangat besar dan mengagumkan itu tentunya harus bisa dijaga kelestariannya untuk generasi masa depan agar mereka dapat memahami apa yang orang-orang masa lalu telah lakukan,” tulis seorang pengunjung di laman Tripadvisor memberikan komentarnya terhadap keindahan Masjid Abu al-Abbas al-Mursi.

Dipercantik

Masjid Abu al-Abbas al-Mursi menjadi salah satu bangunan bersejarah dan paling indah yang ada di Alexandria. Bangunan ini didirikan di atas makam seorang ilmuwan Spanyol, Abu El Abbas El Mursi (1219-1286 M). Bangunan ini berdiri di alun-alun dan menghadap pelabuhan timur Alexandria.

Abu al-Abbas al-Mursi lahir dari keluarga kaya di wilayah Andalusia, Spanyol, pada 1219 M. Saat pengaruh Kristen menguat di Spanyol, ia bersama keluarganya hijrah ke Tunisia pada 1242 M. Selanjutnya, ia datang ke Alexandria yang saat itu menjadi tempat populer bagi kebanyakan ilmuwan Muslim.

Abu al-Abbas menetap di Alexandria selama 43 tahun sebagai seorang sarjana dan guru, hingga akhirnya hayatnya pada 1286 M. Dia dimakamkan di sebuah bangunan kecil dekat pelabuhan timur di Alexandria.

Pada 1307 M, El Sheikh Zein El Din Ibn El Qattan, salah satu pedagang terkaya Alexandria, mengunjungi makamnya. Saudagar tajir ini kemudian mendanai makam dan kubah untuk makam Abu al-Abbas bersama dengan sebuah masjid kecil.

Makam Abu al-Abbas ini kemudian menjadi tempat ziarah bagi banyak umat Islam dari Mesir dan Maroko yang melewati Alexandria dalam perjalanan ke Tanah Suci di Makkah.

Masjid ini terus dipercantik oleh para penguasa setempat. Masjid ini melakukan renovasi besar-besaran pada 1863. Sejak saat itu, sebuah festival tahunan dihadirkan untuk merayakan kelahiran Abu al-Abbas al-Mursi.

Selanjutnya, masjid ini kembali mempercantik dirinya pada 1943 di bawah Raja Farouq I. Sang raja membangun Midan el Masaged atau alun-alun masjid. Alun-alun ini mencakup luasan 43.200 meter persegi dan meliputi lima masjid lainnya yang berpusat di sekitar Masjid Abu al-Abbas al-Mursi. Masjid ini direnovasi dalam gaya Arab yang populer.

Oleh Mohammad Akbar
yy/republika.co.id