19 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 25 Oktober 2021

basmalah.png

Masjid Shah Jahan, Masjid Berkubah Terbanyak

Masjid Shah Jahan, Masjid Berkubah Terbanyak

Fiqhislam.com - Masjid ini memiliki 93 kubah yang terbagi dalam beragam ukuran. Salah satu keagungan karya dari Dinasti Mughal yang hingga kini masih berdiri adalah Masjid Shah Jahan.

Masjid yang berdiri sejak abad ke-17 ini hadir lewat paduan keindahan arsitektur yang melintas zaman dengan tata akustik suara yang terdengar paripurna bagi setiap jamaah yang berkesempatan beribadah di dalamnya.
 
Masjid Shah Jahan ini berada di Distrik Thatta, Provinsi Sindh, Pakistan. Sejak 1993, masjid ini telah masuk sebagai bangunan cagar budaya dan terdaftar sebagai bangunan warisan dunia UNESCO.

Nama Shah Jahan sendiri merujuk pada nama raja kelima dari Dinasti Mughal. Pada masa kepemimpinannya, perkembangan arsitektur Mughal dinilai mencapai puncak kejayaannya.
 
Keindahan yang tersaji di masjid ini terpancar jelas, baik pada bagian eksterior maupun interior bangunan.

Tampilan yang cukup menonjol dari bangunan ini adalah bentuk bangunannya yang persegi, lengkungan yang melancip di sisi tengah berbentuk arcade, serta paduan warna yang minimalis, namun tetap terlihat memesona.
 
Masjid Shah Jahan ini memiliki luas sekitar 51.850 meter persegi. Konstruksi bangunannya terbuat dari material bata merah. Dari luar, tampilan lengkungan tampak begitu mencolok sebagai penghias fasad masjid.

Tercatat, ada 33 arcade yang menghiasi masjid ini. Fungsi arcade tersebut menjadi semacam pembatas antara bagian selasar masjid dan ruang terbuka. Hadirnya bentuk lengkungan itulah yang kemudian memberi nilai estetika yang tinggi.
 
Lalu, yang menjadikannya istimewa adalah jumlah kubah. Dari sejumlah literatur disebut, kubah masjid ini sebanyak 93 yang terbagi dalam beragam ukuran. Jumlah sebanyak itu telah membuat bangunan ini tercatat sebagai masjid dengan jumlah kubah terbanyak di dunia.

Walau memiliki jumlah kubah yang banyak, masjid ini tidak memiliki kubah. Inilah sedikit ciri yang cukup menonjol dari desain luar masjid ini.

Untuk pintu masuk utama berhadapan dengan sebuah halaman tengah yang terbuka. Ruang terbuka itu berukuran 15.900 meter persegi.

Ruang terbuka itu juga bisa ditemukan di Masjid Istiqlal Jakarta. Letak pintu utama dari masjid ini berada di bagian timur. Sedangkan, untuk pintu masuk sekundernya berada di sisi utama dan selatan.
 
Sementara itu, pada bagian muka masjid, hadir sebuah kolam yang berbentuk persegi panjang. Di kedua sisi kolam itu ditumbuhi oleh deretan pepohonan yang membuatnya terlihat asri.

Pola penataan kolam ini menjadi salah satu ciri dari
gaya bangunan Mughal. Model semacam ini juga terlihat pada bangunan Taj Mahal yang menjadi salah satu peninggalan dari Shah Jahan.
 
Selepas melintas kolam, para pengunjung akan bisa melihat deretan arcade. Model lengkungan ini memberinya seperti kesan sebuah gerbang. Pada bagian ini, warna merah bata terlihat begitu dominan.

Warna merah bata ini kemudian diselingi pula oleh warna putih. Keduanya membentuk semacam garis-garis horizontal yang menghiasi tampilan muka serta bagian selasar dari bangunan ini.
 
Pada bagian ini, terdapat pula warna biru dan kuning. Warna biru ini menghiasi ruang yang ada di bagian luar dari bentuk lengkungan. Warna biru ini menghiasi pula motif bunga. Sedangkan, pada bagian warna kuning terdapat tulisan kaligrafi berbahasa Arab.
 
Permainan geometris

Pada saat menyusuri bagian selasar, terlihat pilar-pilar besar yang menopang masjid ini hingga memberikannya kesan kokoh. Namun, saat berada di bagian ini, pandangan justru dibuatnya tersedot untuk melihat permainan warna merah, putih, dan biru yang menghiasi bagian langit-langitnya.

Tampilan tersebut terlihat menjadi lebih memikat ketika tepat di bawah kubah-kubah berukuran kecil yang ada di bagian selasar masjid tersebut. Umumnya, pada bagian ini dihiasi dengan garis merah dan putih yang membentuk lingkaran menyesuaikan dengan pola bentuk kubah, yakni semakin ke bagian atas lingkaran tersebut menjadi lebih mengecil.

Lantas, ketika memasuki ke bagian dalam, terlihat pula adanya ciri dari gaya arsitektur Persia. Ini ditandai dengan hadirnya keramik atau marmer bermotif berwarna biru.

Dalam sejumlah catatan, disebutkan bahwa
arsitektur Mughal ini sesungguhnya merupakan bentuk pengayaan dari gaya arsitektur Persia. Masjid ini memperlihatkannya lewat paduan gaya arsitektur Persia dengan gaya lokal.

Setelah berada di dalam masjid, tak salah pula jika perhatian mata akan langsung mendongakkan kepala ke bagian atas masjid. Terutama, untuk melihat bagian bawah kubah masjid.

Di bagian ini tersaji ornamen seni yang dibuat secara detail. Ornamen ini dibuat begitu simetris dan berulang hingga memberinya sebuah bentuk ruang. Permainan garis simetris tersebut ditimpali juga dengan paduan warna putih, biru, serta warna sejenis kuning.

Pola ornamen semacam ini kerap pula menjadi ciri utama dari peninggalan Kekaisaran Ottoman atau Turki Usmani.
 
Saat berada di dalam masjid ini, Anda tak perlu merasa cemas jika sedang berada di bagian belakang. Masjid ini rupanya dikonsep dengan tata akustik suara yang cukup apik.

Alhasil, para jamaah yang berada di areal masjid ini akan bisa mendengar jelas suara imam ketika ia sedang memimpin shalat atau pembicaraan orang lain yang ada di lorong berjauhan dengan kita.
 
Inilah sebuah mahakarya agung yang hingga disajikan Shah Jahan. Ia berkuasa tak hanya sekadar untuk memenuhi hasrat memimpin, tapi juga ia telah meninggalkan sebuah rekam jejak sejarah, terutama dalam perkembangan seni arsitektur yang membuatnya akan selalu dikenang oleh generasi berikutnya.

Oleh Mohammad Akbar
yy/republika.co.id