22 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 28 Oktober 2021

basmalah.png

Istana Golestan Jejak Imperium Persia Islam

Istana Golestan Jejak Imperium Persia Islam

Fiqhislam.com - Islam telah memberi corak baru dalam gaya arsitektur imperium Persia di kawasan Iran.

Salah satu mahakarya arsitektur Islam di tanah taklukan Khalid bin Walid pada masa Islam Khulafaur Rasyidin ini adalah Istana Golestan.

Istana ini menyimpan sejarah panjang perkembangan dan penaklukan berbagai dinasti di Iran selama masa kekuasaan Islam abad pertengahan hingga modern.

Salah satu peninggalan yang saat ini masih terlihat di istana ini adalah integrasi karya seni bangunan zaman Persia awal dengan bangunan bergaya Barat.

Istana berbenteng ini merupakan salah satu bangunan tertua di Teheran, Iran. Istana ini pernah menjadi pusat pemerintahan Dinasti Qajar (1781-1925) dan sukses membesarkan Teheran hingga menjadi ibu kota negara ini.

Istana ini dibangun sarat dengan suasana alam, penuh dengan taman bunga, dan dilengkapi dengan kolam-kolam saluran air yang umum pada bangunan istana Islam pada abad pertengahan.

Sebagian besar sisi bangunan istana menampilkan ornamen campuran yang kaya dengan karya seni tradisional Persia dan unsur arsitektur abad ke-19. Hal ini menjadikan seniman dan arsitek Iran mengagumi bangunan istana ini dan menjadikannya sumber inspirasi bangunan khas Iran hingga saat ini.

Istana Golestan terdapat di wilayah paling tua dan bersejarah di jantung Kota Teheran. Istana ini yang dibangun pada awal Dinasti Safawiyah (1501-1736 Masehi) dengan model kota yang dikelilingi benteng.

Saat bangunan istana menjadi pusat pemerintahan Dinasti Qajar (1781-1925 Masehi), bangunan ini kemudian mengalami pengembangan dan pemugaran dengan penambahan sentuhan khas abad ke-19.

Saat ini, Istana Golestan memiliki delapan struktur bangunan kunci yang mana sebagian besar bangunan kini telah digunakan sebagai museum dan pusat taman hijau yang terlindung oleh kokohnya tembok istana.

Sentuhan Eropa
Dinasti Qajar adalah yang pertama kali memodifikasi arsitektur Istana Golestan ini dengan motif Victoria Eropa pada dekorasi interiornya.

Pengembangan dan renovasi pada era Dinasti Qajar ini untuk penggunaan tempat pemerintahan dan lokasi rekreasi raja-raja era Dinasti Qajar pada abad ke-19.

Istana Golestan merupakan bukti sejarah kayanya seni dekoratif pada era Dinasti Qajar, terutama warisan dari peninggalan seni Naser al-Din Shah Qajar (1848-1896), yang merupakan raja keempat dari Dinasti Shah Qajar Persia.

Istana ini pun menjadi pioner awal kemunculan gaya bangunan artistik modern Iran yang dipengaruhi nilai-nilai seni arsitektur Persia kuno dan gaya bangunan kontemporer Barat. Ini terlihat dengan cara pembangunan yang mengadaptasi penggunaan teknologi yang berkembang saat ini, seperti penggunaan besi cor untuk menahan beban.

Walaupun nilai arsitektur Istana Golestan era Dinasti Qajar dinilai lebih kaya unsur seni dibanding era kepemimpinan Shah Iran sebelumnya. Struktur arsitektur istana ini tetap mempertahankan keaslian dalam desain dan tata letak dekorasi Fasad, baik interior maupun eksteriornya.

Pada 1930, untuk memastikan situs bersejarah ini tetap dipertahankan, kompleks bangunan istana ini diklasifikasikan sebagai monumen nasional. Kemudian, pada 2012, UNESCO telah menetapkan Istana Golestan beserta warisan mahakarya dan taman-taman di dalamnya menjadi situs warisan dunia.

Istana Golestan atau dalam bahasa Persia, Kakheh Golestan, adalah kompleks kerajaan Dinasti Qajar (1794-1925).

Istana ini merupakan bangunan bersejarah yang masih tersisa dari masa kegemilangan Teheran sejak era Dinasti Safawiyah (1501-1736) dari masa-masa imperium Persia. Dibangun pertama kali oleh Karim Khan Zand, seorang suksesor Shah yang kemudian mendirikan Dinasti Zand (1750-1794).

Benteng Arg—dalam bahasa Persia—kemudian dimodifikasi ulang pada era raja-raja Dinasti Qajar.

Bangunan ini sebagian besar difungsikan sebagai tempat tinggal dan kantor kerajaan dengan dua pembagian interior dan eksterior.

Seperempat ekterior bangunan istana ini terpisah dengan bagian administrasi istana dan bagian kebun mawar yang dikenal dengan istilah Golestan. Dari sinilah nama istana tersebut berasal.

Kedua bagian ini terpisahkan oleh beberapa bangunan yang merupakan bangunan asrama bagi para selir yang kemudian hancur ketika runtuhnya imperium Persia terakhir Iran, Dinasti Pahlevi (1925-1979).

Terdapat dua kebun yang terhubung, yang lebih kecil di sebelah barat dan yang lebih besar sebelah timur. Taman kecil di sebelah barat istana ini dinamakan Taman Takht e Marmar sedangkan taman yang lebih besar yang disebut Taman Golestan.

Takht e Marmar adalah sebuah singgasana marmer yang dibuat pada masa Fath Ali Shah (1797-1834), Shah kedua pada Dinasti Qajar.

Di antara keduanya terdapat bangunan air mancur (Howz Khaneh) dengan saluran air mengalir harmonis di tengah taman. Menuju akses utama dari halaman Panzdah Khordad di sudut barat bangunan ini, segera dapat memandang kolam renang memanjang hingga Taman Takht e Marmar.

Di sisi barat Taman Takht-i Marmar dipisahkan oleh tembok jalan Davar. Sepanjang sisi timurnya, taman ini terbuka pemandangan Taman Golestan dan di sudut tenggara yang satu Kakh e Ab'yaz terletak.

Ke arah timur, dapat dilihat relung dinding melengkung dihiasi dengan ubin polikrom. Tembok ini mengarah ke Shams al-Imarat yang terletak di bagian selatan dinding timur Taman Golestan.

Selama era Dinasti Pahlevi, Istana Golestan digunakan untuk kegiatan acara formal kerajaan hingga Shah terakhir Iran, Mohammad Reza Pahlavi.

Ia kemudian menyelesaikan bangunan komplek Istana Niavaran sebagai kompleks istana baru. Salah satu acara seremonial paling penting yang pernah dilakukan di Istana Golestan ini adalah dua Shah Pahlevi.

Reza Khan Pahlevi (1925-1941) sebagai Shah pertama Dinasti Pahlevi dan Mohammad Reza Pahlevi sebagai Shah kedua dan sekaligus terakhir sebelum akhirnya terjadi Revolusi Islam Iran pada 1979.

Pada masa Reza Khan Pahlevi, antara 1925-1945, sebagian besar bangunan istana dan peninggalan Dinasti Qajar dihancurkan dengan alasan pembangunan gaya bangunan modern.

Pembangunan dan pengembangan kompleks Istana Golestan terus terjadi selama lima abad, bersamaan dengan pertumbuhan dan ekspansi Teheran sebagai ibu kota Iran.

Bangunan kompleks telah dibangun dan dimodifikasi selama empat dinasti yang berbeda, di antaranya, Dinasti Safawi, Zand, Qajar, hingga Pahlevi.

Alhasil, Istana Golestan pun muncul dengan bangunan yang memiliki sejarah 400 tahun penuh konstruksi dan renovasi.

Ini membuat bangunan istana memiliki kisah sejarah unik dalam setiap sisi arsitekturnya, penuh dengan gaya kontemporer perpaduan Persia kuno dan era modern.

Oleh Amri Amrullah
yy/republika