14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Jalan Panjang Islam di India

Jalan Panjang Islam di India

Fiqhislam.com - Islam memang bukan agama mayoritas di India. Meski demikian, Islam telah hadir di negeri Hindustan itu sejak ribuan tahun silam dan telah memberikan kontribusi sangat besar bagi negara ini.

Saat ini, seperti dilansir onislam.net, Islam merupakan agama terbesar kedua di India setelah Hindu. Data menunjukkan, kaum Muslimin di India mencapai 175 juta jiwa atau 14,5 persen dari total populasi negeri di Asia Selatan itu. Angka itu menjadikan India sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar ketika di dunia setelah Indonesia dan Pakistan.

Keberadaan Islam di India telah melewati rentang sejarah yang sangat panjang. Ada banyak versi tentang masuknya Islam ke India. Menurut salah satu versi, Islam pertama kali tiba di India pada abad ke-7 M. Adalah Malik Ibnu Dinar dan 20 sahabat Rasulullah SAW yang kali pertama menyebarkan ajaran Islam di negeri itu. Saat itu, Malik dan sahabatnya menginjakkan kaki di Kodungallur, Kerala.

Konon, dari wilayah itulah Islam menyebar ke seantero India. Malik lalu membangun masjid pertama di daratan India, yakni di wilayah Kerala. Masjid pertama yang dibangun kaum Muslimin itu berbentuk mirip candi, tempat ibadah umat Hindu. Diyakini, masjid itu dibangun pada 629 M.

Dalam versi lain, masjid pertama di India itu dibangun oleh Cheraman Perumal Bhaskara Ravi Varma, seorang Muslim berdarah India. Sesuai dengan nama orang yang membangun, masjid di Kerala tersebut diberi nama Masjid Cheraman Juma.

Sejumlah catatan sejarah menyebut, masuknya Islam di India dibawa oleh para pedagang Arab. Dari tanah Arab, mereka berlayar ke pantai barat India untuk berdagang. Berbagai macam barang mereka perdagangkan, mulai dari rempah-rempah, emas, sampai aneka barang dari Afrika.

Sembari berdagang, mereka juga menyebarkan agama Allah SWT ini di wilayah pesisir yang dekat dengan daerah perdagangan mereka. Melalui aktivitas perdagangan antara para saudagar Muslim Arab dan India, Islam terus menyebar di pesisir dan kota-kota di India.

Selain kontribusi para pedagang Muslim dari Arab, penyebaran Islam di India juga ditopang oleh ekspansi yang dilakukan kaum Muslimin pada masa kekhalifahan Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sejarah mencatat, pada 711 M Bani Umayyah menunjuk seorang pemuda berusia 17 tahun bernama Muhammad bin Qasim untuk memperluas kekuasaan Umayyah di wilayah Sindh. Wilayah ini berada di sekitar Sungai Indus di bagian utara India (sekarang Pakistan).

Muhammad bin Qasim pun memimpin pasukannya yang terdiri atas 6.000 tentara. Untuk menjangkau dan menguasai Sindh, ia dan pasukannya mengawali langkah dari Makran, sebuah kawasan di bagian timur Persia.

Ketika sampai di Nerun, sebuah kota di tepian Sungai Indus, pasukan Muslim ini disambut hangat oleh warga dan para biarawan Buddha yang menghuni kota itu. Mereka menerima kehadiran pasukan yang dipimpin Muhammad bin Qasim tersebut tanpa pertempuran.

Kendati sebagian besar warga dan biarawan Buddha menyambut baik pasukan Muslim tersebut, tak demikian halnya dengan pemimpin mereka, yakni Raja Sindh Dahir. Sang raja sangat menentang ekspansi Muslim. Karena itu, ia pun mengerahkan pasukan untuk menghadang Muhammad bin Qasim.

Akhirnya, peperangan pun tak terelakkan. Beruntung, dalam peperangan yang berkobar pada 712 M tersebut, pasukan Muslim utusan Bani Umayyah itu berhasil merebut kemenangan. Kemenangan itu membuat seluruh wilayah Sindh berada di bawah kendali Muslim.

Meski berhasil menguasai wilayah Sindh, penduduk setempat tidak dipaksa sama sekali untuk masuk Islam. Mereka dibebaskan untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti sebelumnya, termasuk dalam beragama. Kepada seluruh warga, baik yang memeluk Hindu maupun Buddha, Muhammad bin Qasim dengan lantang berjanji akan memberikan jaminan keamanan dan kebebasan beragama.

Sebagai contoh, warga dari kasta brahmana tetap meneruskan pekerjaan mereka sebagai pemungut pajak. Sedangkan, biarawan Buddha tetap meneruskan aktivitas mereka sebelumnya, yakni mengelola biara-biara. Toleransi beragama tersebut, Sindh pun menjadi kota yang aman dan adil.

Tak berhenti di Sindh. Pada masa-masa berikutnya, gelombang tentara Muslim menembus berbagai wilayah di India dengan pola yang sama. Mereka memperluas dan memperkuat domain politik Islam tanpa mengubah struktur keagamaan dan sosial masyarakat setempat.

Sebelum Islam datang, masyarakat India sudah hidup dalam sistem kasta. Dalam sistem ini, masyarakat dipecah menjadi bagian-bagian yang terpisah. Nah, ketika Islam hadir, masyarakat setempat melihat sesuatu yang berbeda. Banyak dari mereka memandang kesetaraan yang diajarkan Islam jauh lebih menarik ketimbang sistem kasta.

Dalam sistem kasta, "siapa Anda" dan "dari siapa dilahirkan" sangat penting untuk menentukan posisinya dalam masyarakat. Tidak ada peluang bagi seseorang untuk menempati kelas sosial yang lebih tinggi dibanding orang tuanya.

Sebaliknya dalam Islam, setiap orang memiliki peluang untuk bertindak sesuai keinginannya dan mencapai puncaknya dalam masyarakat tanpa melihat bibit, bebet, dan bobotnya.

Buddhisme Tergusur

Akhirnya, Buddhisme yang pernah sangat populer di India, perlahan-lahan mati di bawah kekuasaan Islam. Hal ini karena Islam menoleransi semua penganut agama Buddha di bawah kekuasaannya. Dulu, ketika orang ingin melarikan diri dari sistem kasta, mereka akan pindah ke pusat-pusat populasi besar yang bernaung di bawah Buddhisme. Namun, ketika Islam datang, mereka yang tak suka dengan sistem kasta lebih memilih Islam ketimbang Buddha. Mengapa? Sebab, mereka melihat Islam sebagai agama pembawa kedamaian.

Tak hanya lewat jalur perdagangan, guru dan cendekiawan juga berperan penting dalam menyebarkan Islam ke seluruh penjuru India. Tak hanya di perkotaan, tapi juga di pedesaan. Para cendekiawan ini melanglang ke berbagai pelosok India untuk mengenalkan dan mengajarkan Islam. Banyak dari mereka mengajarkan ilmu tasawuf dengan cara dan pendekatan menarik sehingga menumbuhkan minat serta perhatian masyarakat.

Tanpa Kekerasan dan Pemaksaan

Ada tudingan bahwa eksistensi Islam di India merupakan buah dari kekerasan dan pemaksaan. Benarkah itu? 

Sejauh ini, tak ada bukti kuat yang mendukung tudingan itu. Memang benar, sebagian besar wilayah di India, para pemimpin Muslim melengserkan kekuasaan raja-raja Hindu. Namun, hal itu dilakukan tanpa kekerasan dan pemaksaan. Semua dilakukan secara halus dan damai.

Lagi pula, jika Islam menyebar melalui jalan kekerasan, masyarakat India tak akan bersimpati pada agama Rahmatan lil alamin ini. Jangankan memeluknya, mereka tentu akan mengenyahkannya. Namun yang terjadi, mereka justru dengan sukarela memeluk Islam. Hal ini tak hanya terjadi di India Barat, yang menjadi pusat kekuasaan Islam, tapi juga di wilayah-wilayah lainnya di negeri Hindustan.

Dapat disimpulkan bahwa Islam merupakan bagian integral yang tak dapat dipisahkan dari India dan sejarahnya. Kini, Islam pun menempati posisi yang kuat di negeri multietnis dan multiagama itu.

yy/republika